Sejarah Konsep dan Pergulatan Pemikiran Tentang Hermeneutika Untuk Al-Quran II

Standar

 (Resume dari buku karya Fahmi Salim yang berjudul: Kritik erhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal, penerbit Gema Insani, Jakarta 2010, cetakan ke II)

Resume oleh: Azizah az Zahra, Indri Yulita, Anisa Frihatini

Hermeneutika Dan Kritik Bible

Berangkat dari ramainya penerapan hermeneutika di barat Kristen di bidang teologi menuju bidang humaniora dan kajian susatra. Hal ini sangat erat hubungannya dengan masalah teks-teks dalam peradaban barat jika mereka mendapatkan permasalahan tentang pengertian ilham  manusia  dan permasalahan tentang autentisitas dan penelitian teks-teks. Dan melanjutkan masalah itu dengan memberi  keterangan seputar sejarah dan akar-akar  permasalahan kritik bible bertujuan agar dapat menjadi jelas kepada kita bagaimana penerapan hermeneutika dalam peradaban barat –Khususnya agama Kristen. Apa yang menyebabkanNya, bukan berarti kita harus mengikuti mereka dalam segala sesuatu. Hal itu karna kondisi, lingkungan, kulturnya berbeda.

a.      Sejarah Problem Kritik Bible

            Salinan perjanjian baru dalam bahasa yunani kuno baru di cetakan pertama kali pada awal 1514 M di Universitas al- Cala Spanyol, salinan bahasa inggris yang di ppegang secara umum adalah salinan Desidarius Erasmus (1469-1536 M) dari Rotterdam Belanda pada tahun 1516 M dan itu satu-satunya salinan standar sampai tahun 1881 M. Dan di salinan itu mulai menuai kritikan pertama kali oleh pastur bernama Richard Simon (1638-1712 M) yang dijuliki bapa kritik injil.

Commeil- seorang agamawan Kristen jerman- berkata mengomentari hasil karya Simon, “ Dia adalah orang yang pertama kali menggunakan kritik terhadap Bibel dalam usahanya mengkaji dasar-dasar salinan kuno untuk Perjanjian Baru. 

Dengan pengaruh simon, john Mill-seorang agamawan gereja Anglikan (1640 -1707) melakukan kajian kritisnterhadap naskah baru . stelah 30 tahun ia memnjalani risetnya, Miil kemudian setelah 3 tahun berturut-turut ,Wits falian Kuster melakukan Vertifikasi dan penelitian ulang atas hasil-hasil yang sudah ada sebelumnya dikota ansterdam yang berjudul”perjanjian baru yunanidengan pembacaan berbeda:kajian dan penelitian john Mill.

Adapun pendiri Hermenuetika umum adalah Schlirmacher, bukan meletakkan metode penakwilan tetapi ia menjadikan hermenutika dijadikan permasalahan filsafat pada level paling pertama.ia bagaikan Imanuel Kant yang menjawab pertanyaan: bagaimana mengetahui sebuah kemungkinan? Jadi hermenutika umum dalam pandangan Schlirmacher adalah berusaha menjawab tentang pertanyaan: bagaimana memahami hal itu sebagai sebuah kemungkinan?

Pertama tama ia meyakini kitab Timotius bukan berasal dari paulus, karna melihat konteks di dalam teksnya yang tidak sesuai dengan hidup paulus.dan  oleh sebab itu ia berpendapat kitab –kitab bibel harus diperlakukan sama dengan kitab –kitab bibel yang lainnya.

Setelah pengaruh dari Schlirmacher, Karl Lachmann. profesor fiologi di berlin, meningalkan semua naskah injil. dan menerbitkan perjanjian baru dalam bahasa yunani kuno. menurut pandanganya  teks yang baru tidak maungkin di produksi. Dia dianggap “ Pendiri teks yang mutakhir” setelah itu banyaklah ilmuwan lain kristen membuang naskah resmei yanng asli yang mereka pegangi.

b.      Fenomena Kritik Bible

      Istilah dan ungkapan kritik tidaklah mengandung sebuah makna yang negative jika di arahkan kepada kajian-kajian teologi, tetapi ia ini menunjukan pengertian yang positif.  Bahasa Kritik yaitu berasal dari Yunani adalah pemisahan, pembedaan, penentuan, dan mengeluarkan hukum. Jadi jika seorang pakar mengadosi metode kritik historis maka akan di anggap sejarahwan sekaligus hakim yang menetapkan masalah keshahihan hukum permasalahan yang menjadi penelitian.

Metode kritik Hitoris adalah salah satu metode kritik Bibel yang paling penting. Metode ini di bangun dalam penentuan menentukan naskah Bibel yang paling awal, karakter sastranya konteks yang munculkan dan maknannya yang paling asli. Dan juga membedakan antara yang mitos dan yang nyata terjadi serta meneliti cara-cara meneliti injil dengan riwayat-riwayat yang saling bertentangan dan menentukan mana yang sebenarnya adalah perkataan Al masih.

Kritik yang saling berkaitan yaitu:

1.      kritik teks

2.      Studi Filologi

3.      Kritik Sastra

4.      Kritik Bentuk sastra

5.      Kritik Redaksi

Pertama   Kritik teks bertujuan untuk menguatkan keshahihan sebuah teks. Terdapat dua bagian penelitian.

1.      Resensi yaitu proses pembersihan teks

2.      Proses pengshohihan teks.

Maksudnya Kritikus melakukan pembersihan yaitu pemilihan konteks dalil yang paling terpecaya yang merupakan pondasi teks. Kemudian dia melakukan pembuangan artinya melakukan pentashihan kesalahan-kesalahan yang di temukan meskipun ia dalam bentuk manuskrip yang paling bagus.

Kedua, Penelitian fiologi memiliki urgensi yang paling penting dalam menentukan makna yang di maksud oleh pengarang teks, penelitiannya mencangkup kajian kosata grametika, sintaksis bentuk dan tujuan serta makna bahasa dan sastra.

Ketiga,  Kritik sastra  pendekatan khusus dalam kajian sejarah teks-teks injil, atau kritik yang menyerupai kritik sumber.

Ke empat, kritik bentuk yang di maksud bentuk dalam bahasa jerman adalah sejarah –bentuk. Sebagai contoh terdapat dua Versi penelitian tentang almasih dan injil ketika metode ini di terapkan. Versi Pertama disana ada periode orang beriman kepada ajaran almasih yang lebih dahulu dari pada pengarang injil . Versi Kedua sosok almasih sebagai satuan-satuan verbalis yang dapat dibedakan sesuai dengan bentuknya.  Hasil yang dapat di pastikan injil sekarang adalah sebuah hasil penyulingan dan pemilihan yang telah di lakukan oleh para pengarang injil dengan berbagai bentuk.

Kelima, para pengarang Bibel memanfaatkan bahan_bahan liguistik Kultur dan lingkungan. Kritik ini memfokuskan menentukan apa yang mereka masukan dan apa yang belum mereka masukan dengan mengubah sumber-sumber yang mereka ketahui oleh para pengarang injil dan bukan menentukan riwayat-riwayat verbalis dan sumber-sumber injil yang ramai mereka gunakan.

c.       Akar-Akar Historis Tren Kritik Bible

Gereja Abad Pertengahan

Selama sepuluh abad dan bentangan ini menutupi jenjang kondifikasi kitab-kitab tersebut tanpa melihat adanya tumpang tindih subtansiNya secara Verbalis. Buku-buku yang memuat tiga generasi besar yang sesuai dengan teks sendiri Ibnu Sirakha 1,1-124. Buku itu adalah syariat para nabi serta kitab-kitab yang lain yakni kitab-kitab tentang hikmah secara global, yang di nukil dari berbagai tradisi berturut-turut sebagai berikut.

1.      Tradisi Yahudi (nama tuhan Yahudi : Yahweh ) di awal kerajaan bersama daut dan sulaiman yaitu pada abad 10-8 SM.

2.      Tradisi llohim ini menunjukan kata Allah yang muncul setelah pertama dalam jangka beberapa waktu saja tahun 750 SM di kerajaan timur setelah pecahnya kabilah-kabilah

3.      Tradisi al isytira di nisbatkan kepada kitab tatsniah al isytira atau syarat yang kedua pada abad ke 7-6 SM

4.      Tradisi alkhanuti di namakan demikian karna ynag muncul di lingkungan sekitar haikal bersamaan dengan peristiwa pemboyongan kebabilon berawal dari tahun 538 SM.

Lima abad pertama sejarah gereja yang disebut dengan zaman bapak-bapak gereja tidak melemparkan ide tentang problem penafsiran teks dengan metode yang berbeda . Yang menjadi perhatian mereka adalah bagaimana memahami tulisan kuno atau kontemporer sesuai petunjuk kristus dan tidak ada yang lainnya. Itulah dasar pembacaan yang menggerakkan semua kerja mereka dalam penafsiran. 

Saint Yustinus 100-165 M adalah termaksud tokoh penting yang meningkatkan dan membela Kristen di abad ke 2. Dia sosok yang kuat dan tegas memegang amanat Allah sepanjang sejarah dan terus berhubungan kepada penulis dan melihat “ Tugas pendidikan kitab pertama.” Dalam dialognya bersama Trivon menjelas kepada yahudi yang mendebatnya sebagaimana perjanjian lama sendiri pada dasarnya menunggu untuk digantikan pada perjanjian baru. Dalam pencapaian itu ada yang berpihak pada perjanjian lama dan para tokoh tak lain adalah proyeksi perjanjian pada masa lalu. Taurat mempunyai 3 ragam yaitu khusus untuk Allah,  khusus untuk Musa, dan para leruhur bangsa Yahudi bagian pertama sendiri dibagi menjadi 3 bagian:

1.      Bagian pertama sangat bersih seperti sepuluh perintah yang tidak dibatalkan oleh yesus Almasih tapi ia menyempurnakannya

2.      Bagian kedua sudah disusupi kelaliman seperti hukum balas dendam, dan ini telah dibatalkan oleh juru selamat Almasih

3.      Bagian ketiga, itu hanyalah symbol-simbol seperti ritual dalam pesta keagamaan, oleh Yesus disingkat maknanya yang paling dalam seperti d jelaskan tentang dia membawa paska yang hakiki.

Penafsiran Bibel telah kehilangan montumnya setelah Theodores di timur dan Agustinus di barat dan  para penafsir mencukupkan diri mengulang-ngulang apa yang di tafsirkan Pastur Gereja dan yang penting untuk disebutkan banyak teks para pastur telah dijaga hingga hari ini atas jasa tulisan-tulisan bersambung berserta penafsiran mereka yang sudah dikenal 4 tingkatan yang maknanya tersembunyi dalam Bibel:

1.      Makna tekstual atau historis (makna peristiwa-peristiwa yang terjadi)

2.      Makna simbolis atau ruhi bila rahasia keimanan dapat terpancar

3.      Makna humanis dan muralis yang mengajarkan seseorang mukmin tentang kaidah-kaidah moralnya

4.      Makna rohanian yang menyikap untuk mukmin adar tentang tujuan akhir yang akan di gapainya.

Teori 4 di atas diringkas dalam bait-bait latin yang terkenal (Huruf member tahukan kejadian, dan symbol tidak wajib bagimu mengimaninya. Moral member tahumu tentang apa yang harus kamu lakukan dan kerohanian adalah tujuan akhir mu)

Abad Pencerahan

            Pada abad pencerahan dan kebangkitan telah terjadi perubahan mendasar dengan munculnya revolusi sains pengawasan terhadap fenomena dan pengetahuan tentang undang-undang yang tunduk terhadap kebutuhan alami manusia menuju kepada penyerahan atas kemerdekan ilmu secara sempurna, setelah sebelumnya menjadi budak dokterin kitab suci intitusi Gereja. Saat itu, ilmu tidak saja terbebas dari kungkungan dokterin gejera bahka ia mulai dipertentangkan dengan keimanan. Padahal sebelumnya dalam perjanjian lama telah ditetapkan kitab-kitabnya yang menjadi lima dasar perjanjian lama ( kitab penciptaan keluaran, pendeta, pengulangan, dan bilangan). Adalah sebuah kitab yang satu dan sama jenisnya yang dikarang musa melalui wahyu dari Allah demikianlah sains mulai mengkritik pemahan-pemahan tradisi seputar Bibel melalui metode sejarah maka geliat penelitian dalam jalur baru ini bergerak cepat sehingga sejarah menjai standar final untuk menguji teks-teks Bibel. Teks-tes perjanjian baru juga diperlakukan sama seperti teks-teks perjanjian lama yang hanya memiliki satu arah saja pasalnya para peneliti mengangapnya sebagai dokumen yang harus disembunyikan dari semua bentuk ke anehan fenomena yang tidak aturan yaitu dari semua yang tidak bias di teriama oleh akal secara mendasar maka akan diteliti lebih lanjut. Kritik social kesusastraan melakukan hal sebagai berikut:

Pertama, menyusul satuan-satuan sastra yang kecil dari perjanjian lama ke perjanjian baru yang bertujuan menafsirkan sumber nama didalam kejadian yang terjadi diempat itu seperti periwayatan, keajaiban, nubuat, solat permintaan.

Kedun, mencari bentuk-bentukna yang paling awal dan yang paling bersih serta menggabungkanny dengan lingkngan kehidupan seperti intitusi social dan cultural tradisi ritual atau yang lainnya      

Di Era Modern

            Pada tahun lima puluhan dan sebagai reaksi terhadap majhab sejarah bentuk-bentuk fromeges chischate dan berangkat hasil-hasil yang diraihnya munculah majhab lain yang ingin membalik aliran historistas yaitu sejarah penulisan . Diantara para pakar moderen ada seorang pakar yang merevolusi gerakan kritik dalam sejarah baik bentuk-bentuknya baik sejarah tentannng pengarangnya dengan mengembalikan pada akar- akarnya, yang bernama Paul Beauchamp(1994-2001 M) yang mengusulkan kepada teleologique. jadi bukan kuncinya melainkan tujuan akhirnya .perkembangan bukanalah buatan –buatan bentuk pertama yang masih bersih itu tapi ia adalah gerakaan keterbukaan dan kematangan serta penyelarasan yang tersetruktur.  Semiotika memberikan perhatiaan terhadap teks bukan teradap bentuk perubahan yang sifatnya ligustik tapi dalam subtansinya. ini membangun kearah yang tertuju yang independen dari bahasa natural yang diigunakan untuk menyingkap susunan semantik yang samar dibawah aturaan teks secara sastrawi dan modelnya sehingga sempurnalah faktor- faktor pelaku, tema, pengirim, dan penerima ,unsur- unsur penyokong dan unsur-unsur penentang.

d.      Apakah Tepat Metode Kritis Untuk Mengkaji Al-Quran

            Bibel setelah diketahui bersama adalah karya sejumlah pengarang sehingga layaknya karya dan kerjanya manusia akan terimbas perubahan atau distorsi, kesamaran, dan pengelabuan yang erat dengan kondisi manusia. Adapun para pengkaji dan pemerhati islam dari kalangan orentalis barat yang gemar dengan studi-studi keislaman membawa misi untuk” metode kritik bibel” agar diterapkan kepada “metode kritik alquran”. Padahal mereka mengetahui Alquran bukanlah produk, sebuah karya buatan manusia, tetapi ia diturunkan dari Allah swt dari langit.

Akan tetapi yang aneh bin ajaib kenapa para keluaran pemikiran penafsiran alquran ala bibel ini keluar dari pemikiran para anak anak islam yang gemar meniru peradaban barat. Kita melihat wacana skularisme di dunia islam sangat banyak propagandanya. merika menilai selama ini kritik terhadap kritik Al quran harus dilaksanakan agar manusia dapat menjaga solidaritas pegangan metodelogis dan logika sehatnya.

Sebagaiman yang kita ketahui hakikat al quran adalah kalam Allah yang telah ditetapkan di lauhil mahfudz dan diturunkan kepada Muhammad melalui jibril. Bentuk hurufnya, makna teksnya/ subtansinya, kata –kata dan maknanya berasal dari Allah swt.

Meskipun alquran diturunkan kepada nabi Muhammad saw ia juga mempunyai historisnya (asbabun nuzulnya) maka ia adalah kitab yang dipertuhankan. Adapun gerakan pembaharuan di dunia islam dari abad ke19-20 telah dibawah oleh Muhammad abduh, Rasyid Ridha  dengan tujuan konkwensi mereka harus kembali pada pilar dasar yakni Al-quran dan sunnah. Jadi bukan kembali pada studi mengkritisi alquran dan sunnah secara liar dan liberal.

Jadi tidak perlu heran jika dalam perjalanan terjadi perbedaan antara kajian kritik teks keagamaan dalam bibel, dengan alur kajian kritis alquran dan sunnah. Lagi pula posisi Alquran bagi umat islamsemuannya dan posisi istimewa yang diduduki oleh Alquran ia adalah kita yang mengatur dan memberikan batasan tentang kehidupan muslim secara kerohanian dan keduniawian dan juga pola hubungan dengan nonmuslim dinegri islam kembali pada pandanagan muslim pada kebenaran nilainnya baik secara subtansi,bentuk, keutamaan, maupun sumbernya yang ilahi. Alquran tetaplah wahyu yang diterima Muhammad saw yang ditransmisikan kepada orang yang semasanya hingga akhir zaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s