KISAH NABI IBRAHIM ‘ALAIHISSALAM

Standar

PENDAHULUAN

Di antara sejarah yang seyogianya kita ketahui adalah sejarah para Nabi-nabi dan Rasul. Dalam kesempatan ini, insya Allah penulis akan mengangkat sebuah perjuangan da’wah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

        i.            Nasab Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Tarikh (250) bin Nahur (148) bin Sarugh (230) bin Raghu (239) bin Faligh (439) bin Abir (464) bin Syalih (433) bin Arfakhsyadz (438 bin Saam (600) bin Nuh ‘alaihissalam.[1]

<p class="MsoNormal"

style=”margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;”>Ibrahim lahir di kota Babil (Babilonia), Irak. Penduduk kota Babil menyembah berhala. Dan bapaknya termasuk orang yang ahli dalam membuat berhala. Ibrahim membantah penyembahan mereka, bahkan berencana untuk menghancurkan berhala-berhala itu. Peristiwa ini diabadikan dalam beberapa surat, di antaranya di QS. Al-Qashash ayat 83-99 dan juga terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 258-260.

      ii.            Sekilas Tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Kata uswah atau keteladanan dalam Al-Qur’an hanya ditujukan pada dua tokoh nabi yang sangat mulia, Nabi Ibrahim a.s. (Mumtahanah: 46) dan Nabi Muhammad saw. (Al-Ahzab: 21). Demikian juga gelar khalilullah (kekasih Allah) hanya disandang oleh kedua nabi tersebut. Begitu juga shalawat yang diajarkan Rasulullah saw. pada umatnya hanya bagi dua nabi dan keluarganya. Pilihan Allah ini sangat terkait dengan risalah yang telah dilakukan oleh keduanya dengan sangat sempurna.[2]

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)

    iii.            Agama Ibrahim ‘alaihissalam

Semenjak kecil beliau terbebas dari kemusyrikan bapak dan kaumnya. Ibrahim menjadi seorang yang hanif dan imam bagi manusia (An-Nahl: 120-121).

II.                DA’WAH NABI IBRAHIM ‘ALAIHISSALAM

1)      Da’wahnya pada ayah dan kaumnya

Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Allah s.w.t kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calun pembeli dengan kata-kata:” Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini?”

Pada masa Nabi Ibrahim, kebanyakan kaumnya menyembah lebih dari satu Tuhan dan menganut. Bintang, bulan, matahari dan patung-patung menjadi objek utama penyembahan. Sewaktu kecil nabi Ibrahim a.s. sering melihat ayahnya membuat patung-patung tersebut, lalu dia berusaha mencari kebenaran agama yang dianuti oleh keluarganya itu.

Pada waktu malam yang gelap, beliau melihat sebuah bintang (bersinar-sinar), lalu ia berkata: “Inikah Tuhanku?” Kemudian apabila bintang itu terbenam, ia berkata pula: “Aku tidak suka kepada yang terbenam hilang”. Kemudian apabila dilihatnya bulan terbit (menyinarkan cahayanya), dia berkata: “Inikah Tuhanku?” Maka setelah bulan itu terbenam, berkatalah dia: “Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, nescaya menjadilah aku dari kaum yang sesat”. Kemudian apabila dia melihat matahari sedang terbit (menyinarkan cahayanya), berkatalah dia: “Inikah Tuhanku? Ini lebih besar”. Setelah matahari terbenam, dia berkata pula: “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri (bersih) dari apa yang kamu sekutukan (Allah dengannya)”. Inilah daya logika yang dianugerahi kepada beliau dalam menolak agama penyembahan langit yang dipercayai kaumnya serta menerima Tuhan yang sebenarnya. Kisah tentang pencarian Tuhan ini bisa dilihat dalam Al-Quran surat Ash-Shaffat ayat 83-99.

            Da’wah yang pertama kali dilakukannya adalah da’wah kepada ayahnya. Ibrahim sangat bersemangat untuk mendakwahi bapaknya dan kaumnya agar hanya menyembah Allah saja. Ini adalah sunnah dakwah bahwa yang pertama kali harus didakwahi adalah orang tua dan keluarga, kemudian kaum dan penguasa.

Penduduk kota Babil memiliki tradisi merayakan Id setiap tahun dengan pergi keluar kota. Ibrahim diajak bapaknya untuk ikut, tetapi Ibrahim menolak dengan halus. Ia berkata, “Sesungguhnya Aku sakit.” (Ash-Shaaffat: 83-99). Dan ketika kaumnya pergi untuk merayakan Id, Ibrahim segera menuju penyembahan mereka dan menghancurkan dengan kampak yang ada di tangannya. Semua dihancurkan dan hanya disisakan satu berhala yang besar, dan kampak itu dikalungkan pada berhala itu. (Al-Anbiya’: 58)

Demikianlah, Ibrahim menghinakan penyembahan kaumnya. Sebenarnya mereka sadar akan kesalahan itu. Tetapi, yang berjalan pada mereka adalah logika kekuatan melawan kekuatan logika Ibrahim. Akhirnya mereka memutuskan untuk membakar Ibrahim (Ash-Shaaffat : 97; Al-Anbiya’: 68-70).

2)      Nabi Ibrahim dan Raja Namrud

Allah s.w.t berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 258 tentang perdebatan antara Nabi Ibrahim dan Raja Namrud: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah Telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”

Dalam taftsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat ini menjelaskan tentang perdebatan antara Ibrahim ‘alaihissalam dengan Raja Babilonia yang bernama Namrud bin Kan’an[3]

3)      Pengorbanan Ibrahim dan Keluarganya

Tidak ada pengorbanan yang lebih besar dari seorang kepala rumah tangga melebihi pengorbanan meninggalkan putra dan istri yang paling dicintainya. Tetapi itu semua dilakukan Ibrahim dengan penuh ikhlas menyambut seruan Allah, yaitu seruan dakwah. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an di surat Ibrahim ayat 37-40.

Bisa dilihat juga dalam riwayat Bukhari dari Said  bin  Jubair  bahwa Ibrahim a.s. meninggalkan putranya, Ismail, istrinya, Hajar, saat itu dalam kondisi menyusui. Ketika Ibrahim meninggalkan keduanya dan memalingkan wajah, Hajar bangkit dan memegang baju Ibrahim. “Wahai Ibrahim, mau pergi ke mana? Engkau meninggalkan kami di sini dan tidak ada yang mencukupi kebutuhan kami?” Ibrahim tidak menjawab. Hajar terus-menerus memanggil. Ibrahim tidak menjawab. Hajar bertanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu seperti ini?” Ibrahim menjawab, “Ya.’ Hajar berkata, “Kalau begitu pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.”

Tapi, itu bukan puncak pengorbanan Ibrahim dan keluarganya. Puncak pengorbanan itu datang dalam bentuk perintah yang lebih tidak masuk akal lagi dari sebelumnya. Ibrahim diperintah untuk menyembelih Ismail (Ash-Shaaffat: 102-109).

Kisah dan keteladanan Ibrahim a.s. memberikan pelajaran yang sangat dalam kepada kita bahwa pengorbanan akan melahirkan keberkahan. Ibrahim menjadi orang yang paling dicintai Allah, khalilullah, imam, abul anbiya (bapak para nabi), hanif, sebutan yang baik, kekayaan harta yang melimpah ruah, dan banyak lagi. Hanya dengan pengorbananlah kita meraih keberkahan.

Dari pengorbanan Ibrahim dan keluarganya, Kota Makkah dan sekitarnya menjadi pusat ibadah umat manusia sedunia. Sumur Zamzam yang penuh berkah mengalir di tengah padang pasir dan tidak pernah kering. Dan puncak keberkahan dari itu semua adalah dari keturunannya lahir seorang manusia pilihan: Muhammad saw., nabi yang menjadi rahmatan lil’alamiin.

III.             KESIMPULAN

a)      Kisah Nabi Ibrahim mencontohkan kita untuk senantiasa mentafakkuri alam semesta ini

b)      Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita untuk berdawah kepada keluarga terlebih dahulu.

c)      Ketaatan Ibrahim kepada perintah Allah agar membawa istri dan anaknya hijrah walaupun dalam keadaan sulit merupakan figure dari Nabi Ibrahim yang seharusnya kita contoh.

d)      Allah telah menjaga Hajar dan Ismail manakala Ibrahim meninggalkannya di tempat itu merupakan buah tawakkal Hajar dan Ismail.

e)      Berserah diri kepada perintah Allah tidak berarti kita tidak ada usaha. Hajar mencari sesuatu  yang bisa menjaga kelangsungan hidupnya dan hidup putranya,

f)       Seharusnya seorang dai  itu memberikan perhatian terhadap anaknya seperti Ibrahim yang selalu mengunjungi anaknya untuk mengetahui kondisi dan  keadaannya  dan  mengarahkan  kepada  sesuatu  yang  baik  baginya. 

g)      Seorang istri tidak selayaknya kufur karena  minimnya  rizki  dan  sulitnya  hidup bukan termasuk akhlak  orang-orang shalih.

h)       Doa orang shalih agar makanan dan minuman menjadi berkah, sebagaimana   Ibrahim mendoakan daging dan air bagi penduduk Makkah agar menjadi berkah.

i)        Saling tolong menolong di antara anggota keluarga dalam berbuat kebaikan, sebagaimana Ismail membantu bapaknya membangun Ka’bah.

IV.             REFERENSI

1.      Al-Qur-an dan terjemahnya

2.      Ibnu Katsir, Taftsirul Qur-aanil ‘Aazhim, Jaizah: Muassasah Qurthubah

3.      Ibnu Katsir, Qishoshul Anbiya, Terj. M. Abdul Ghaffar, Jakarta: PB. Islam Rahmatan, 2010

4.      Website:dakwatuna.com, 21 Juni 2011, 19.30


[1]Ibnu Katsir, Qishoshul Anbiya, Terj. M. Abdul Ghaffar, Jakarta: PB. Islam Rahmatan, 2010, hal. 157

[2].             http://www.dakwatuna.com, 21 Juni 2011, 19.30

[3]Ibnu Katsir, Taftsirul Qur-aanil ‘Aazhim, Jaizah: Muassasah Qurthubah, hal. 450

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s