FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN DA’WAH RASULULLAH SAW

Standar

Azizah az Zahra

 I.       PENDAHULUAN

Rasulullah SAW menjalani kehidupan dalam kancah peperangan yang seakan tidak ada hujungnya selama lebih dari dua puluh tahun. Selama itu pula beliau tidak pernah lalai terhadap suatu urusan tertentu, karena sibuk mengurusi urusan yang lain, hingga akhirnya da’wah Islam berhasil secara gemilang, merambah kawasan yang amat luas, sulit diterima nalar manusia. Seluruh jazirah Arab tunduk kepada da’wah Islam, debu-debu Jahiliyyah tidak lagi tampak di udara dan akal yang tadinya menyimpang kini menjadi lurus, sehingga berhala ditinggalkan bahkan dihancurkan. Udara Arab dipenuhi suara-suara tauhid, adzan untuk shalat terdengan memecah angkasa dan sela-sela gurun yang telah dihidupkan iman. Para pengajar Al-Quran pergi kea rah utara dan selatan, membacakan ayat-ayat di dalam kitab Allah dan menegakkan hukum-hukum-Nya.[1]

Sebelum ada da’wah Islam, ruh Jahiliyyah menguasai dunia, membuat perasaan dan jiwanya sakit, mengenyahkan nilai-nilainya, meliputinya dengan kegelapan dan perbudakan, menciptakan jurang pemisah antara kehidupan yang serba mewah dan kemiskinan, menyelimutinya dengan kekufuran, kesesatan dan kegelapan. Sekalipun di sana ada agama samawi, tapi agama ini sudah kehilangan taringnya, tidak lagi mempunyai kekuasaan, sudah tersusupi penyimpangan dan pengubahan, sehingga yang menyisa hanya upacara-upacara yang kaku tanpa memiliki kehidupan ruh. Setelah da’wah Islam tampil memainkan perannya dalam kehidupan manusia, maka ruh manusia bisa lepas dari ilusi dan khurafat, dari perhambaan dan perbudakan, dari kerusakan dan pembusukan, dari noda dan penyimpangan.[2]

Jika kita mencermati dan menelaah siroh beliau, maka kita akan mendapati da’wah Rasulullah SAW tidak lepas dari tantangan dan rintangan.

Da’wah merupakan sarana utama yang dapat memperbaiki dan menjaga seluruh alam dari segala hal yang dapat merusaknya. Hal itu tidak mungkin terwujud melainkan dengan menjaga aqidah, kepribadian, dan akhlak ummat manusia. Itu semua bisa terealisir dengan amar ma’ruf nahyi munkar.[3]

Rasulullah SAW berhasil memperluas da’wah Islam hingga bekasnya bisa dirasakan saat ini. Tentu untuk mendapatkan kesuksesan itu tidak melalui jalur yang mudah. Pastinya di balik itu semua ada faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan beliau. Kurang lebih ada tiga faktor utama yang amat dominan dalam tercapainya keberhasilan Rasulullah SAW dalam da’wah[4] yaitu:

R  Kesempurnaan Islam dan Komprehensifitasnya

R  Kepribadian Rasul Saw dan ketauladannya

R  Kebersamaan Allah dan Pertolongan-Nya

Dalam makalah ini penulis akan menjabarkan tentang ketiga faktor di atas. Yakni faktor utama yang amat dominan dalam tercapainya keberhasilan Rasulullah SAW dalam da’wah. Jika ada faktor-faktor lainnya, maka sesungguhnya tiga faktor inilah yang paling pokok.

  1. II.    KESEMPURNAAN ISLAM DAN KOMPREHENSIFITASNYA

Islam adalah satu-satunya agama yang diridhoi Allah SWT.[5] Apabila ada keyakinan di luar Islam maka keyakinan itu tertolak dan tidak diridhoi Allah SWT. Islam juga adalah agama yang sempurna.[6] Dikatakan sempurna karena memang ajaran Islam mencakup berbagai sisi kehidupan. Islam memuat aspek hukum –halal-haram, mubah-makruh, fardhu-sunnah—juga menyangkut masalah akidah, ibadah, politik, ekonomi, perang, damai, perundangan, dan semua konsep hidup manusia.[7]

Sebagai ajaran pamungkas dienul Islam memiliki karakteristik, diantara karakteristiknya yang disebutkan dalam Al-Quran dan Hadits:

z  رباني : sepenuhnya bersumber dari Rabb.

Islam adalah agama wahyu. Islam datang dari sisi Allah SWT. Apa-apa yang ada dalam ajaran Islam wajiblah dikerjakan karena memang kesemua itu bersumber dari sang Khalik. Kebenaran Islam yang bersifat Rabbany tidak disangkal lagi kebenarannya. Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS.61:9)

z  شامل : komprehensif

Islam bersifat komprehensif yakni menyeluruh. Maksud menyeluruh ini telah disebutkan diatas bahwa ajaran Islam itu mencakup berbagai sisi kehidupan. Islam memuat aspek hukum –halal-haram, mubah-makruh, fardhu-sunnah—juga menyangkut masalah akidah, ibadah, politik, ekonomi, perang, damai, perundangan, dan semua konsep hidup manusia. Dan sifat ini bisa kita temukan jika kita mengkaji lebih dalam lagi apa yang terkandung dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ayat yang berbicara tentang ini adalah Surah Al-Maidah ayat 3. Dalam ayat ini juga terkandung tentang karakteristik Islam, yaitu “sempurna”.

z  كامل  : sempurna

Sifat ini terkandung dalam Surat Al-Maidah ayat 3. Ayat ini turun setelah Rasulullah menyampaikan khutbah Haji Wada’.[8] Arti dalam ayat tersebut adalah:

“Hari inilah Kusempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian dengan Kucukupkan NikmatKu kepada kamu, dan yang Kusukai Islam inilah menjadi agama kamu.” (Al-Maidah:3)

z  عالمي : universal

Islam adalah ajaran yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW sebagai khotimul Anbiya. Allah mengutus nabi Muhammad SAW tidak lain adalah untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Dalam Al-Quran disebutkan:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS. Al Anbiya’/21:107]

Ayat ini membahas tentang sifat Islam itu sendiri, yaitu ’alamy atau universal. Kenapa dikatakan universal? Karena sesungguhnya ajaran Islam itu dapat diterima oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Dan universal ini berangkat dari sifat ajaran Islam yang ”fithry” atau mencakup fitrah kemanusiaan.

z  فطري : mencakup segala fithrah kemanusiaan

Islam tidak akan pernah bertentangan dengan fitrah dan akal manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Ar-Ruum: 30]

z  توازن  : yang berkeseimbangan

Islam adalah agama yang seimbang. Maksudnya ajaran-ajaran yang ada dalam Islam tidaklah berat sebelah. Contohnya saja Rasulullah SAW, ia berpuasa dan juga berbuka, ia juga menikah dan mengurus istri-istrinya, beliau juga shalat malam dan tidur. Dalam sebuah Hadits:

Datang tiga orang shahabat ke rumah istri Nabi SAW guna menanyakan tentang ibadah Nabi SAW. Ketika dikabarkan bagaimana ibadah beliau, seakan-akan mereka menganggapnya kecil. Mereka berkata: ‘Di mana posisi kita dibanding Nabi SAW? Sementara Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang’. Salah seorang dari mereka berkata: “Adapun aku, aku akan shalat malam semalam suntuk’. Yang satu lagi berkata: “Aku akan puasa sepanjang masa dan tidak pernah berbuka’. Yang lainnya mengatakan: “Aku akan menjauhi wanita maka aku tidak akan menikah selama-lamanya”. Datanglah Rasulullah SAW dan dikabarkan ucapan mereka itu kepada beliau. Maka beliau pun bersabda: “Apakah kalian yang mengatakan ini dan itu? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan paling bertakwa kepada Allah. Akan tetapi aku puasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur, dan aku menikahi para wanita. Siapa yang membenci sunnahku maka ia bukan termasuk orang yang berjalan di atas jalanku’.”[9]

  1. III.  KEPRIBADIAN RASUL SAW DAN KETAULADANNYA

Rasulullah SAW adalah manusia teladan. Seyogyanya kita sebagai seorang muslim menjadikan beliau idola. Kita juga harus selalu berusaha mencontoh kepribadian yang baik yang ada dalam dirinya. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. [QS. Al Ahzab/33:21]

Seorang da’i hendaknya memperhatikan siroh beliau. Darinya kita akan menemukan kesungguhan dan upaya Rasulullah SAW yang tidak pernah kenal lelah dalam gerak da’wahnya. Sebagai seorang manusia, Rasulullah tentu memiliki sifat manusiawi yaitu rasa sedih terhadap da’wah beliau yang tidak diterima oleh orang kafir, namun karena beliau dapat mengontrol dirinya, maka da’wah Islam terus berjalan. Allah SWT menggambarkan kepribadian beliau dalam firman-Nya:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At taubah/9:128)

 فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, Sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran). [QS. Al Kahfi/18:6]

Selain kepribadian di atas, Rasulullah SAW juga adalah seorang utusan yang merupakan sosok pengamal ajaran Islam yang paling sempurna. Rasulullah SAW memiliki akhlak yang mulia. Kemuliaan akhlaq beliau tertulis dalam firman Allah SWT:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

”Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung[QS. Al Qolam/68:4]

Rasulullah SAW tidak pernah cacat di masyarakatnya. Selain karena terlahir dari keluarga mulia, Nabi Muhammad SAW juga selalu dikenal hanya mengerjakan perbuatan yang mulia saja. Beliau memiliki prestasi yang diakui oleh ummatnya sejak usia belia.[10]

  1. IV.  KEBERSAMAAN ALLAH DAN PERTOLONGAN-NYA

Faktor kesempurnaan Islam dan kepribadian Rasulullah SAW memungkinkan lahirnya faktor utama yang ketiga yaitu faktor “kebersamaan Allah SWT dan pertolongan-Nya” yang memang hal itu telah menjadi janji Allah SWT yang tertulis dalam Al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu..” [QS. Muhammad/47:7]

Ayat di atas sama dengan ayat 40 dalam Surat Al-Hajj. Dalam Surat Al-Hajj ayat 40 itu tertera sifat Allah yaitu Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa. Allah menyatakan diri-Nya memiliki sifat Mahakuat dan Mahaperkasa. Dengan kekuatan-Nya, Allah menciptakan segala sesuatu lalu menetapkan kadarnya, dan dengan keperkasaan-Nya tidak ada yang dapat memaksa-Nya dan tidak ada pula yang dapat mengalahkan-Nya. Bahkan segala sesuatu tunduk dan membutuhkan-Nya. Dan siapa yang ditolong Yang Mahakuat dan Mahaperkasa, maka dia pasti menang dan musuhnya pasti kalah.[11]

Pertolongan Allah SWT akan datang tatkala hamba-Nya menolong agama-Nya. Allah selalu bersama orang-orang yang senantiasa menegakkan Islam. Sebagai seorang mu’min hendaknya kita selalu tegar dalam menghadapi para musuh Allah. Sesungguhnya mereka semua tidak ada apa-apanya di mata Allah. Setelah kita meyakini benar bahwa Islam adalah agama yang Haqq kemudian kita merealisasikannya dalam perbuatan kita dan senantiasa berda’wah dalam rangka menolong agama Allah ini, maka insya Allah pertolongan-Nya akan datang.

  1. V.    KEGIATAN DA’WAH MASA KINI

Faktor-faktor utama keberhasilan da’wah rasulullah saw itu tetap dan terus ada. Ia sudah menjadi realitas sierah nabi saw. Dan juga hendakna para da’i merenungi tiga factor yang telah tertera di atas untuk keberlangsunga da’wahnya. Ada hal-hal yag harus dilakukan da’i menyangkut tiga factor di atas dalam menunjang keberhasilan da’wahnya. Di bawah ini insya Allah akan dijabarkan hal-hal itu, diantaranya:

a). Hal-hal yang berkaitan dengan kesempurnaan Islam dan komprehensifitasnya:

1. Pemurnian pemahaman ajaran Islam

2. Pendalaman ajaran Islam

3. Pemastian dalam penukilan

4. Pengetahuan sejarah pemikiran Islam

5. Penguasaan gerakan-gerakan penentang Islam

B). Hal-hal yang berkaitan dengan kepribadian Rasul SAW dan ketauladannya

1. Pengayaan pemahaman sirah Nabi dan Shahabat

2. Kedisiplinan dalam akhlak Islami

3. Berpegang pada sunnah Nabi SAW

4. Pembelaan atas kepribadian Rasul SAW

5. Penyucian jiwa

C). Hal-hal yang berkaitan dengan kebersamaan allah dan pertolongan-Nya

1. Perasaan selalu dalam pengawasan Allah

2. Ikhlash beramal untuk Allah

3. Mengikuti manhaj rasul dalam berda’wah

4. Istiqamah

5. Sabar terhadap segala rintangan

Sudah tentu setiap strategi-strategi yag ada di atas memiliki sasaran yang dituju. Seoang da’i harus benar-benar bersungguh-sungguh dalam pencapaian sasaran itu dengan kegiatan-kegiatan da’wah yang telah dijabarkan di atas. Di antara sasara yang harus dicapai seorang da’ adalah:

  • Terbentuknya Fikrah Islamiyah yang benar
  • Pemuliaan Rasulullah saw dan menjadikannya sebagai tauladan
  • Beramal hanya untuk Allah dan berharap ridho-Nya
  1. VI.   KESIMPULAN

Da’wah pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengubah seseorang, sekelompok, atau suatu masyarakat menuju keadaan yang lebih sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rasul-Nya. Usaha mengubah suatu kelompok masyarakat dari satu keadaan kepada keadaan yang lebih baik tidak mungkin terlaksana tanpa rencana yang terpadu.[12]

Semua da’i memiliki potensi untuk berhasil dalam da’wahnya. Tapi sering kali kita melihat adanya kegagalan-kegagalan yang ditemui di lapangan. Boleh jadi orang-orang yang gagal dalam da’wah adalah mereka yang tidak pernah mendalami siroh Nabi Muhammad SAW dalam da’wah. Dan hendaknya kita benar-benar memahami langkah-langkah Rasulullah dalam mengemban Risalah hingga syi’ar Islam gemilang hingga kini. Semua itu tidak akan didapat kecuali telah memiliki kesungguhan dalam da’wah dan memahami factor-faktor di atas. Wallaahu A’lam bish Showwab.

  1. VII.                      DAFTAR PUSTAKA

 

  • Al-Quran dan Terjemahannya
  • Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia, Khiththah Da’wah Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia, Jakarta: Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia, 2007
    • Fawaz bin Hulail As Suhaimi, Usus Manhaj As Salaf fid Da’wah ilallah, Terj. Abu Zuhail Muhammad Zuhal, Jakarta: Griya ilmu, 2011.
    • Ibnu Katsir, Al-Mishbaah Al-Muniir Fii Tahdziibi Tafsiir Ibni Katsir, Terj. Tim Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2010.
    • Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhori, Shahih Bukhori, Kitab An-Nikah, Bab At-Targhib fin Nikah, Beirut: Al-Maktabah Al-Waqfiyyah, jilid IV.
      • Muhammad Husain Haikal, Hayaatu Muhammad, Terj: Ali Audah, Jakarta: Litera Antar Nusa, 2009.
      • Shofiyyur Rahman, Siroh Nabawiyyah, Terj. Kathur Suhardi, Ed. Yasir Maqosid, Jakarta: Al-Kautsar, 1997.
      • Wahyu Ilahi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007.
      • Website: http://www.dakwatuna.com/2007/04/146/islam-agama-sempurna/#ixzz3nBz5EAMQ, 9 Mei 2012

[1] Shofiyyur Rahman, Siroh Nabawiyyah, Terj. Kathur Suhardi, Ed. Yasir Maqosid, Jakarta: Al-Kautsar, 1997, cet. I, hal 542

[2] Ibid, hal. 543

[3] Fawaz bin Hulail As Suhaimi, Usus Manhaj As Salaf fid Da’wah ilallah, Terj. Abu Zuhail Muhammad Zuhal, Jakarta: Griya ilmu, 2011, hal. 45.

[4] Makalah ini merupakan tugas UTS semester IV akhwat STID Moh. Natsir, berupa penguraian jabaran dari materi Fiqhu Siroh Lid da’wah berupa Powerpoint yang diberikan oleh dosen pembimbing Agus Samsono, S.Sos.I dengan judul Faktor-faktor Keberhasilan Da’wah Rasulullah SAW.

[5] Lihat Al-Quran Surat Ali Imron ayat 19

[6] Lihat Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 3

[8] Bisa dilihat dalam karya: Muhammad Husain Haikal, Hayaatu Muhammad, Terj: Ali Audah, Jakarta: Litera Antar Nusa, 2009, hal. 561-567

[9] Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhori, Shahih Bukhori, Kitab An-Nikah, Bab At-Targhib fin Nikah, Beirut: Al-Maktabah Al-Waqfiyyah, jilid IV, hal. 2.

[10] Wahyu Ilahi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007, hal. 39

[11] Ibnu Katsir, Al-Mishbaah Al-Muniir Fii Tahdziibi Tafsiir Ibni Katsir, Terj. Tim Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2010, hal. 184

[12] Khiththah Da’wah Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia, Jakarta: Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia, 2007, hal. 1.

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s