PERAHU SOSIAL

Standar

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami, siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat member petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Illah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allaah. Ammaa ba’du:

Allah SWT berfirman dalam surat Al-‘Ashr:

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang mengerjakan amal sholih dan saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Ayat di atas menunjukkan, bahwasannya salah satu ciri orang yang beriman adalah saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Mengapa demikian? Karena jika setiap orang itu telah berada pada kebenaran dan kesabaran niscaya kehidupan dunia akan aman terlebih lagi di akhirat.

Da’wah adalah suatu kebutuhan dasar manusia dan harus dilakukan secara kontinuitas. Karena manusia itu harus selalu diingati sebab kelalaian yang senantiasa meliputinya. Da’wah juga merupakan bagian dari perintah Allah SWT.

Amar ma’ruf nahyi munkar adalah salah satu bentuk dakwah. Dalam makalah ini, penulis akan mengupas tentang sebuah hadits yang berupa permisalan yang telah Rasulullah saw beritahukan kepada kita ummatnya. Perumpamaan kehidupan dan amar ma’ruf nahyi munkar itu seperti para penumpang dalam perahu yang berada di tengah lautan. Mari kita simak bersama hadits tersebut.

MATAN HADITS

حدّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ، قَالَ: سَمِعْتُ عَامِرًا، يَقُولُ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا “[1]

Abu Nu’aim berkata kepada kami, Zakaria berkata kepada kami, ia berkata: “Aku telah mendengar ‘Amir, ia berkata: Aku telah mendengar An-Nu’man bin Basyir r.a. dari Nabi saw beliau bersabda: “Perumpamaan orang yang teguh menjaga larangan-larangan Allah SWT dan orang yang melanggar larangan-larangan-Nya seperti sekelompok orang yang berebut naik ke dalam sebuah perahu . maka sebagian mereka dapat bagian atas kapal dan sebagian lainnya mendapat bagian bawah. Para penumpang yang berada di bagian bawah kapal jika memerlukan air harusmelewati para penumpang yang berada di atas. Kemudian penumpang yang berada di bawah itu berkata: “Seandainya kami lubangi tempat duduk kami satu luang saja, maka kami tidak usah lagi mengganggu para penumpang yang berada di atas”. Apabila penumpang lainnya membiarkan mereka dengan apa yang mereka kehendaki, niscaya hancurlah seluruh penumpang kapal. Dan apabila penumpang lainnya mencegah tangan mereka dari upaya melubangi kapal, niscaya selamatlah seluruh penumpang kapal”.

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhory dalam “Asy-Syahaadaat” dari ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats dari ayahnya dari Al-A’masy dari Asy-Sya’by. Dan dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam “Al-Fitan” dari ahmad bin Mani’ dari Abu Mu’awiyah dari Al-A’masy, dan ia berkata: Hadits ini Hasan Shohih.[2]

SYARH HADITS[3]

Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin berkata tentang hadits yang ia nukil dari Nu’man bin Basyir Al-Anshory r.a. dalam bab “Al-Amru bil-Ma’ruf wan-Nahyu ‘anil-Munkar”, dari Nabi saw bahwasannya beliau bersabda:

” مثل القائم في حدود الله والواقع فيها”

Kata القائم di dalam hadits ini adalah orang yang menegakkan Diinullah dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai pemeluk Diin, ia meninggalkan hal-hal yang dilarang. Dan الواقع dalam hadits ini adalah orang yang mengerjakan hal-hal yang dilarang atau meninggalkan kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan. Perumpamaan kedua orang tersebut seperti sekelompok orang yang berebut kesempatan untuk menaiki perahu, atau disebut juga berundi, siapa yang akan berada di bagian atas kapal? Maka jadilah diantara mereka yang berada di kapal bagian atas dan kapal bagian bawah. Dan orang-orang yang berada di bagian bawah jika memerlukan air atau mencari air untuk minum, mereka akan melewati para penumpang yang ada di bagian atas, mereka (para penumpang yang dapat bagian bawah) pun berkata: “Seandainya kami lubangi tempat duduk kami”, yaitu jika kami melubanginya satu lubang saja di tempat kami duduk maka kami akan mengambil air dari lubang tersebut hingga kami tidak mengganggu penumpang yang berada di bagian atas. Dan inilah yang mereka bisa dan mereka inginkan.

Kemudian Nabi saw bersabda:

” فإن تركوهم وما أرادوا هلكوا جميعاً”

“Apabila penumpang lainnya membiarkan mereka dengan apa saja yang mereka kehendaki, niscaya hancurlah seluruh penumpang kapal”

Karena mereka apabila melubangi kapal dengan satu lubang saja di bagian bawah kapal akan masuk darinya air kemudian tenggelamlah kapal itu.

“وإن أخذوا على أيديهم نجوا ونجوا جميعا”

“Tetapi apabila mereka mencegah dengan tangan mereka untuk berbuat demikian maka semua yang ada di kapal itu akan selamat.”

Permisalan ini adalah salah satu permisalan yang Rasulullah sebutkan dan ia merupakan permisalan yang sangat agung dan memiliki makna yang tinggi. Dan manusia dalam Diinullah seperti para penumpang yang berada di dalam sebuah perahu di tengah lautan dan mereka diterjang gelombang. Para penumpang itu harus ada yang berada di bagian bawah kapal dan yang lainnya berada di atas kapal sehingga seimbanglah perahu serta tidak menyempitkan penumpang satu dengan lainnya. Dan di dalam kapal ini jika ada salah seorang yang hendak melakukan sebuah kesalahan seharusnya ada yang mencegahnya, dan melarangnya berbuat kesalahan supaya semua penumpang yang ada di dalam kapal selamat, tapi apabila tidak ada yang mencegahnya maka binasalah semuanya. Dan seperti inilah Islam, jika orang-orang yang berakal dan para pemilik ilmu dan Diin mencegah para orang yang bodoh dan tak tahu apa-apa sesungguhnya orang yang berakal itu telah menyelamatkan seluruh penumpang, namun jika sebaliknya malah meninggalkan dan membiarkan orang-orang bodoh itu melakukan apa yang mereka kehendaki biscaya binasalah semuanya. Allah berfirman di dalam surat:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfal: 25)

Dalam perumpamaan ini terdapat penjelasan atas keharusanan seorang pengajar untuk menyebutkan permisalan-permisalan sebagai logika dengan gambaran inderawi, Allah SWT berfirman:

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُون

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-Ankabut: 43)

Berapa banyak manusia yang telah dijelaskan padanya penjelasan yang banyak dan berulang-ulang namun mereka tidak faham, tetapi jika diberikan padanya perumpamaan dengan sesuatu yang inderawi maka ia akan faham dan mengerti.

FAEDAH HADITS

Hadits ini memiliki banyak faedah, di antaranya adalah: Kehidupan ini ibarat perahu yang di dalamnya para penumpang. Dalam kehidupan sudah pasti ada orang yang memiliki ilmu dan ada juga orang yang tidak tahu ilmu. Jika kita mengetahui tentang suatu perkara bodoh yang direncanakan oleh seseorang hendaknya kita segera mengambil tindakan mencegahnya. Pada hakikatnya, ketika kita melarang seseorang berbuat maksiat, kita telah menyelamatkan banyak orang lainnya. Cara kita menyampaikan suatu ilmu bisa dengan menberi permisalan-permisalan yang berbentuk inderawi agar penyampaian kita mudah dicerna. Yang namanya maksiat pasti memiliki akibat yang buruk sedangkan kebaikan memiliki pengaruh yang baik dalam segala hal. Tugas orang yang berilmu adalah mengajarkan kepada orang-orang yang tidak tahu agar kehidupan itu menjadi seimbang. Jika kemaksiatan tidak segera dicegah, maka yang terjadi adalah kehancuran bagi pelaku maksiat itu sendiri ataupun yang tidak berlaku maksiat sekalipun. Orang yang zholim contohnya adalah orang yang ketika melihat suatu maksiat namun tidak menggubrisnya bahkan cuek dan tidak mau tahu.

10. Jika kita mau berfikir dan bersabar, maka sesungguhnya kita lebih baik mengambil satu jalan yang lebih sulit untuk menempuh sesuatu yang kita ingini daripada mengambil jalan pintas yang sebenarnya malah menghancurkan dan membinasakan kita.

11. Manisnya upaya kita mencegah yang munkar itu bukan hanya kita yang merasakan, namun akan dirasakan oleh keseluruhan.

PENUTUP

Inti dari tulisan ini sebenarnya adalah fadhilah amr ma’ruf nahyi munkar. Terciptanya suatu keamanan dan kenyamanan, sudah pasti jika kemunkaran itu diberantas.

Segala sesuatu sudah pasti ada hikmahnya dan hikmah itu milik siapapun yang mau berfikir. Yang benar adalah hak Allah, dan apabila ada yang salah itu murni kesalahan penulis.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1997, cet. XIV

Imam Abu Zakariya Yahya, Riyadhush Sholihin, Terj. Suhaimi, Surabaya: Mahkota Surabaya, 1994, cet. IX

Lukman Ma’sa, Da’wah di Bawah Bimbingan Sunnah, Bekasi: Waznah Press

Maktabah Syamilah versi 3.47

[1] Muhammad bin Isma’il Abu ‘Abdillah Al-Bukhori Al-Ja’fi, Shohih bukhori, Bab Hal Yaqro’u fil Qismah, Daar Thowqin Najah, 1422 H, cet. I, juz 3, hal. 139 (Maktabah Syamilah versi 3.47)

[2] Mahmud bin Ahmad Al-Hanafy, ‘umdatul qoorii syarh shohiih al-bukhoorii, Bab Hal Yuqro’u fil Qismah wal Istihaami fiih, Beirut: Daar Ihyaa at-Turats al-‘Aroby, juz 13 hal 56 (Maktabah Syamilah versi 3.47)

[3] Muhammad bin Sholih bin Muhammad Al-‘Utsaimin , Syarh Riyadhush Sholihin, Bab Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, Riyadh: Daari Wathn lin Nasyr, cet. I, 1426 H, juz 2 hal. 430 (Maktabah Syamilah versi 3.47)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s