Sejarah Konsep dan Pergulatan Pemikiran Tentang Hermeneutika Untuk Al-Quran I

Standar

Resume Oleh: Azizah az Zahra, Indri Yulita dan Anisa Afrihatini

Resume dari buku karya Fahmi Salim yang berjudul: Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal, penerbit Gema Insani, Jakarta 2010, cetakan ke II 

A.    Akar Historis, Perkembangan Dan Aliran-Aliran Hermenetika

1.      Sejarah Kemunculan Hermeneutika Dan Perkembangannya

a.      Kemunculan Hermeneutika: Dari Theology Kristen

<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;

line-height:150%;”>Hermeneutika adalah tafsir Bible. Encyclopedia Britannica menjelaskan bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip umum tentang penafsiran Bible. Dan Bible itu adalah kitab suci Kristen dan Yahudi, terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Hermeneutika digunakan oleh Kristen karena memang Bible bukan kalam Tuhan. Ia merupakan produk manusia, oleh karenanya banyak sekali variannya. Dan dengan hermeneutika itu Kristen berharap agar kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible yang bervariasi itu dapat ditemukan.

Seiring perkembangan zaman, hermeneutika ini kemudian diperluas kepada teks apa pun di luar Bible. Termasuk karya-karya seni. Beberapa sarjana muslim kemudian terlalu latah mengadopsinya karena berasumsi bahwa hermeneutika ini akan menjadikan al-Qur`an lebih bisa ditafsirkan sesuai dengan kehendak zaman. Konsekuensinya, al-Qur`an disamakan statusnya dengan Bible; sebuah produk sejarah yang dihasilkan manusia, penafsiran terhadapnya relatif, dan ajaran-ajaran yang dikandungnya harus dirombak total agar sesuai dengan zaman.

Padahal telah jelas bahwa Al-Qur’an al-Karim adalah kitab suci umat Islam yang menjadi dasar bagi segi kehidupan manusia. Ia diyakini sebagai sumber kebenaran yang mutlak, karena datangnya dari Allah SWT.

Kaum Liberal tidak pernah bosan berupaya menjatuhkan superioritas al-Qur’an, baik dari segi kebenaran mutlak maupun sebagai sumber asalnya. Dengan semangat yang luar biasa mereka berusaha memerangi pemikiran yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu wahyu Allah; mereka menegaskan bahwa al-Qur’an tidak lain hanyalah dusta yang mengada-ada. Sasaran mereka adalah memalingkan keyakinan bahwa al-Qur’an adalah wahyu samawi kepada Muhammad saw untuk memberi petunjuk kepada umat manusia.

b.      Sejarah Hermeneutika Dari Filsafat Klasik Zaman Modern

Teks berawal bersama Yunani kuno berupa kode-kode simbolik. Kemudian hermeneutika pindah ke tangan orang-orang Ibrani (Yahudi) dan Philon of Alexandria memiliki peran penting yang menggabungkan antara aliran simbolis dan filsafat Yunani.

            Kemudian para agamawan mengembangkan metode moderat. Aliran Mesir pada zaman dahulu dan Andalusia di zaman Islam juga memiliki peran jelas dalam masalah itu.

            Setelah itu hermeneutika berhasil merasuki gereja Kristen dengan menyebarnya dominasi Alerogikal Simbolis. Namun, para Paus telah meletakkan kaidah dalam memahami kaidah-kaidah Bibel dan menakwilkannya.

            Ketika datang zaman modern akal manusia mulai beringsut dari kekangannya. Para pemikir juga mulai berani menundukkan teks Bible dengan metode Historisitas dan analisis linguistic yang liberal selama abad ke-17 dan ke-18. Dan pada abad ke-19 dan ke-20 Hermeneutika pun berkembang.

c.       Karakteristik Metode Hermeneutika

Beberapa karakteristik dari metode panafsiran hermeneutika, yaitu:

1.      Metode hermeneutika adalah metode penafsiran teks atau penafsiran kalimat sebagai symbol. Materi pembahasannya meliputi dua sector yaitu pertama perenungan filsofis tentang dasar-dasar dan syarat-syarat konstruksi pemahaman. Kedua pemahaman dan penafsiran teks itu sendiri melalui media bahasa.

2.      Metode hermeneutika adalah metode yang mendasarkan pada pengkompromian filsafat dan kritik sastra. Memahami teks sastra, seni, agama atau sejarah adalah paya memahami realitas melalui bahasa atau bentuk keindahan. Tulisan adalah sarana yang memungkinkan suatu proses pemahaman dan dapat terus berubah.

3.      metode hermeneutik adalah metode yang digunakan untuk mencari  makna terdalam atau nilai dari suatu teks. Dan nilai ini tidak berada di belakang teks tapi melanglang ke depan teks. Dengan demikian arti suatu teks menurut metode ini adalah berkesinambunangan.

4.      Metode hermeneutika adalah metode penafsiran individual tapi melebur dengan yang lain. Sebab metode ini mengkompromikan antara historis dan ahistoris, antara individu satu dengan individu yang lain, antara makna lahir dan makna yang tersembunyi.

5.      Metode hermeneutika mempunyai 2 ciri utama, yaitu optimis dan liberal

6.      Metode hermeneutika bisa pula dikompromikan dengan ilmu fisika, sebab hermenutika mendasarkan pada :

– Eksperimen terus menerus yang menjauhkan dari generalisasi sebagaimana pada teori standar­i­sa­si  yang menerapkan pedoman-pedoman yang menyebabkan suatu teks bisa atau tidak bisa diterima ; atau pada strukturalisme  yang mengembalikan semua teks pada bingkai kaidah yang baku, atau pada dekonstruksisme  yang mengatakan bahwa semua teks tidak mempunyai makna atau nilai yang bisa diterima.

– Intuisi pada hermeneutika bukan emosional bukan pula generalis. Tapi intuisi di sini adalah pertanyaan kritis terus menerus tentang kebenaran suatu teks. Atau dengan kata lain bahwa intuisi pada hermeneutika berawal dari dugaan-dugaan kasar menuju suatu keyakinan.
– Kalau metode ilmiah mengungkap sesuatu dari ketidak tahuan, dan memperoleh kebenaran dari eksperimen. Maka metode hermeneutika tidak berangkat dari satu standar yang paten dan mempeoleh kebenaran dari eksperimen. Makna yang ingin dicapai oleh hermeneutic dari suatu teks bukan makna final. Setiap analisa Hermeneutic pada akhirnya selalu menyisakan pertanyaan-pertanyaan baru. Garapan Hermenutika jauh lebih luas dari pada si penafsir itu, tapi justru ini memacu penafsir untuk berlomba-lomba, bersungguh-sungguh untuk menemukan makna terdalam dari teks.

d.      Mazhab-Mazhab Hermeneutika Dan Aliran-Alirannya

            Setidaknya terdapat tiga aliran hermeneutika, yaitu:

Pertama, hermeneutika teoretis (hermeneutical theory), yaitu hermeneutika sebagai metode dan ilmu pengetahuan yang khas ilmu budaya.

Kedua, hermeneutika filosofis (hermeneutic philosophy) yaitu hermeneutika yang sangat menentang kemungkinan penumbuhan bagi metodologi pemahaman.

Ketiga, hermeneutika kritis (critical hermeneutics), yaitu hermeneutikayang lebih condong kepada peran pengajuan dan pendiskusian persoalan-persoalan pada teori hermeneutika dan filsafat hermeneutika.

e.       Segitiga Hermeneutika (Teks, Pembaca, Pengarang)

Para penelaah hermeneutik tidak akan lepas dari seputar tiga ini yaitu:

1.      Pengarang

Posisi pengarang adalah sebagai pusat kerja inovasi secara keseluruhan, kehadirannya dalam teks diibaratkan seperti roh yang sangat dominan. Kita tidak akan bisa berbicara takwil sebelum kita mengetahui tujuan seorang pengarang yang mengarahkannya untuk menulis karangan tersebut.

2.      Teks

Cara meneliti teks yaitu kita berusaha dengan sempurna mengetahui  pemikiran-pemikiran yang terdapat dalam teks termasuk juga adanya perbedaan pemikiran dan ketidak adanya kecocokan.

 

3.      Pembaca/Penakwil (Hermeneut)

Pembaca disini adalah pembaca yang mempunyai skill teks karena ia akan mampu menyatukan semua pengaruh yang dikandung teks. Hal itu akan membuat ia membaca dengan moderat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s