WANITA DAHULU DAN SEKARANG

Standar

Sebagian orang beranggapan bahwasannya kesetaraan gender adalah hal harus segera ditegakkan karena menyangkut kebebasan, kemerdekaan dan kenyamanan bagi kaum wanita. Istilah ini hadir seolah-olah wanita itu tertindas dan sangat terpuruk. Lantas bagaimanakah Islam memandang wanita? Bagaimana wanita dalam Islam itu? Artikel ringkas ini merupakan nukilan tulisan (dari pemilik email: ruslievendi@yahoo.com).

Artikel ini merupakan artikel pembuka untuk kategori wanita. Insya Allah akan dilanjutkan dengan artikel-artikel lainnya.

       I.            Strategi dan Usaha Barat dalam Menghancurkan Islam

Allah berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (البقرة: 120)

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kalian hingga kalian mengikuti agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar), dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqoroh: 120)

Dalam ayat ini, Allah telah mengabarkan bahwa usaha orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam menghancurkan Islam tidak akan pernah terhenti sampai umat Islam tunduk kepada mereka, dan mengikuti mereka dalam segala hal. Dalam sebuah hadist, disebutkan:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ » قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »[1]

 [متفق عليه، رواه البخاري في كتاب الإعتصام بالكتاب والسنة، باب قول النبي صلى الله عليه و سلم (لتتبعن سنن من كان قبلكم)، رقم: 7320 ومسلم في كتاب العلم، باب اتباع سنن اليهود والنصارى، رقم: 2669]

Dari Abu Sa’id ibn Al-Khudri, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga jika mereka masuk ke dalam lubang biyawak, kalian pun akan mengikutinya…” (muttafaq ‘alaih)

Setelah perang Salib berakhir, musuh-musuh Islam menyadari bahwa umat Islam tidak akan dapat dikalahkan dengan senjata dan perang, tetapi dengan mengubah cara berfikir generasi penerus mereka. Oleh karena itu, pada pertengahan abad ke-19, setelah kerajaan Islam Utsmani runtuh, negara-negara barat mulai mendirikan sekolah-sekolah bermanhaj barat di negara-negara Islam. Lulusan-lulusan dari sekolah-sekolah tersebut selanjutnya dikirim ke negara-negara barat untuk “cuci otak”. Setelah dibekali dengan pemikiran-pemikiran barat, para pelajar tersebut dikembalikan ke negara asal mereka dengan predikat cendikiawan muslim, namun membawa misi merubah masyarakat Islami menjadi masyarakat berperadaban barat[2].

Diantara cendikiawan muslim hasil didikan barat adalah Qosim Amin yang menyeru kepada Emansipasi Wanita dan Kesetaraan Gender, yang pada intinya adalah seruan agar para wanita muslimah meninggalkan jilbab mereka, agar para wanita muslimah keluar dari rumahnya, dan bercampur bebas dengan lawan jenisnya[3].

    II.            Wanita di Luar Islam Dahulu dan Sekarang

Sebelum Islam, keadaan wanita sangat memprihatinkan, perlakuan terhadap meraka sangat tidak manusiawi. Berikut beberapa gambaran perlakuan masyarakat terhadap wanita sebelum Islam[4]:

Dalam adat masyarakat Arab Jahiliyah, anak perempuan adalah suatu aib. Oleh karenanya, kedzoliman terhadapnya dirasakannya sepanjang hidupnya. Setelah lahir, ia dikubur hidup-hidup. Jika orang tuanya memeliharanya hingga ia dewasa, ia terancam menjadi rampasan perang untuk kemudian diperbudak. Jika ia dikawini, ia terancam ditelantarkan dan tidak mendapatkan nafkah karena poligami pada saat itu tidak mengenal batas. Ketika suaminya meninggal, ia bukan hanya tidak mendapat warisan, tetapi malah diwariskan bersama harta warisan lain[5].

Dalam masyarakat Romawi, kaum lelaki mempunyai kekuasaan mutlak atas kaum wanita hingga seorang suami dapat membunuh isterinya dengan tuduhan sepele. Sedangkan dalam masyarakat India, jika seorang lelaki meninggal dunia, maka isterinya harus membakar dirinya bersama jenazah suaminya. Dalam masyarakat Cina, wanita adalah budak ayahnya, dan setelah menikah, ia adalah budak suaminya. Di Perancis, pada tahun 586 M, sempat terjadi perdebatan apakah kaum wanita dianggap sebagai manusia atau bukan, apakah kaum wanita mempunyai ruh atau tidak, dan jika mempunyai ruh, apakah ruh di jasadnya itu ruh hewan atau ruh manusia, hingga akhirnya, ditetapkanlah bahwa wanita mempunyai ruh manusia tetapi tercipta untuk melayani kaum pria.

Dalam suatu aliran dalam agama Yahudi, seorang ayah dapat menjual anak perempuannya. Selain itu, wanita haid dalam kepercayaan mereka adalah suatu najis (kotoran). Oleh karenanya, apabila salah seorang diantara wanita kaum tersebut haid, maka mereka akan mengeluarkannya dari rumah dan tidak memberinya makan dan minum. Sedangkan dalam kepercayaan agama Nasrani terdahulu, wanita dianggap pintu setan, dan berhubungan dengannya adalah suatu perbuatan kotor.

Itulah fakta sejarah. Lalu, bagaimana dengan perlakuan masyarakat luar Islam terhadap kaum wanita pada zaman sekarang? Berikut beberapa uraian tentang hal tersebut:

Pada awal abad ke-19 M, hukum pemerintahan di Inggris masih membolehkan penjualan wanita[6].

Pada tahun 1420 H, ditetapkan bahwa 40 % dari wanita karir di Kanada mengalami kekerasan seksual. Pada tahun yang sama, sebesar 70 % dari jumlah wanita yang bekerja pada instasi pemerintah di Amerika Serikat mengalami kekerasan seksual[7].

Berdasarkan hasil penelitian pada tahun 1987, sebanyak 79 % dari pria Amerika melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap isterinya. Sedangkan pada tahun 1990, jumlah wanita Jerman yang mengalami tindak kekerasan oleh kaum pria mencapai 100 ribu jiwa[8].

Itulah gambaran masyarakat Barat yang “modern” yang “menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia”, masyarakat dengan peradaban ”Emansipasi Wanita” dan “Kesetaraan Gender”.

 III.            Di Bawah Naungan Islam

Sejarah manusia telah membuktikan bahwa tidak ada peradaban yang memperlakukan wanita sebaik Islam. Dalam Islam, wanita ditempatkan pada kedudukan yang sangat mulia, hak-haknya diakui dan dihargai, dan kehormatannya sangat dijaga. Ibu, isteri, anak perempuan, atau saudara perempuan, semuanya dimuliakan, dihormati, dan dijaga kehormatannya dalam Islam. Wahyu-wahyu Allah pun diturunkan dari atas langit ke tujuh untuk mengatur segala sisi kehidupan kaum Hawa sesuai dengan fitrahnya, melindunginya dari segala bentuk penindasan, dan menghindarkannya dari segala macam kedzoliman yang menghinakan harga dirinya.

 IV.            Daftar Pustaka

Al-Maktabah Asy-Syamilah, versi 3.41

Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori, Al-Jami’ Ash-Shohih, Al-Qohiroh: Al-Mathba’ah As-Salafiyah wa Maktabatuha, 1400 H

Muslim ibn Al-Hajjaj An-Naisaburi, Shohih Muslim, Ar-Riyadh: Dar Thoyyibah, 1427 H/ 2006 M.

Shofiyurrahman Al-Mubarokfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum,Terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1414 H/ 1997 M

 


[1] Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori, Al-Jami’ Ash-Shohih, Al-Qohiroh: Al-Mathba’ah As-Salafiyah wa Maktabatuha, 1400 H, Cet. I, Jilid 4, Hal. 368. Lihat pula: Muslim ibn Al-Hajjaj An-Naisaburi, Shohih Muslim, Ar-Riyadh: Dar Thoyyibah, 1427 H/ 2006 M, Cet. I, Jilid 2, Hal. 1230.

[2] Naha Qurthuji, Al-Mar’ah Baina At-Tahrir wat Taghrir, Hal. 8. (Al-Maktabah Asy-Syamilah 3.41). Lihat pula: Masfar ibn ‘Ali Al-Qahthani, Huquq Al-Mar’ah Fi Zhill Al-Mutaghoyyirot Al-Mu’ashiroh, Hal 15. (Al-Maktabah Asy-Syamilah 3.41)

[3] Ibid.

[4]  Masfar ibn ‘Ali Al-Qahthani, Huquq Al-Mar’ah Fi Zhill Al-Mutaghoyyirot Al-Mu’ashiroh, Hal 15. (Al-Maktabah Asy-Syamilah 3.41). Lihat pula: Rabi’ ibn Hadi ‘Umair Al-Mudkholi, Al-Huquq wal Wajibat ‘Ala Ar-Rijal Wa An-Nisaa Fil Islam, Hal. 2. (Al-Maktabah Asy-Syamilah 3.41)

[5] Shofiyurrahman Al-Mubarokfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum,Terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1414 H/ 1997 M, Cet. I, Hal. 31.

[6] Rabi’ ibn Hadi ‘Umair Al-Mudkholi, Al-Huquq wal Wajibat ‘Ala Ar-Rijal Wa An-Nisaa Fil Islam, Hal. 3. (Al-Maktabah Asy-Syamilah 3.41)

[7] Masfar ibn ‘Ali Al-Qahthani, Huquq Al-Mar’ah Fi Zhill Al-Mutaghoyyirot Al-Mu’ashiroh, Hal 24. (Al-Maktabah Asy-Syamilah 3.41)

[8] Ibid, Hal. 12.

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s