Sejarah Konsep dan Pergulatan Pemikiran Tentang Hermeneutika Untuk Al-Quran III

Standar

 (Resume dari buku karya Fahmi Salim yang berjudul: Kritik erhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal, penerbit Gema Insani, Jakarta 2010, cetakan ke II)

Resume oleh: Azizah az Zahra, Indri Yulita, Anisa Frihatini

Aplikasi Hermeneutika Dalam Studi Alquran

1.      Orientalis dan Penerapan Hermeneutika dalam Studi Al-Quran

            Ketika mengkaji Bibel secara kritis, para teolog Yahudi-Kristen mengakui Bibel yang selama ini dianggap sebagai textus receptus ternyata memiliki sejumlah kesalahan mendasar. Kajian kritis Bibel tersebut melahirkan banyak metode kritis yang disebut dengan biblical criticism (kritik Bibel). Dalam perkembangannya, para orientalis yang tidak terlepas dari perkembangan studi Bibel­ menggunakan biblical criticism sebabai kerangka dasar untuk mengkaji Al-Qur’an.

Orientalis Dan Aplikasi Metode Kritik Bible Di Bidang Studi Alquran

Para sarjana Barat, orientalis dan Islamolog Barat sudah mulai menerapkan biblical criticism ke dalam studi Al-Qur’an sejak abad ke-19 M. Diantaranya seperti yang dilakukan oleh Abraham Geiger (1810-1874), Gustav Weil (1808-1889), William Muir (1819-1905), Theodor Noldeke (1836-1930), Friedrich Schwally (m. 1919), Edward Sell (1839-1932), Hartwig Hirschfeld (1854-1934), David S. Margoliouth (1858-1940), W. St. Clair-Tisdall (1859-1928), Louis Cheikho (1859-1927), Paul Casanova (1861-1926), Julius Wellhausen (1844-1918), Charles Cutley Torrey (1863­1956), Leone Caentani (1869-1935), Joseph Horovitz (1874­1931), Richard Bell (1876-1953), Alphonse Mingana (1881­1937), Israel Schapiro (1882-1957), Siegmund Fraenkel (1885-1925), Tor Andrae (1885-1947), Arthur Jeffery (1893­1959), Regis Blachere (1900-1973), W. Montgomery Watt, Kenneth Cragg, John Wansbrough (1928-2002), dan yang masih hidup seperti Andrew Rippin, Christoph Luxenberg (nama samaran), Daniel A. Madigan, Haraid Motzki dan masih banyak lagi lainnya.

Orientalis yang termasuk pelopor awal dalam menggunakan biblical critism ke dalam Al-Qur’an adalah Abraham Geiger (m. 1874), seorang Rabbi sekaligus pendiri Yahudi Liberal di Jerman.

Orientalis lain yang termasuk awal menerapkan biblical critism ke dalam studi Al-Qur’an adalah Gustav Weil (m. 1889), seorang Yahudi Jerman. Dengan menggunakan metode kritis-historis, Weil pada tahun 1844 menulis (Mukaddimah Al-Qur’an: Kritis-Historis).

Dalam pandangan Weil, Al-Qur’an perlu dikaji secara kronologis. Ia mengemukakan tiga kriteria untuk aransemen kronologi Al-Qur’an:

(i)                 rujukan-rujukan kepada peristiwa-peristiwa historis yang diketahui dari sumber-sumber lainnya;

(ii)               karakter wahyu sebagai refleksi perubahan situasi dan peran Muhammad; dan

(iii)             penampakan atau bentuk lahiriah wahyu.

Mengenai surah-surah Al-Qur’an, Weil membagi menjadi empat kelompok:

(i)                 Makkah pertama atau awal

(ii)               Makkah kedua atau tengah

(iii)             Makkah ketiga atau akhir dan

(iv)             Madinah

Titik-titik peralihan untuk keempat periode ini adalah masa hijrah ke Abisinia (sekitar 615) untuk periode Makkah awal dan Makkah tengah, saat kem­balinya Nabi dari Taif (620) untuk periode Makkah tengah dan Makkah akhir, serta peristiwa Hijrah (September 622) untuk periode Makkah akhir dan Madinah.

Kajian yang serius untuk melacak secara kritis asal-­muasal Al-Qur’an dilakukan oleh Theodor Noldeke (1930), seorang orientalis Jerman. Noldeke menulis dalam bahasa Latin tentang sejarah Al-Qur’an. Ia mendapat gelar Doktor ketika berusia 20 tahun. Disertasinya diterjemahkan ke bahasa Jerman dengan judul Geschichte des Qorans (Sejarah Al-­Qur’an) dan diterbitkan pada tahun 1860. Dalam pandangan Arthur Jeffery (m. 1959), karya Noldeke merupakan buku yang pertama kali memberikan landasan ilmiah yang sebenar­nya untuk mengkaji Kitab Suci Islam. Maksud Jeffery dengan “landasan ilmiah yang sebenarnya” (a really scientific basis) tidak lain adalah biblical criticism.

Salah seorang orientalis lain yang terkemuka yang menerapkan metode kritis-historis untuk mengkaji Al-Qur’an adalah Arthur Jeffery. Ia berasal dari Australia dan penganut Kristen Metodist. Ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengkaji Al-Qur’an. la berpendapat agama yang memiliki kitab suci akan memiliki masalah dalam sejarah teks (textual history). Ini disebabkan tidak ada satupun autografi dari naskah asli dulu yang masih ada. Saat ini, masing-masing pemeluk agama memiliki naskah-naskah yang telah turun­temurun yang paling tidak telah berubah di berbagai komunitas masyarakat. Jadi, tidak ada satu naskahpun yang tidak berubah. Sekalipun alasan perubahan itu demi kebaikan, namun tetap saja, menurut Jeffery, wajah teks yang asli sudah berubah. Manuskrip-manuskrip awal Al-Qur’an, misalnya, tidak memiliki titik dan baris, serta ditulis dengan khat Kufi yang sangat berbeda dengan tulisan yang saat ini digunakan. Jadi, menurut Jeffery, modernisasi tulisan dan ortografi, yang melengkapi teks dengan tanda titik dan baris, sekalipun memiliki tujuan yang baik, namun itu telah merusak teks asli. Teks yang diterima (textus receptus) saat ini, bukan fax dari Al­Qur’an yang pertama kali. Namun, ia adalah teks yang merupakan hasil dari berbagai proses perubahan ketika periwayat­annya berlangsung dari generasi ke generasi di dalam komu­nitas masyarakat.

Disebabkan kritik teks belum dilakukan kepada Al-Qur’an sebagaimana yang sudah diterapkan kepada Bibel, maka Jeffery berpendapat belum ada satupun dari para mufasir Muslim yang menafsirkan AI-Qur’an secara kritis. Ia mengharapkan agar tafsir kritis terhadap teks Al-Qur’an bisa diwujudkan. Caranya dengan mengaplikasikan metode kritis ilmiah.

Jeffery mulai serius meneliti teks Al-Qur’an. Ia menghimpun berbagai variasi teks yang diperoleh dari berbagai sumber. Seperti dari buku-buku tafsir, hadits, kamus, qira’ah, karya-karya filologis dan manuskrip. Dengan ambisius ia ingin merealisasikan gagasannya.

Bergstraser adalah tokoh yang paling kompeten dalam masalah keaneka ragaman Qira’at maka Jeffery pun bertemu Bergstrasser pertama kali di Munich pada tahun 1927 untuk menggalang persamaan visi, misi dan aksi. Selanjutnya, mereka menghimpun segala materi yang bermanfaat untuk menjelaskan secara komprehensif mengenai sejarah teks AlQur’an. Mereka membagi tugas.

Dengan mengkaji sejarah teks Al-Qur’an secara kritis, baik Jeffery maupun Bergstrasser berharap akan membuat terobosan-terobosan baru. Mereka menghimpun dalam kuan­titas besar segala sumber yang berkaitan dengan ragam baca­an. Mereka mencari serta mengedit sejumlah naskah dalam bentuk manuskrip. Murid-murid Bergstrasser, seperti Dr. Otto Pretzl dan Dr. Eisen, ikut membantu untuk merealisasikan proyek ambisius tersebut. Pretzl mulai bergabung, ketika Bergstrasser mendirikan Lembaga Al-Qur’an Akademi Sains Bavaria. Pretzl pergi ke Turki pada tahun 1928 untuk menda­patkan manuskrip Kitab al-Taysir fi al-Qira’ah al-Sab ` dan alMuqni ` fi Rasm Masahifal-Amsar.

Bagaimanapun, Bergstrasser tidak dapat menikmati jerih payahnya. Ia meninggal dunia ketika mendaki gunung Alpen, semasa menghabiskan liburan musim panasnya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1933. Kematian Bergstrasser, menyebab­kan proyek Jeffery untuk menggarap Al-Qur’an edisi kritis terkendala.

Sekalipun semakin sukar, Jeffery tetap ingin merealisasikan Al-Qur’an edisi kritis. la meneruskan usahanya dengan kerjasama Otto Pretzl. Namun demikian ambisi Jeffery, Bergstrasser dan Pretzl membuat proyek Al-Qur’an edisi kritis, berakhir dengan tragedi. Segala bahan yang telah mereka himpun di Munich mencapai 40.000 naskah, musnah terkena bom tentara sekutu pada perang Dunia ke-2. Pretzl terbunuh dalam peperangan di luar Sebastopol pada tahun 1941.

            Paruh kedua pertengahan abad ke 20, metodologi Bibel yang diterapkan oleh para orientalis dalam studi Al-Qur’an se­makin mapan. Pada tahun 1977, karya John Wansbrough (m.2002), Quranic Studies terbit. Di dalam karya tersebut John Wansbrough menerapkan literaryl source criticism dan form criticism ke dalam studi Al-Qur’an.

            Awal abad 21, tepatnya pada tahun 2001, Christoph Luxenberg menyim­pulkan Al-Qur’an perlu dibaca dalam bahasa Aramaik. Dalam pandangan Luxenberg, sebagian besar Al-Qur’an tidak benar secara tata bahasa Arab. Al-Qur’an ditulis dalam dua bahasa, Aramaik dan Arab.

            Dengan menggunakan metode ilmiah filologis, Luxenberg ingin menghasilkan teks Al-Qur’an yang lebih jelas. Kajian filologis Luxenberg terhadap Al-Qur’an menggi­ringnya untuk menyimpulkan:

(1) bahasa Al-Qur’an sebenar­nya bukan bahasa Arab. Karena itu, banyak kata-kata dan ungkapan yang sering dibaca keliru atau sulit dipahami kecuali dengan merujuk pada bahasa Syriak-Aramaik yang konon merupakan merupakan lingua franca pada masa itu

(2) Bukan hanya kosakatanya berasal dari Syriak-Aramaik, bahkan isi ajarannya pun diambil dari tradisi kitab suci Yahudi dan Kris­ten-Syiria.

(3) Al-Qur’an yang ada tidak otentik, perlu ditinjau kembali dan diedit ulang.

Dalam perkembangannya, metodologi Bibel ikut juga diterapkan oleh beberapa sarjana Muslim seperti Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid Abu Zayd.

2.      Modernis Islam Dan Aplikasi Hermeneutika Dalam Studi Alquran

a.      Pemikiran Arkoun Dalam Bidang Studi Alquran

            Mengenai wahyu, Arkoun membaginya dalam dua level.

Pertama adalah apa yang disebut al-Qur’an sebagai Umm al-Kitab (Induk Kitab), wahyu bersifat abadi, tidak terikat waktu, serta mengandung kebenaran tertinggi. Namun, menurut Arkoun, kebenaran absolut ini diluar jangkauan manusia, karena bentuk wahyu yang seperti itu diamankan dalam Lawh Mahfuz dan tetap berada bersama dengan Tuhan sendiri.

Kedua adalah berbagai kitab termasuk Bible, Gospel, dan al-Qur’an. Wahyu ada dalam jangakauan atau dapat diketahui oleh manusia melalui bentuk pada peringkat kedua. Peringkat kedua ini, dalam istilah Arkoun dinamakan “edisi dunia” (edition terrestres). Menurutnya, pada peringkat ini, wahyu telah mengalami modifikasi, revisi dan substitusi.

Mengenai sejarah al-Qur’an, Arkoun membaginya menjadi tiga periode: periode pertama berlangsung ketika pewahyuan (610-632 M); periode kedua, berlangsung ketika koleksi dan penetapan mushaf (12-324 H/632-936 M) dan periode ketiga berlangsung ketika masa ortodoks (324 H/936 M). Arkoun menamakan periode pertama sebagai Prophetic Discourse (Diskursus Kenabian) dan periode kedua sebagai Closed Official Corpus (Korpus Resmi Tertutup). Berdasar pada periode tersebut, arkoun mendefinisikan al-Qur’an sebagai “sebuah korpus yang selesai  dan terbuka yang diungkapkan dalam bahasa Arab, dimana kita tidak dapat mengakses kecuali melalui teks yang ditetapkan setelah abad ke 4 H/10 M.” Menurut Arkoun dalam tradisi muslim pengumpulan al-Qur’an mulai pada saat Nabi meninggal pada tahun 632, tetapi ketika beliau hidup tampaknya ayat-ayat tertentu sudah ditulis. Kumpulan-kumpulan parsial dibuat dengan bahan-bahan yang agak tidak memuaskan, karena kertas belum dikenal dikalangan orang Arab dan tersedia bagi mereka baru di akhir abad ke-8. Meninggalnya para sahabat Nabi, yaitu orang-orang yang ikut berhijrah bersama beliau dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622, dan perdebatan tajam dikalangan umat Islam mendorong khalifah ketiga, Usman, untuk mengumpulkan totalitas wahyu ke dalam satu kompilasi yang disebut mushaf. Kumpulan ini dinyatakan sempurna, selesai dan tertutup dan kompilasi-kompilasi parsial pun dimusnahkan untuk menghindari perbedaan yang akan timbul tentang keotentikan wahyu-wahyu yang dipilih. Dia menegaskan bahwa proses pemilihan dan pemusnahan ini mengharuskan kita bertumpu pada Corpus Resmi yang Tertutup.

·         Proyek Kritik Nalar Islam Versi Arkoun

Arkoun mengajukan sebuah proyek kritik yang bertujuan membangun sejarah yang inklusif dan aplikatif untuk pemikiran Islam dan proyek itu disebut-sebut sebagai proyek yang tendensius sekaligus sangat rumit.

Arkoun mendeskripsikan empat kategori pendekatan metodologis studi Islam yang kini berjalan, yaitu:

1.      Wacana-Diskursif Islam Perlawanan, yang sudah tertanam kuat dalam dimensi mitologis turats yang tanpa sadar justru substansi-subtansi keagamaan membawa prinsip sekularisasi dan turats itu sendiri.

2.      Wacana Islam Klasik, yang melahirkan turats pada fase formatifnya di dalam kanun teksyang terpercaya dan shohih.

3.      Wacana Orientalis, yang menerapkan metode filologis-historis yang didominasi oleh kecenderungan historisitas dan kondisionalitas khas abad ke-19.

4.      Wacana Ilmu Humaniora, yang bertujuan untuk menyingkap pertanyaan-pertanyaan yang terhapus di dalam wacana-wacana di atas, serta menampilkan elemen-elemen yang tidak terungkapkan (sisi-sisi yang tidak terpikirkan dan yang mustahil dipikirkan

·         Langkah-Langkah Metode Arkoun

Arkoun menjelaskan bahwa tujuannya adalah membangun suatu “Islamologi Terapan”. Islamologi Terapan ini merupakan sebuah usaha yang melibatkan berbagai spelialisasi dan memuntut keterlibatan para peneliti, dan itulah yang dilakukan Arkoun.

Langkah-langkah Arkoun dalam melampaui sikap resmi ortodoksi :

1.      Pendekatan semiotic-linguistik, yaitu penggunaan tesis-tesis semiotika dan linguistic untuk mengkritisi bahan-bahan bacaan kita.

2.      Pendekatan historis-sosiologi, yang bertujuan merontokkan pandangan keagamaan untuk kepentingan sejarah.

3.      Sikap teologis, yaitu menundukkan teologi kepada kaidah-kaidah dan metode-metode yang diterapkan untuk semua proses pengetahuan.

·         Dekonstruksi Alquran Dalam Proyek Arkoun

Arkoun berupaya memindahkan teks Al-Quran yang suci dari area teologis kepada area penelitian linguistic dan menundukkannya kepada kajian sastra. Ia membangun kajian seputar proses pengujaran Al-Quran. Ia membaca Al-Quran dengan berbagai macam pembacaan seperti linguistic, semantic, antropologis, dan sebagainya dengan tidak mengedepankan makna teologis ketika membaca Al-Quran. Arkoun telah mengubah makna Al-Quran dari bidang sakralisasi ke bidang rasional. Inilah yang terjadi pada hermeneutika filosofis.

b.      Hasil Nasr Hamid Abu Zaid Dalam Takwil Alquran

Abu Zaid mengatakan bahwa metode analisis linguistic dan sastra adalah satu-satunya metode untuk mengkajiAl-Quran, dan tenyu saja untuk memahami Islam secara lebih obyektif.

§  Konsep Teks Alquran Dalam Epistemology Nasr Hamid Abu Zaid

Menurut Abu Zaid, teks Al-Quran telah berubah menjadi teks manusiawisejak dia pertama kali turun kepada Muhammad saw. Hal itu karena teks, menurut dia, sejak pertama kali turun dan sejak dibaca oleh Muhammad saw ketika proses pewahyuan, telah berubah dari teks ilahi menjadi teks manusiawi. Ia berubah dari tanzil menjadi takwil.

§  Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid

Sebagian hasil dari pembacaan hermeneutis terhadap teks-teks keislaman yang dilakukan Nasr Hamid Abu Zaid:

a.       Al-Quran adalah produk budaya.

b.      Aqidah Al-Quran dibangun atas mitos.

c.       Syari’at Islam membentuk dirinya dan berkembang sesuai dengan hokum realitas.

d.      Zaman sakralisasi sudah punah.

e.       Sumber keilahian Al-Quran bertentangan dengan analisis ilmiyah obyektif.

f.       Pengukuhannya atas prinsip “Wahdatul Wujud” dalam arti modern, yaitu manusia menggantikan posisi Tuhan.

g.      Melanggar kaidah “tidak ada ijtihad jika ada teks”

h.      Teori signifan makna yang diproyeksikan sebagai pemahaman berorientasi maqashid syari’at adalah mekanisme dari sekian banyak mekanisme sekularisasi Al-Quran dan memanusiakannya.

c.       Aplikasi Hermeneutika Dalam Proyeksi Dr.  Hasan Hanafi

o   Metode Matrealis Historis Dan Takwil Alquran

Dr. Hasan Hanafi melihat ilmu tafsir selama ini berpatokan pada periwayatan, dan belum muncul sampai sekarang tafsir yang berpatokan pada realitas umat Islam dan pembacaan terhadap kondisi masyarakatnya dalam teks-teks Al-Quran.

o   Teori Hermeneutika Hasan Hanafi

a)      Kritik dan Tafsir Klasik

Hasan Hanafi mengkritik tafsir klasik karena mengikuti pola analisis-teoritis, baik itu metode bil-ma’tusr maupun bir-ro’yi. Maksudnya seorang penafsir tidak lain hanya seorang penjelas yang menyimpulkan makna dari teks dengan akalnya yang murni kemudian mencarikan dalil untuk itu baik berupa dalil naqli maupun argumentasi aqli.

b)      Metode Alternatif

Metode alternative untuk para mufassir, menurut Hasan Hanafi, terwujud dalam usaha kembali kepada yang alami dan natural yang dianggapnya sebagai sebuah pemikiran. Hal itu akan terwujud dengan bebas dari penafsiran idealis, menancapkan kaidah-kaidah metode ilmiah, dan lepas dari hambatan bahasa dan takwil.

o   Levelisasi Pembacaan Alquran Menurut Hasan Hanafi

        i.            Penggunaan Cakupan Kebahasaan

Hasan Hanafi berpendapat bahwa usaha merekonstruksi bangunan intelektual Arab hanya dapat dilakukan dengan memperbaharui bahasanya dan menghidupkan kembali substansinya dengan bahasa modern.

      ii.            Teks Al-Quran antara Takwil dan Ta’thil

Hanafi menjelaskan sikap sebenarnya tentang masalah takwil teks, suatu proses yang tidak tunduk kepada aturan dengan ketentuan yang jelas kecuali apa yang disebut sebagai “kebutuhan-kebutuhan zaman”

3.      Pemanfaatan Pembacaan Baru Dari Perspektif Orientalis

Pada awalnya Arkoun dan Hanafi menolak hsil hasil penemuan orentalis. Kemudian ingin tampil ingin bersifat kritis tapi ide- ide mereka ternyata tidak berbeda dengan orntalis.

fenomena pengaruh orentalis dalam pembacaan  baru untuk Alquran mempunyai 3 fenomena besar:

 

a.      Fenomena Pertama: Condongkepada Tafsir Positivis- Secular Tentang Wahyu

Arkoun, Hanafi dan Abu Zaid berupaya agar bisa diklaim sebagai kajian mereka itu adalah ilmiah sehingga mengembalikan wahyu pada bentuk inovasi yang personal.

Penelitian dalam masalah wahyu menurut Hasan Hanafi, Arkoun dan Abu zaid tunduk pada peremis-peremis yang keliru yang meniscayakan wahyu tidak boleh melampaui kejadian kejadian historis atau sekumpulan fakta-fakta sosiologis. Ketika peneliti memasuki kajian Alquran dengan prakonsepsi tertentu ia bukan mencari kebenaran melainkan hanya mencari justifikasi atas asumsi-asumsi pemikiran saja.

Adapun tujuan yang orentalis capai adalah ingin mengatakan bahwa Alquran adalah data sejarah semata.Kemudian mereka menganggap alquran sama saja dengan kitab dan sastra sejarah yang lainya dan menganggap siapa yang membawanya Yakni Muhammad saw adalah pengaranganya.

Subtansial yang mereka akan rencanakan sebagai berikut:

1.      menolak keistimewaan kehususan alquran yang menjadikanya luas batas waktu dan tempat, dan mengangapnya sebagai kejadian manusia biasa saja.

2.      manjadikan ilmu- ilmu humaniora sebagai sarana untuk sampai kepada pengetahuan pasti yang didukung dali; meskipun banyak berdasarkan pada teori –teori praduga. Hal itu ditunjukkan oleh banyaknya perubahan –perubahan yang melekat dalam dirinya.

3.      membalikkan perimbangan epistimologis yaitu dengan menjadikan ilmu-ilmu humaniora sebagai epistema absolut, sementara teks-teks wahyu sifatnya relatif saja.

b.      Fenomena Kedua: Alquran Antara Fakta Realitas Dan Simbolis

Tidak seorangpun yang dapt menginkari keberadaan dan fungsi simbol sebagai Alquran. Ketika ingin memantri persoalan akidah dalam hati umat islam pembicaran tentang simbolisme alquranakan membawa kita langsung pada kisah kisah alquran dan akan berusaha mengugah fitrah keimanan dengan cara kisah simbolis.

Tetapi kesalahn yang mutlak para orentalis dan pengikutnya adalah mereka memasukan kejadian- kejadian sebagai unsur imajinasi dan dugaan, padahal ini Faktualitas dengan jelas.

Simbol Al quran dalm visi orentalis tidak lebih sekedar sebagai imajinasi sosial yang dipinjam dari tradisi kegamaan yang telah lampau. presrtasi Muhammad saw satu satunya memindahkan kejadian –kejadian itu dari koridor jahili menuju koridor monoteistik(tauhidi). itulah berapa ide orentalis yang paling penting dalam bidang simbol Al quran.

Diantara fenomena kesatuan antara islam dan agama- agama lain yang ditemukan orentalis sesuai metode mereka yang mengundang tertawan adalah kesamaan antara musik  gereja dan tartil alquran, “ seperti halnya gereja sengaja mengelar ritual musik untuk menguatkan intuisi menuju kemaslahatan keagamaan islam juga melakukan hal yang samah untuk mengembangkan tartil alquran agar pengaruhnya lebih kuat menembus imajinasi dan intuisi pendegar.”

Fenomena kesatuan antarabreduksi- reduksi pembacaan baru dengan simplikasi- simplikasi ideologis ala orientalis sehingga tampak dalam dua bentuk.

·         Pertama kesatuan mereka dalam pengertian simbol dan hakikatnya. Berangkat dari teks- teks Al-Qur’an, maka kedua kelompok itu menolak faktualitas simbol ini dan berusaha memberikan warna mitologis kepadanya.

·         Kedua, berhubungan dalam bidang simbol, maka visi kajian orientalis sama dengan visi para penganjur pembacaan kontemporer denga mencakup teks- teks Al-Qur’an oleh sebab itu ayat- ayat Muhakammad yang berhubungan dengan syari’at atau ibadah tidak lebih adalah ungkapan simbolis yang dimaksudkan untuk menunjukan hal- hal lain selain yang sudah kita fahami dari kejelasan konteks wacana.

 

c.       Fenomena Ketiga: Alquran Berhadapan Dengan Kitab-Kitab Samawi

Mengwujudkan kajian-kajian komparatif antara Al-Qur’an dan kitab-kitab suci lain. Bingkai kajian kontemporer yang berusaha menanfsirkan wahyu secara positivis dan menyelamatkannya dari stagnasi sejarah. Menurut Arkoun dan Hanafi, tidak terpaku pada A-Qur’an saja tapi mencakup taurat dan injil dengan menganggapnya sebagai kejadian-kejadian serupa yang saling berhubungan dengan fenomena Al-Qur’an. Pasalnya umat arab adalah pewaris agama-agama ibrahim: Yahudi, Kristen dan Islam.

Kita tidak berhenti mengulangi bahwa Yahudi, Kristen, dan Islam adalah anak-anak “ideologis”dari Ibrahim. Di ciptakan ragam bentuk kesadaran dan pemahaman timbal balik di atara pemeluk agama, dengan kesadaran bahwa fenomena-fenomena teologis  itu membentuk bagian sejarah pembebasan manusia (human salvation).

Tujuan akhir kajian adalah untuk memaparkan turats klasik sebagai pemikiran idenpenden yang bersumber dari wahyu atau akal atau dari pembangunan realitas. Tujuannya adalah menundukkan kitab-kitab itu kepada kritik metodologis yang berkarakter positivis, untuk sampai ke situ, harus di bebaskan terlebih dahulu benih-benih metodologis primitif di dalam kitab-kitab suci tersebut. Dalam konteks Muhammad Arkoun, maka dia memusatkan sisi “mitologis” yang berhubungan dengan kisah Al-Qur’an. Pasalnya, Al-Qur’an dari perspektif mitologis hampir menyatu dengan kitab-kitab suci lain. Menjadi perhatian orientalis dalam periode yang panjang.

Sejumlah tren orientalis telah memusatkan perhatian kepada sejarah perbandingan agama dan kisah-kisah historis. Menguatka pendapat bahwa Al-Qur’an tidak lebih dari proses reproduksi dari kitab-kitab suci terdahulu. Tradisi-tradisi Yahudi dan Kristen akan tampak pada kisah-kisah Al-Qur’an tenang Musa, Ibrahim, dan Isa yang membenarkan tema-tema para pemeluk agama baru. Penulis Buku “Le plobleme de mahomet” (mu’dhalah muhammad), R. Blachere mengatakan bahwa yang menarik perhatian para orientalis adalah kesamaan yang muncul antara kisah-kisah ini dan kisah-kisah yahudi dan kristen. Pengaruh kristen sangat jelas sekali di dalam surah makkiyah yang pertama, sebab banyak sekali menyikap perbandingan Al-Qur’an  dengan teks-teks yang tidak resmi seperti injil sempalan yang menguasai masa itu dengan cukup kuat.

Ajaran-ajaran Al-Qur’an bahkan pada jenjang awalnya adalah sebuah potret dari mazhab pilihan pencampuran dan Yahudi dan Kristen. Adanya perhatian khusus Al-Qur’an kepada Taurat dan Agama Yahudi, Contohnya kisah surah yusuf adalah sebuah penjelmaan dari kisah heroik tokoh taurat. Sikap Al-Qur’an itu menunjukan sebuah kedekatan yang hangat anatar islam dan yahudi. khususnya ketika Al-Qur’an memuji kontribusi Patriark ini untuk memulai penyembahan kepada ka’bah pada masa silam.

Membebaskan benih-benih kisah mitologis, ayitu dengan mengembalikannya kepada asal yang menyatukannya setelah mengeliminasi keyakinan-keyakinan yang saling bertentangan yang di sematkan atas nama agama. Kitab-kitab suci secara keseluruhan dalam satu perspektif dan sederajat, pasti akan menentukan sumber asal yang menyatukannya di dalam taurat, karena di anggap paling awal (tertua)

Menurut Arkoun, kita tidak perlu melihat fenomena ketiga agama samawi itu dengan standar yang membedakan antara satu dengan yang lain atau memuji pada suatu agama dan menuding agama yang lain telah terdistorsi (tahrif). Yang seharusnya dilakukan para pemeluk agama itu adalah meninggalkan klaim-klaim bahwa hanya agamanya saja yang paling istimewa, dan melihat agama lain tidak memiliki kebenaran sama sekali.

Visi kajian yang menjadi titik tolak pembacaan baru adalah mempermudah proses mencegah penyebaran ideologi (ihtiwa) islam dengan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah cuplikan dari kitab-kitab suci sebelumnya. Misinya ingin di capai gerakan orientalis sepanjang sejarahnya yang panjang. Terealisasikannya otomatis menjadi Al-Qur’an, pada titik akhirnya, tidak lain hanya gambaran taurat yang reduktif dan distorsif. Beranggapan bahwa Rasulullah tidak lebih hanya melakukan reproduksi dari apa yang pernah mendominasi lingkungan para pendeta Yahudi di Jazirah Arab.

Para pendakwah pembacaan baru terhadap Al-Qur’an sering mengulang-ngulang kritikan itu tidak lebih hanya aksi pamer saja. Contohnya yang paling ideal yang di serukan para orientalis meski berbeda-beda aliran. Ketika mengkritik orientalis, maka keluarlah sanjungan-sanjungan kepada pemikiran kritis orientalis, yang paling buruk mereka suka memberikan pembenaran-pembenaran. Contohnya ungkapan Hanafi, mungkin sebab utamanya adalah lingkungan eropa yang menjadi tempat tumbuhnya. Hal itu karena lingkungan eropa sendiri melewati keharus hajat yang dibatasi oleh kondisi sumbernya dan perkembangan peradabannya.

Kitab at-turats wa at-tajdid  yang ditulis Hanafi untuk menyerang para orientalis, tapi dia sendiri memuji Von Grounboum (1909- 1972), Henry Corbin (1903-1978), dan Wilfred Cantwill smith (1916-2000). Bahkan kajian Hanafi tentang as-Suhrawardi (545-586 H) terhadap kajian yang di adopsiny dari Henry Corbin, orientalis yang terobsesi oleh tasawuf al-ismailiyah dan tenggelam oleh aliran-aliran Bathiniyah, karena itulah ia fokus menerbitkan turats bathiniyah. Adapun Arkoun, maka terlihat sekali inferioritasnya di hadapan etnosentrisme orientalis. pasalnya, hampir tidak pernah muncul satupun karangannya yang sepi dari pemujaan hasil-hasil orientalis.

Pemikiran kajian kritis Al-Qur’an dan semua proyek ragam Al-Qur’an yang dilakukan oleh kelompok-kelompok islam, apapun mazhabnya. Kritik para penganjur pembacaan baru kepada orientalis tidak lain adalah kritik yang bertujuan menampakan solidaritas bersama bersama karya mereka lebih dari harapan menampakkan reduksi-reduksi ideologis mereka. kemana saja manusi berjalan, ia akan menemukan ide sama yang di ulang-ulang tanpa bosan, apakah itu berhubungan dengan Al-Qur’an, Hadits maupun problem-problem sosial yang berkaitan dengan keduanya.

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s