BIOGRAFI IMAM AHMAD BIN HAMBAL

Standar

BIOGRAFI IMAM AHMAD BIN HAMBAL[1]

NAMA DAN NASAB BELIAU

Nama lengkap Imam Ahmad  adalah Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Asy-Syaibany adalah seorang Ahli Fiqh dan Ahli Hadits dan termasuk salah satu dari empat madzhab yang terkenal.

Dia dilahirkan di Baghdad dan tinggal di sana. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil, oleh karena itu ibunya yang bertanggung jawab atasnya dan mengarahkan padanya untuk belajar ilmu Diin. Dia menghafal Al-Quran dan mempelajari Bahasa Arab. Pada umur 15 tahun ia memulai belajar hadits dan menghafalkannya, dan pada usia 20 tahun ia memulai perjalannya menuntut ilmu. Ia pergi ke Kufah, Mekah, Madinah, Syam, Yaman, kemudian pulang kembali ke Baghdad dan belajar di sana dengan Asy-Syafi’i dari tahun 195 sampai 197H, dan ia termasuk murid besar Asy-Syafi’i di Baghdad.


Imam Ahmad terkenal sebagai sosok yang sangat percaya diri, sangat memperhatikan ilmu dan pengalamannya. Selain itu, dia juga terkenal giat dan cerdas, hingga salah seorang gurunya; Haitsam bin Jamil, pernah mengatakan, “Setiap zaman itu mempunyai seseorang yang akan menjadi hujjah bagi masyarakatnya. Kalau anak muda ini (Ahmad) terus hidup, maka dia akan menjadi hujjah bagi masyarakatnya”.[2]

GURU IMAM AHMAD BIN HANBAL

Ahmad bin Hambal telah belajar dari kebanyakan ulama ‘Iraq. Di antara mereka yaitu Ibrahim bin Sa’id, Sufyan bin ‘Uyainah, Yahya bin Sya’id, Yazid bin Harun, Abu Daud Ath-Thoyalisy, Waki’ bin Al-Jaroh dan ‘Abdur Rahman bin Mahdi. Setelah itu ia menjadi Mujtahid dan pemilik salah satu madzhab dan terkenal pada zamannya dalam menjaga sunnah hinggaa menjadi Imam padre Muhaddits pada zamannya. Semua itu terlihat jelas dari Kitabnya “Al-Musnad” yang di dalamnya terdiri dari 40.000 hadits.

Allah telah memberikan Ahmad bin Hanbal kekuatan dalam menghafal dan memberinya keistimewaan. Imam Syafi’i berkata (tetang diri Imam Ahmad):

Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu dan lebih kuat hafalannya daripada Ahmad bin Hambal

UJIAN DAN TANTANGAN

Ujian dan tantangan yang dihadapi Imam Ahmad adalah hempasan badai filsafat atau paham-paham Mu”tazilah yang sudah merasuk di kalangan penguasa, tepatnya di masa al Makmun dengan idenya atas kemakhlukan al Qur’an. Sekalipun Imam Ahmad sadar akan bahaya yang segera menimpanya, namun beliau tetap gigih mempertahankan pendirian dan mematahkan hujjah kaum Mu’tazilah serta mengingatkan akan bahaya filsafat terhadap kemurnian agama. Beliau berkata tegas pada sultan bahwa al Qur’an bukanlah makhluk, sehingga beliau diseret ke penjara. Beliau berada di penjara selama tiga periode kekhlifahan yaitu al Makmun, al Mu’tashim dan terakhir al Watsiq. Setelah al Watsiq tiada, diganti oleh al Mutawakkil yang arif dan bijaksana dan Imam Ahmad pun dibebaskan.

KARYA IMAM AHMAD BIN HANBAL

Salah satu karya besar beliau adalah Al Musnad yang memuat empat puluh ribu hadits. Disamping beliau mengatakannya sebagai kumpulan hadits-hadits shahih dan layak dijadikan hujjah, karya tersebut juga mendapat pengakuan yang hebat dari para ahli hadits.

Al-Musnad menghimpun sekitar empat puluh ribu hadits. Imam Ahmad berkata kepada anaknya, “Jagalah Al-Musnad ini karena nantinya ia akan menjadi Imam (petunjuk). Dan ada yang berpendapat bahwa Musnad ini adalah hasil seleksi dari tujuh ratus ribu hadits.[3]

Ibnul Qayyim menuturkan bahwa Imam Ahmad tidak menyukai menulis buku, dia lebih suka menyampaikan hadits, dan beliau juga tidak menyukai ucapan-ucapan beliau ditulis bahkan beliau bersikap keras akan hal itu. Allah Maha Mengetahui kebaikan niat dan tujuannya, sehingga pada akhirnya ucapan dan fatwa-fatwanya dapat ditulis, yang jumlahnya lebih dari tiga ratus buku.[4]

Selain al Musnad karya beliau yang lain adalah:  Tafsir al Qur’an, An Nasikh wa al Mansukh, Al Muqaddam wa Al Muakhar fi al Qur’an, Jawabat al Qur’an, At Tarih, Al Manasik Al Kabir, Al Manasik Ash Shaghir, Tha’atu Rasul, Al ‘Ilal, Al Wara’ dan Ash Shalah.

WAFATNYA IMAM AHMAD BIN HANBAL

Imam Ahmad  lama mendekam dalam penjara dan dikucilkan dari masyarakat, namun berkat keteguhan dan kesabarannya selain mendapat penghargaan dari sultan juga memperoleh keharuman atas namanya. Ajarannya makin banyak diikuti orang dan madzabnya tersebar di seputar Irak dan Syam. Tidak lama kemudian beliau meninggal karena rasa sakit dan luka yang dibawanya dari penjara semakin parah dan memburuk.

Imam Ahmad bin Hanbal mulai sakit pada malam rabu, dua hari dari bulan Rabi-ul Awwal tahun 241 H. tatkala sakitnya sudah mulai parah dan orang-orang pun mulai mengetahuinya, maka mereka pun menjenguknya siang dan malam.[5]

Dia wafat di kota Baghdad pada hari Jum’at, bulan Rabi-ul awwal tahun 241 H. Pada saat meninggal, dia berusia 77 tahun dan dimakamkan di tempat pemakamannya Abu Harb. Orang-orang yang hadir dalam pemakamannya tidak terhitung jumlahnya. Semoga Allah selalu mencucurkan rahmat-Nya kepada Imam Ahmad bin Hanbal.[6]

DAFTAR PUSTAKA

ü  http://www.mawsoah.net (Al-Mausuu’ah Al-‘Arobiyyah Al-‘Alamiyyah)

ü  Al-Maktabah Asy-Syamilah

ü  Syaikh Muhammad Al-Jamal, Hayaatul A-immah, Terj: M. Kholid Mushlih, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar


[1] Makalah ini sebagian besar adalah hasil menerjemahkan dari http://www.mawsoah.net (Al-Mausuu’ah Al-‘Arobiyyah Al-‘Alamiyyah) yang dinukil pada Maktabah Asy-Syamilah ditambah dengan referensi dari kitab lainnya yang insya Allah disertakan footnotenya.

[2] Syaikh Muhammad Al-Jamal, Hayaatul A-immah, Terj: M. Kholid Mushlih, Jakarta: Pustaka Alkautsar, cet. I, hal. 93

[3]ibid, hal 108

[4] ibid

[5] Ibid, hal. 116

[6] Ibid, hal. 117

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s