HAJI WADA’

Standar
HAJI WADA’

Oleh: Azizah az Zahra, Sely Tarlinah, Mujahidah Rasyidah Ahmad

       I.            PENDAHULUAN

Rasulullah termasuk Nabi yang menikmati hasil perjuangannya di dunia. Di akhir hayatnya, tugas yang dibebankan di pundak beliau terlaksana dengan sempurna. Visi besar beliau menebar rahmat buat alam semesta dengan menanamkan akhlak Islam di seluruh sector kehidupan telah dirasakan oleh dunia yang bersentuhan dengan Islam. Wajar jika Allah memberikan penghargaan kepada generasi yang dikader Rasulullah dengan gelar “khairu ummah”.[1]

Di bulan-bulan terakhir kenabian, disebutkan dalam buku Pengantar Sejarah Dakwah yang ditulis oleh Wahyu Ilahi dan Harjani Hefni, ada beberapa kegiatan yang Rasulullah SAW laksanakan, diantaranya melaksanakan Haji Wada’ dan mengirim ekspedisi ke Romawi.

Dalam makalah ini, kami selaku penulis akan membahas seputar Haji Wada. Haji Wada’ memiliki arti haji perpisahan (antara Rasulullah SAW dengan ummatnya) yang dilaksanakan pada tahun ke-10 Hijriyyah.[2]

Haji Wada’ merupakan salah satu peristiwa yang syarat akan hikmah dan makna. Kisahnya pun dikenang sepanjang masa di dalam kitab-kitab sirah Nabi Muhammad SAW. Muhammad Natsir dalam bukunya yang berjudul Fiqhud Da’wah menamakan peristiwa ini dengan peristiwa “Timbang Terima Da’wah”.[3]

    II.            PERISTIWA DAN PESAN PENTING NABI MUHAMMAD SAW PADA HAJI WADA[4]

Menjelang bulan Dzul Qa’dah, Rasulullah segera bersiap-siap untuk menunaikan ibadah haji dan memerintahkan kaum muslimin untuk bersiap-siap.[5]

Rasulullah mengerjakan shalat zhuhur pada hari kamis, enam hari terakhir di bulan Dzul Qa’dah tahun 10 H di Madinah. Setelah itu beliau berangkat bersama kaum muslimin dari kalangan penduduk Madinah dan kaum Badui yang berhasil dikumpulkannya, mereka melakukan shalat ashar di Dzul Hulaifah dan bermalam disana. Kemudian, datanglah utusan Allah SWT (Jibril) menemui nabi di tempat tersebut, yaitu di lembah Al-‘Aqiq, untuk menyampaikan perintah Allah, yaitu agar beliau mengucapkan dalam hajinya: “kami berniat haji dan umrah (حجة فى عمرة)”[6]

Pada hari kedelapan Zulhijjah, yaitu Hari Tarwiah, Muhammad SAW pergi ke Mina. Selama sehari itu sambil melakukan kewajiban salat ia tinggal dalam kemahnya. Begitu juga malamnya, sampai pada waktu fajar menyingsing pada hari haji. Selesai salat subuh, dengan menunggang untanya al-Qashwa’ tatkala matahari mulai tersembul ia menuju arah ke gunung ‘Arafat. Arus-manusia dari belakang mengikutinya. Ketika ia sudah mendaki gunung itu dengan dikelilingi oleh ribuan kaum Muslimin yang mengikuti perjalanannya – ada yang mengucapkan talbiah, ada yang bertakbir, sambil ia mendengarkan mereka itu, dan membiarkan mereka masing-masing.

Mereka terus berjalan seraya bertakbir dengan suara bergelombang, berirama dan bersahut-sahutan serta menyerukan Talbiyah :

لبيك الله اللهم لبيك, لبيك لا شريك لك لبيك           اشن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك

“Inilah kami Ya Tuhan kami, memnuhi penggilan dan perintah Mu, Tidak ada sekutu bagi Mu. Sesungguhnya segalah puji dan nikmat adalah bagiMu dan Tidak ada yang menyekutui kekuasaanMu”[7]

Di Namira, sebuah desa sebelah timur ‘Arafat, telah pula dipasang sebuah kemah buat Nabi, atas permintaannya. Bila matahari sudah tergelincir, dimintanya untanya al-Qashwa, dan ia berangkat lagi sampai di perut wadi di bilangan ‘Urana. Di tempat itulah manusia dipanggilnya, sambil ia masih di atas unta, dengan suara lantang; tapi sungguhpun begitu masih diulang oleh Rabi’a bin Umayya bin Khalaf.

Setelah mengucapkan syukur dan puji kepada Allah dengan berhenti pada setiap anak kalimat ia berkata,

“Wahai manusia sekalian! perhatikanlah kata-kataku ini! Aku tidak tahu, kalau-kalau sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, tidak lagi aku akan bertemu dengan kamu sekalian.

“Saudara-saudara! Bahwasanya darah kamu dan harta-benda kamu sekalian adalah suci buat kamu, seperti hari ini dan bulan ini yang suci sampai datang masanya kamu sekalian menghadap Tuhan. Dan pasti kamu akan menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggung-jawaban atas segala perbuatanmu. Ya, aku sudah menyampaikan ini!

“Barangsiapa telah diserahi amanat, tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya.

“Bahwa semua riba sudah tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap orang lain, dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tidak boleh lagi ada riba dan bahwa riba ‘Abbas bin  ‘Abd’l-Muttalib semua sudah tidak berlaku.

“Bahwa semua tuntutan darah selama masa jahiliah tidak berlaku lagi, dan bahwa tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah Ibn Rabi’a bin’l Harith bin ‘Abd’l-Muttalib!

“Kemudian daripada itu saudara-saudara. Hari ini nafsu setan yang minta disembah di negeri ini sudah putus buat selama-lamanya. Tetapi, kalau kamu turutkan dia walau pun dalam hal yang kamu anggap kecil, yang berarti merendahkan segala amal perbuatanmu, niscaya akan senanglah dia. Oleh karena itu peliharalah agamamu ini baik-baik.

“Saudara-saudara. Menunda-nunda berlakunya larangan bulan suci berarti memperbesar kekufuran. Dengan itu orang-orang kafir itu tersesat. Pada satu tahun mereka langgar dan pada tahun lain mereka sucikan, untuk disesuaikan dengan jumlah yang sudah disucikan Tuhan. Kemudian mereka menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah dan mengharamkan mana yang sudah dihalalkan.

“Zaman itu berputar sejak Allah menciptakan langit dan bumi ini. Jumlah bilangan bulan menurut Tuhan ada duabelas bulan, empat bulan di antaranya ialah bulan suci, tiga bulan berturut-turut dan bulan Rajab itu antara bulan Jumadilakhir dan Sya’ban.

“Kemudian daripada itu, saudara-saudara. Sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu, juga isterimu sama mempunyai hak atas kamu. Hak kamu-atas mereka ialah untuk tidak mengijinkan orang yang tidak kamu sukai menginjakkan kaki ke atas lantaimu, dan jangan sampai mereka secara jelas membawa perbuatan keji. Kalau sampai mereka melakukan semua itu Tuhan mengijinkan kamu berpisah tempat tidur dengan mereka dan boleh memukul mereka dengan suatu pukulan yang tidak sampai mengganggu. Bila mereka sudah tidak lagi melakukan itu, maka kewajiban kamulah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan sopan-santun. Berlaku baiklah terhadap isteri kamu, mereka itu kawan-kawan yang membantumu, mereka tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka. Kamu mengambil mereka sebagai amanat Tuhan, dan kehormatan mereka dihalalkan buat kamu dengan nama Tuhan.

“Perhatikanlah kata-kataku ini, saudara-saudara. Aku sudah menyampaikan ini. Ada masalah yang sudah jelas kutinggalkan ditangan kamu, yang jika kamu pegang teguh, kamu takkan sesat selama-lamanya – Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

“Wahai Manusia sekalian! Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan! Kamu akan mengerti, bahwa setiap Muslim adalah saudara buat Muslim yang lain, dan kaum Muslimin semua bersaudara. Tetapi seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.

“Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?”

Sementara Nabi mengucapkan itu Rabi’a mengulanginya kalimat demi kalimat, sambil meminta kepada orang banyak itu menjaganya dengan penuh kesadaran. Nabi juga menugaskan dia supaya menanyai mereka misalnya: Rasulullah bertanya “hari apakah ini? Mereka menjawab: Hari Haji Akbar! Nabi bertanya lagi: “Katakan kepada mereka, bahwa darah dan harta kamu oleh Tuhan disucikan, seperti hari ini yang suci, sampai datang masanya kamu sekalian bertemu Tuhan.”

Setelah sampai pada penutup kata-katanya itu ia berkata lagi:

“Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?!”

Maka serentak dari segenap penjuru orang menjawab: “Ya!”

Lalu katanya: “Ya Allah, saksikanlah ini!”

Selesai Nabi mengucapkan pidato ia turun dari al-Qashwa’ – untanya itu. Ia masih di tempat itu juga sampai pada waktu shalat zhuhur dan asar. Kemudian menaiki kembali untanya menuju Shakharat. Pada waktu itulah Nahi a.s. membacakan firman Allah ini kepada mereka:

  “Hari inilah Kusempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian dengan Kucukupkan NikmatKu kepada kamu, dan yang Kusukai Islam inilah menjadi agama kamu.” (Qur’an, 5: 3)

Abu Bakr ketika mendengarkan ayat itu ia menangis, ia merasa, bahwa risalah Nabi sudah selesai dan sudah dekat pula saatnya Nabi hendak menghadap Tuhan.

Setelah meninggalkan Arafat malam itu Nabi bermalam di Muzdalifa. Pagi-pagi ia bangun dan turun ke Masy’ar’l-Haram. Kemudian ia pergi ke Mina dan dalam perjalanan itu ia melemparkan batu-batu kerikil. Bila sudah sampai di kemah ia menyembelih 63 ekor unta, setiap seekor unta untuk satu tahun umurnya, dan yang selebihnya dari jumlah seratus ekor unta kurban yang dibawa Nabi sewaktu keluar dari Medinah – disembelih oleh Ali. Kemudian Nabi mencukur rambut dan menyelesaikan ibadah hajinya.

Setelah manasik haji dilaksanakan, beliau memerintahkan untuk kembali ke Madinah Al-Munawwarah, tanpa mengambil waktu untuk istirahat, agar perjuangan ini terasa murni karena Allah dan di jalan-Nya.[8]

Dengan selesainya ibadah haji ini, ada orang yang menamakannya ‘Ibadah haji perpisahan’ yang lain menyebutkan ‘ibadah haji penyampaian’ ada lagi yang mengatakan ‘ibadah haji Islam.’. Nama-nama itu memang benar semua. Disebut ‘ibadah haji perpisahan’ karena ini yang penghabisan kali Muhammad melihat Mekah dan Ka’bah.

 III.            KANDUNGAN DAN HIKMAH PERISTIWA HAJI WADA’

Mohammad Natsir dalam bukunya, beliau menyampaikan beberapa inti dari peristiwa tersebut. Menurut beliau :

  1. Risalah sudah khatam, lengkap dan sempurna, sebagai karunia dari Kahliq dan sebagai Agama yang diridhaiNya.
  2. Rasulullah sudah menyampaikan risalah itu, disaksikan oleh ribuan Ummat di padang Arafah, sedangkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam memohon agar Allah meyaksikan penyaksian Ummatnya.
  3. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sudah mewasiatkian kepada yang hadir, menyaksikan menyampaikan kepada yang tidak hadir. Yang sudah mendengar menyampaikan kepada yang kepada yang belum mendengar. Yang sudah tahu menyampaikan  kepada yang belum tahu, di manapun mereka berada, turun menurun terus menerus dari masa ke masa.[9]

Dan beliau juga menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam  sebagai pembawa risalah memberikan pesan kepada Ummatnya yang hadir pada saat itu,yang dirasa sebagai sebuah perpisahan. Pesannya yaitu, diantaranya:

  1. Kewajiban menyempurnakan amanah (baik yang berupa materi ataupun tugas dan janji)
  2. Ketentuan mengenai penghapusan riba’yang memeras kaum lemah.
  3. Penegasan hak-hak dan kewajiban kaum wanita umumnya, serta hak dan kewajiban timbal balik antara suami dan isteri.
  4. Pemeliharaan tali ukhuwah Islamiyah antara sama seiman.
  5. Persamaan hak dan hak martabat manusia, tanpa memandang bangsa dan warna kulit.

Badri Yatim (menukil dari: Fazlur Rahman, Islam, Bandung : Penerbit Pustaka, 1984, hal. 16) menulis dalam bukunya bahwa dalam kesempatan menunaikan ibadah haji yang terakhir, haji wada’ tahun 10 H (631 M) Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam menyampaikan khutbahnya yang sangat bersejarah. Isi khutbahnya itu antara lain yaitu: larangan menumpahkan darah kecuali dengan haq dan larangan mengambil harta orang lain dengan batil. Karena nyawa dan harta benda adalah suci. Larangan riba dan larangan menganiaya, perintah untuk memperlakukan isteri dengan baik dan lemah lembut dan perintah menjauhi dosa, semua pertengkaran antara mereka di zaman jahiliyah harus saling dimaafkan, balas dendam dengan tebusan darah sebagaimana berlaku di zaman jahiliyah tidak lagi dibenarkan, persaudaraan dan persamaan di antara manusia harus ditegakkan, hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, mereka makan seperti apa yang dimakan tuannya dan memakai seperti apa yang dipakai tuannya dan yang terpenting adalah ummat Islam harus selalu berpegang teguh kepada dua sumber yang tidak pernah using, Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallahu ‘alaihi wassalam. Isi khutbah ini merupakan prinsip-prinsip yang mendasari gerakan Islam. Selanjutnya, prinsip-prinsip itu bila disimpulkan adalah kemanusiaan, persamaan, keadilan, sosial, keadilan ekonomi, kebajikan dan solidaritas.[10]

Kemudian tak ketinggalan pula Rasulullah Shalallu ‘alaihi wassalam memperingatkan supaya selalu bersikap awas terhadap umbuk umbai dan  rayuan syaithan (para iblis berbentuk manusia) yang selalu mencoba menggoda siapa saja diantara mereka sekalipun telah mendapat petunjuk.[11]

Kita tahu dalam Surat Al-Maidah ayat 3 dianggap sebagai ayat penutup karena ditandai oleh berakhirnya sebuah Risalah sehingga membuat seluruh Ummat yang hadir merasakan perpisahan dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sudah semakin dekat. Para sahabat menangis terutama Abu Bakar Ash-Shidiq yang selama 23 tahun berada di dekat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassala  dalam suka maupun duka.[12]

Dalam ibadah haji ini pula, Rasulullah SAW mengajarkan manasik haji kepada kaum muslimin, menjelaskan sunnah-sunnah haji kepada mereka dan berkhutbah kepada mereka menjelaskan yang perlu dijelaskan.[13]

 IV.            KESIMPULAN

Rasulullah SAW diutus untuk menyampaikan risalah dari Allah. Al-Quran dan Sunnah telah sampai dari beliau. Beliau adalah da’i yang paling sukses sepanjang zaman. Da’wahnya bisa kita nikmati hingga saat ini. Beliau adalah suri tauladan yang baik, tak pernah beliau menyembunyikan kebenaran yang termasuk di dalamnya mengajarkan manasik haji dalam kesempatan Haji Wada’ yang telah ditulis sebelumnya.

Khutbah beliau dalam haji wada’ sangat tegas. Kandungannya syarat makna. Kalaulah semua itu dikerjakan oleh Ummat Muslim sedunia, insya Allah kehidupan akan aman dan damai.

Dahulu belum ada pengeras suara. Rasulullah dibantu sahabat dalam khutbahnya. Rasulullah saat itu sangat menguasai audiens. Kita saat ini hendaknya memperhatikan metode-metode da’wah yang tersurat di dalam Haji Wada’ itu. Yang diantaranya adalah: menghidupkan audiens dengan pembahasan yang pas dan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mampu membuat perhatian audiens tertuju pada kita.

Wallaahu a’lam bish-showwab.

    V.            DAFTAR PUSTAKA

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2010

Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, As-Siiroh An-Nabawiyyah, Terj. Samson Rahman, Jakarta: Akbar Media, 2012.

Ibnu Katsir, Al-Fushuul Fii Siiratir Rasuul, Terj. Abu Ihsan Al-Atsari, Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2010.

Muhammad Husain Haikal, Hayaatu Muhammad, Terj: Ali Audah, Jakarta: Alitera Antar Nusa, 2009

Muhammad Natsir, Fiqhud Da’wah, Jakarta: Kapita Selecta Da’wah dan Media Da’wah, 2008.

Shafiyyur Rahman Al-Mubarokfury, Ar-Rahiiqul Makhtuum,  Terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003.

Tim Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:  PT Media Pustaka Phoenix Jakarta, 2009.

Wahyu Ilahi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007.


[1] Wahyu Ilahi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007, cet. I, hal. 72

[2] Tim Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:  PT Media Pustaka Phoenix Jakarta, 2009, cet. IV, hal. 301

[3] Lihat: Muhammad Natsir, Fiqhud Da’wah, Jakarta: Kapita Selecta Da’wah dan Media Da’wah, 2008, cet. XIII, hal : 119-120.

[4] Sebagian besar pembahasan Peristiwa dan Pesan Penting Nabi Muhammad SAW Pada Haji Wada’ merupakan kutipan dari: Muhammad Husain Haikal, Hayaatu Muhammad, Terj: Ali Audah, Jakarta: Litera Antar Nusa, 2009, cet. XXXVIII, hal. 561-567, kutipan lainnya akan disertakan dengan footnote lainnya.

[5] Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, As-Siiroh An-Nabawiyyah, Terj. Samson Rahman, Jakarta: Akbar Media, 2012, cet. I, hal. 727

[6] Ibnu Katsir, Al-Fushuul Fii Siiratir Rasuul, Terj. Abu Ihsan Al-Atsari, Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2010, cet. I, hal. 233

[7] Muhammad Natsir, ibid.

[8] Shafiyyur Rahman Al-Mubarokfury, Ar-Rahiiqul Makhtuum,  Terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003, cet. XIII, hal. 610

[9] Muhammad Natsir, ibid.

[10] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2010, cet. XXII, hal. 33

[11] Muhammad Natsir, ibid

[12] Muhammad Natsir, ibid.

[13]Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, As-Siiroh An-Nabawiyyah, Terj. Samson Rahman, Jakarta: Akbar Media, 2012, cet. I, hal. 728

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s