PSIKOLOGI dan SOSIOLOGI DA’WAH

Standar

Resume Oleh: Azizah az Zahra

 

PENGERTIAN PSIKOLOGI DAN SOSIOLOGI DA’WAH

Kemunculan sosiologi dan psikologi dalam sebuah disiplin ilmu yaitu sekitar abad ke-19. Istilah sosiologi pertama kalai dicetuskan oleh August Comte tahun 1842.

Psikologi berarti ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat-sifat manusia. Psikologi juga mencangkup pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. Sosiologi berarti ilmu yang mempelajari  masyarakat, perilaku masyarakat dan social. Da’wah berarti mengajak, menyeru, mempengaruhi, memperbaiki. Mengajak disini berarti mengajak manusia untuk berbuat baik sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Psikologi dan sosiologi da’wah ini terdiri dari tiga term yang arti masing-masing telah disebutkan. Jika digabungkan, menjadi ilmu yang mengkaji tentang upaya pemecahan masalah-masalah dakwah dengan pendekatan psikologis dan sosiologis (kejiwaan seseorang dan kemasyarakatan).

DA’WAH ISLAM DAN ARUS DA’WAHNYA

Da’wah tentu berkaitan dengan kegiatan keagamaan. Da’wah Islam sudahlah jelas, sedangkan agama selain Islam terutama mereka yang mengandung faham Barat masih sangat meragukan agama mereka dan terlebih ada di antara mereka yang menyatakan tak beragama karena mereka mencari agama hanya sebatas dengan akal mereka.

Dalam realisasinya, setidaknya da’wah itu memiliki arus da’wah. Arus da’wah itu adalah fungsi, tujuan, target dan cara.

Fungsi da’wah sendiri tidak lain adalah menyampaikan pesan Islam. Dan dari sini kita mengetahui bahwa da’wah dalam berjalannya sangat berkaitan dengan komunikasi. Dan komunikasi yang baik tercipta apabila kita telah memiliki gambaran psikologis dan sosiologis suatu masyarakat.

Adapun tujuan da’wah adalah sampainya pesan Allah. Tersampainya pesan Allah pasti ada proses yang terjadi antara da’i dan mad’u. proses itulah yang dinamakan da’wah.

Target da’wah adalah kesadaran yang ada pada objek da’wah. Dalam rangka menyadarkan seseorang tidaklah mudah. Proses menyadarkan seseorang bukan hanya mendikte objek dengan berbagai materi da’wah. Namun dalam proses penyadaran itu hendaknya da’I mampu melihat situasi kondisi yang nantinya akan berbuah baik dalam proses penyadaran.

Cara da’wah yang efektiv yakni dengan cara pendekatan. Mengenal seseorang atau kelompok masyarakat semestinya tidaklah dilupakan oleh da’i. apabila terlupa, proses akan lebih sulit dan hasilnyapun kemungkinan gagal. Oleh karena itu da’i harus benar-benar memahami bagaimana langkah awal mendekati mad’u.

PROSES DIFUSI INOVASI DALAM DA’WAH

Da’wah juga sangat erat hubungannya dengan komunikasi, karena da’wah sendiri adalah kegiatan menyampaikan pesan Islam seperti yang tertera dalam tulisan di atas. Komunikasi sendiri adalah proses informasi pesan yang sifatnya umum (knowledge and attitude). Komunikasi bisa mencangkup banyak hal termasuk di dalamnya da’wah.

Untuk mencapai sebuah keberhasilan dalam da’wah banyak hal yang harus difahami, salah satunya adalah difusi inovasi. Difusi merupakan proses dimana inovasi tersebar kepada anggota sistem sosial berkenaan dengan gagasan baru yang berkenaan dengan tidak hanya kognitif dan sikap, tetapi tingkah laku. Dan inovasi adalah salah satu faktor pelancar terjadinya perubahan sosial, yang merupakan inti dari pembangunan masyarakat.

Da’wah tidak akan terpisah dari keberadaan da’i dan mad’u. Mad’u secara umum adalah masyarakat. Masyarakat dalam kehidupan terus berubah dari waktu ke waktu karena adanya hubungan (citra kinetic). Di antara citra kinetic itu adalah:

a)      Adanya hubungan antara manusia satu dengan manusia lainnya

b)      Adanya hubungan antara manusia dengan tempat tinggalnya

c)      Adanya hubungan antara manusia dengan barang-barang yang dimilikinya

d)     Adanya hubungan antara manusia dengan pekerjaannya

e)      Adanya hubungan antara manusia dengan ide-idenya.

Da’i hendaknya selalu peka terhadap segala perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Dari situ, dari diharapkan selalu mempelajari perubahan social yang terjadi karena adanya citra kinetic yang tertera di atas agar tujuan da’wah terealisir.

Difusi inovasi dalam pelaksaan da’wah adalah pekerjaan yang diemban seorang da’i. karena da’I adalah pembaharu dan dituntut untuk senantia menambah ilmu yang dimiliki hingga ia mampu menyelesaikan persoalan masyarakat dari waktu ke waktu. Menuntut ilmu bagi da’i akan menumbuhkan inovasi-inovasi baru yang akan sangat bermanfaat untuknya dalam berda’wah karena sebenarnya manusia itu menyukai hal-hal yang baru.

MASYARAKAT DAN TEORI PERTUKARAN

Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang berinteraksi dalam suatu hubungan social. Dalam ilmu kemasyarakatan, ada yang namyanya teori pertukaran. Menurut perspektif pertukaran, manusia selalu melakukan transaksi social yang saling menguntungkan, baik keuntungan materi maupun non-materi. Teori ini dijelaskan oleh Turner (1978) dengan pokok-pokoknya :

v  Manusia berusaha memperoleh keuntungan dari traksaksi social

v  manusia memperhitungkan untung rugi dalam transaksi social

v  manusia menyadari akan adanya sejumlah alternative yang mendorong mereka memperhitungkan untung-rugi

v  manusia bersaing untuk memperolah keuntungan

v  pertukaran yang berorientasi keuntungan berlangsung dalam setiap konteks social, dan

v  individu mempertukarkan komoditas non material seperti perasaan dan jasa (intrinsik).

Akar Teori Pertukaran

  • Behaviorisme : perilaku diubah oleh konsekwensinya.
  • Teori Pilihan Rasional : tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan yg sesuai dengan tindkan pilihan aktor. 2 pemaksa : keterbatasan sumber dan lembaga sosial.

Teori Malinowski (1978) menyimpulkan ;

–     manusia berusaha memenuhi kebutuhan mereka sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi,

–     kepuasan ekonomi dan psikologis merupakan kekuatan yang dapat menjaga keberlangsungan pertukaran,

–     kepuasan pertukaran merupakan factor pengikat antar kelompok dan dapat membentuk jaringan social,

–     pertukaran merupakan factor bagi proses social yang berpengaruh terhadap diferensiasi, integrasi dan kohesivitas masyarakat.

Dari beberapa teori di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa semestinya seorang da’i benar-benar memahami bahwa setiap orang pasti menghitung untung rugi segala hal yang ia kerjakan atau yang akan ia kerjakan. Apabila manusia memandang sesuatu tidak memberi manfaat atau keuntungan, biasanya mereka segera meninggalkan hal tersebut.

Yang harus da’i waspadai dari mad’u adalah menjauhi da’I karena mad’u tidak merasa memperoleh manfaat dari da’i. di antara hal yang harus da’I waspadai adalah ketika da’I mulai acuh tak acuh, terjadi konflik dan memberikan kesan negative. Sebaliknya, seharusnya da’I itu mampu membuat inovasi yang dapat menjadikan adanya hubungan timbal balik antara da’I dan mad’u, adanya keterbukaan dari mad’u, adanya harapan, sikap optimis dan lainnya dari hal-hal positif.

Maka dari itu, untuk mendapatkan hasil yang baik dalam menjalin hubungan adalah dengan cara memahami psikologi dan sosiologi untuk menunjang jalannya da’wah Islam. Dan ini juga merupakan sebab pentingnya belajar psikologi dan sosiologi dalam kampus da’wah.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s