AKIBAT JIKA TIDAK ADA DA’WAH

Standar

           I.            PENDAHULUAN

Islam adalah agama da’wah dan mempertahankan kebebasan berda’wah itu secara konsekwensi.[1] Da’wah merupakan sarana utama yang dapat memperbaiki dan menjaga seluruh alam dari segala hal yang dapat merusaknya. Hal itu tidak mungkin terwujud melainkan dengan menjaga aqidah, kepribadian, dan akhlak ummat manusia. Itu semua bisa terealisir dengan amar ma’ruf nahyi munkar.[2] Media da’wah dari waktu ke waktu harus ditata sehingga tidak ada satu pun lingkungan masyarakat yang tidak terjangkau da’wah. Program pembangunan apapun bila ingin berhasil cepat harus didukung oleh sebuah lembaga penelitian yang selalu mengadakan check dan rechecking sehingga setiap langkah harus selalu tepat pada sasarannya lebih-lebih dalam bidang da’wah.[3] Keyakinan agama mempengaruhi perilaku manusia, bukan hanya secara individual, tetapi juga sosial.[4]


Ruang lingkup dakwah dan penerangan agama adalah menyangkut masalah pembentukan sikap mental dan pengembangan motivasi yang bersifat positif dalam segala lapangan hidup manusia.[5] Tugas da’i ialah menyeru, menyampaikan dan memberi tahu tentang pesan-pesan kebenaran dari Allah dan Rasul sebijaksana mungkin.[6] Jalan da’wah itu sukar dan panjang. Seorang da’i harus mengetahui dengan baik maksud dan tujuan da’wah agar da’wah tersampaikan sesuai dengan yang diharapkan.

      II.            AKIBAT TIDAK ADA DA’WAH

Dakwah dalam arti amar ma’ruf nahyi munkar adalah syarat mutlak bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup masyarakat. Ini adalah kewajiban sebagai pembawaan fithrah manusia sebagai makhluk social, dan kewajiban yang ditegakkan oleh risalah, oleh Kitabullah dan sunnah Rasul. Bagaimana suatu masyarakat akan selamat bila para anggotanya sama-sama diam, bersikap masa bodoh, bila melihat sesama anggota masyarakat melakukan kemungkaran.[7]

Pada pembahasan ini saya mengambil satu hadits yang berisi tentang permisalan seputar judul besar yang telah saya tuliskan di atas, yaitu, Rasulullah SAW bersabda:

” مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا “

“Perumpamaan orang yang teguh menjaga larangan-larangan Allah SWT dan orang yang melanggar larangan-larangan-Nya seperti sekelompok orang yang berebut naik ke dalam sebuah perahu . maka sebagian mereka dapat bagian atas kapal dan sebagian lainnya mendapat bagian bawah. Para penumpang yang berada di bagian bawah kapal jika memerlukan air harusmelewati para penumpang yang berada di atas. Kemudian penumpang yang berada di bawah itu berkata: “Seandainya kami lubangi tempat duduk kami satu luang saja, maka kami tidak usah lagi mengganggu para penumpang yang berada di atas”. Apabila penumpang lainnya membiarkan mereka dengan apa yang mereka kehendaki, niscaya hancurlah seluruh penumpang kapal. Dan apabila penumpang lainnya mencegah tangan mereka dari upaya melubangi kapal, niscaya selamatlah seluruh penumpang kapal”.[8]

Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin berkata[9] tentang hadits yang ia nukil dari Nu’man bin Basyir Al-Anshory r.a. dalam bab “Al-Amru bil-Ma’ruf wan-Nahyu ‘anil-Munkar”, dari Nabi saw bahwasannya beliau bersabda: “ مثل القائم في حدود الله والواقع فيها”

Kata القائم di dalam hadits ini adalah orang yang menegakkan Diinullah dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai pemeluk Diin, ia meninggalkan hal-hal yang dilarang. Dan الواقع dalam hadits ini adalah orang yang mengerjakan hal-hal yang dilarang atau meninggalkan kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan. Perumpamaan kedua orang tersebut seperti sekelompok orang yang berebut kesempatan untuk menaiki perahu, atau disebut juga berundi, siapa yang akan berada di bagian atas kapal? Maka jadilah diantara mereka yang berada di kapal bagian atas dan kapal bagian bawah. Dan orang-orang yang berada di bagian bawah jika memerlukan air atau mencari air untuk minum, mereka akan melewati para penumpang yang ada di bagian atas, mereka (para penumpang yang dapat bagian bawah) pun berkata: “Seandainya kami lubangi tempat duduk kami”, yaitu jika kami melubanginya satu lubang saja di tempat kami duduk maka kami akan mengambil air dari lubang tersebut hingga kami tidak mengganggu penumpang yang berada di bagian atas. Dan inilah yang mereka bisa dan mereka inginkan.

Kemudian Nabi saw bersabda: ” فإن تركوهم وما أرادوا هلكوا جميعاً”

“Apabila penumpang lainnya membiarkan mereka dengan apa saja yang mereka kehendaki, niscaya hancurlah seluruh penumpang kapal”

Karena mereka apabila melubangi kapal dengan satu lubang saja di bagian bawah kapal akan masuk darinya air kemudian tenggelamlah kapal itu.

“وإن أخذوا على أيديهم نجوا ونجوا جميعا”

“Tetapi apabila mereka mencegah dengan tangan mereka untuk berbuat demikian maka semua yang ada di kapal itu akan selamat.”

    III.            KESIMPULAN

Manusia adalah makhluk yang diberi kelebihan berupa akal. Tapi di samping akal itu manusia juga tak terlepas dari hawa nafsunya. Orang yang pintar dan cerdas belum tentu selamat jika ia selalu menggunakan nafsu dalam mengambil keputusan dan menggunakan akal untuk mencari jalan bagaimana melakukan suatu yang didesak nafsu. Tidak dapat dibayangkan jika keadaan seluruh manusia di bumi seperti ini. Penulis hanya mampu menggambarkan bahwa tidak akan ada kenyamanan dan kondisi alam pun tak seimbang. Wal ‘iyaadzu billaahi.

Permisalan dalam hadits diatas menunjukkan bahwa jika orang-orang yang berakal dan para pemilik ilmu dan Diin mencegah para orang yang bodoh dan tak tahu apa-apa sesungguhnya orang yang berakal itu telah menyelamatkan seluruh manusia di bumi ini, namun jika sebaliknya malah meninggalkan dan membiarkan orang-orang bodoh itu melakukan apa yang mereka kehendaki biscaya binasalah semuanya (ini adalah isyarat sangat pentingnya da’wah itu dan akan banyak kesrusakan jika tidak ada da’wah). Allah berfirman di dalam surat:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfal: 25)

    IV.            DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan terjemahnya

Ahmad Mubarok, Psikologi Da’wah, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008, cet. IV, hal. 97.

Al-Maktabah Asy-Syamilah versi 3.47

E.Z. Muttaqin dalam: Koordinasi Da’wah Islam, 1986, hal. 93-94.

Fawaz bin Hulail As Suhaimi, Usus Manhaj As Salaf fid Da’wah ilallah, Terj. Abu Zuhail Muhammad Zuhal, Jakarta: Griya ilmu, 2011, cet. II, hal. 45.

Hasanuddin Abu Bakar, Meningkatkan Mutu Da’wah, Jakarta: Media Da’wah, 1999, cet. I, hal. 6.

H.M. Arifin, Psikologi Da’wah, Jakarta: PT. Bumi Perkasa, 2004, cet. VI, hal. 4.

Isa Anshary, Mujahid Da’wah, CV Diponegoro, 1964.

M. Natsir, Fiqhud Da’wah, Jakarta: Yayasan Capita Selecta Da’wah dan Media Da’wah, 2008, cet. VIII, hal. 121-122


[1] Isa Anshary, Mujahid Da’wah, CV Diponegoro, 1964.

[2] Fawaz bin Hulail As Suhaimi, Usus Manhaj As Salaf fid Da’wah ilallah, Terj. Abu Zuhail Muhammad Zuhal, Jakarta: Griya ilmu, 2011, cet. II, hal. 45.

[3] E.Z. Muttaqin dalam: Koordinasi Da’wah Islam, 1986, hal. 93-94.

[4] Ahmad Mubarok, Psikologi Da’wah, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008, cet. IV, hal. 97.

[5] H.M. Arifin, Psikologi Da’wah, Jakarta: PT. Bumi Perkasa, 2004, cet. VI, hal. 4.

[6] Hasanuddin Abu Bakar, Meningkatkan Mutu Da’wah, Jakarta: Media Da’wah, 1999, cet. I, hal. 6.

[7] M. Natsir, Fiqhud Da’wah, Jakarta: Yayasan Capita Selecta Da’wah dan Media Da’wah, 2008, cet. VIII, hal. 121-122.

[8] Muhammad bin Isma’il Abu ‘Abdillah Al-Bukhori Al-Ja’fi, Shohih bukhori (Bab Hal Yaqro’u fil Qismah), Daar Thowqin Najah, 1422 H, cet. I, juz 3, hal. 139 (Maktabah Syamilah versi 3.47)

[9] Muhammad bin Sholih bin Muhammad Al-‘Utsaimin , Syarh Riyadhush Sholihin, Bab Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, Riyadh: Daari Wathn lin Nasyr, cet. I, 1426 H, juz 2 hal. 430 (Maktabah Syamilah versi 3.47)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s