Mother Monster Bikin Kacau Galau

Standar

Sebulan lalu, Rencana konser Lady Gaga sang Mother Monster yang akhirnya batal itu, sempat membuat tegangan urat dan banjir keringat warga Indonesia. Pro dan kontra seolah sudah jadi makanan sehari-hari di Indonesia sejak adanya rencana konser tersebut. Bagi para fansnya, artis setingkat dia hendaknya diperjuangkan kedatangannya karena akan menambah citra baik seni Indonesia dan lebih mengenalkan Indonesia di dunia Internasional.

Dari beberapa artikel surat kabar yang saya baca, para fans dari kalangan artis  menyanjung seni yang menjadi karakter Lady Gaga. Menurut mereka, seni itu bebas berekspresi. Yang ditampilkan sang idola adalah hasil dari kematangan dan kemantapan ekspresinya sehingga sah-sah saja apapun yang menjadi atributnya ketika konser. Yaya, saya tahu, orang yang berkata demikian adalah para penuntut dan pemuja kebebasan. Mereka itu selalu mencari argumen-argumen syaithony yang berlandaskan seni dan HAM untuk kepentingan perut semata.

Pribadi Lady Gaga sangatlah membuat saya keheranan terhadap orang-orang yang antusias untuk menghadirkan Mother Monster di panggung Indonesia. Dalam lagunya yang berjudul “Born This Way”, jelas-jelas secara nyata telah mempromosikan sex bebas baik dengan yang sejenis maupun lawan jenis. Coba kita lihat cuplikan lirik lagu karangannya yang juga dinyanyikannya:

“No matter gay, straight, or bi, Lesbian, transgendered life,

                                                       

I’m on the right track baby., I was born to survive…”            

Kira-kira artinya seperti ini:

“Tidak peduli gay, lurus, atau biseksual, Lesbian, kehidupan transgender,

Saya pada jalur yang benar, sayang.. Saya lahir untuk bertahan hidup..”

Ketika mendengar lagu ini, spontan saya merinding. Saya teringat kaum sodom yang telah diadzab oleh Allah SWT karena pembatahan mereka untuk taat dan meninggalkan kebiasaan sex mereka yang menyalahi fitrah. Jadi, dalam pandangan saya pribadi, mereka yang menanti-nanti kedatangan Lady Gaga tak lain adalah pecinta hawa nafsu semata. Mungkin ada yang bertanya, “kenapa penulis mengatakan demikian?”. Jawabannya sangat mudah. Coba saja perhatikan penggalan lagu di atas. Hanya orang yang maniak hubungan lawan jenis lah yang menganggap pernyataan lagu di atas sebagai sebuah seni. Mata dan hatinya dibutakan oleh nafsu dan keinginan binatang semata, bahkan Allah menyebutkan mereka itu lebih sesat.

Jika kita pernah tak sengaja melihat aksi Mother Monster di panggung yang ditampilkan di layar televisi atau juga tak sengaja melihat aksinya dalam video, pastilah kita akan menemukan betapa seronok cara berpakaiannya. Detak jantung siapa yang tak berdegup tak karuan ketika melihatnya? Ya, ada yang mengatakan bahwa setiap orang dapat menjaga iamnnya masing-masing. Urusan dia baik atau tidak adalah urusan Tuhan. Tapi apa benar kalimat itu? Apakah orang yang memberi pernyataan ini tidak memiliki rasa cemas bagaimana generasi kita berikutnya kalau generasi saat ini telah berani menghadirkan Monster Gaga? Tega tak tega, Mother Monster ataupun Little Monster, bagi saya, mereka semua hanyalah orang-orang yang kehausan dan selalu berusaha mencari-cari alasan untuk memenuhi libido mereka. Mungkin sekarang orang Indonesia tidak semuanya setuju opini ini, tapi jika lama-kelamaan tidak ada teguran dan tidak ada penolakan, tinggallah menunggu waktu melihat anak-anak mereka kelak, atau cucu-cucu mereka mempraktekan penggalan lagu “Born This Way” tersebut terang-terangan tanpa rasa malu.

Tarian Mother Monster kaya akan pornografi dan pornoaksi. Lihat saja video lagunya yang berjudul “Judas”. Orang yang normal secara biologis pastinya akan merasakan desiran-desiran keinginan kuat tuk memenuhi panggilan nafsunya akibat dari tampilan erotis Lady Gaga. Orang yang menjadikan iman sebagai benteng tentu menahan diri dan berbuat baik serta tidak menonton untuk kedua kalinya. Bagaimana dengan yang tidak demikian? Atau bagaimana anak-anak kita yang sengaja atau tak sengaja membuka internet dan melihat tarian-tarian erotisnya karena rasa penasaran dan keingintahuan mereka yang sangat tinggi?

Dari sinilah, sangat miris jika warga Indonesia yang kehidupannya diatur dengan norma-norma tak mampu mencegah kedatangannya, atau bahkan menggilainya hingga sangat berharap kedatangannya. Jadi, sangat wajar saya menilai para fans Lady Gaga itu tak lain adalah pecinta syahwat. Jika ada yang membantah dan mengatakan bahwa lebih parah pedangdut koplo Indonesia, maka saya ingin menegaskan bahwa, Indonesia saja masih sering dibuat ricuh oleh pedangdut itu, bagaimana jika yang tampil adalah Lady Gaga yang sering memunculkan kontroversi dalam dunia Internasional?

Bagaimana juga jadinya jika Lady Gaga datang ke Indonesia. Pastinya para muda-mudi Indonesia penganut ilu-iluan (pendapat ini dikemukakan oleh teman saya ketika dia memberi tahu saya bahwa Lady Gaga menonjolkan atribut lambang illuminati) akan dengan bebasnya berekspresi layaknya sang idola. Dan bisa jadi setelah konser itu, artis Indonesia akan ada yang berani tampil ‘terbuka lebar’ atas nama seni dan HAM.

Yupz, ‘alaa kulli haal, rasanya lega sekali Lady Gaga batal konser di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Bagi saya seorang muslimah menganggap bahwa ini semua tak lepas dari kasih sayang Allah kepada warga Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Wallaahu a’lam.

Kenapa ya masih banyak yang membela dan merasa kecewa atas batalnya konser Mother Monster di Indonesia padahal dari banyak realita dia merupakan sesosok bintang panas yang selalu menampilkan kesan-kesan mistik dalam video maupun konser-konsernya. Banyak sekali aksesoris penampilan Lady Gaga dalam setiap konsernya secara vulgar menonjolkan lambang paganisme sementara dalam UUD sendiri, tercermin bahwa Indonesia adalah penganut keyakinan KeEsaan Tuhan. Lantas, dimana citra bangsa Indonesia jika tak mampu mengusir Mother Monster. Dalam komentar-komentar sebuah status FB yang saya buat, teman-teman memberikan opininya seputar Indonesia dan Lady Gaga bahwa Indonesia adalah tanah airku dan Lady Gaga adalah penyembah setan, jadi, tanah airku tidak boleh jadi tempat penyembahan setan.

Oya, saya ingat satu hal penting, harga tiket konser Lady Gaga berkisar antara Rp.465.0000,- sampai Rp.2.250.000,-. Bukan harga yang murah, bukan? Dan terakhir saya baca di surat kabar, pembeli tiket itu sebanyak enam ribu orang. Innaalillaahi, mau kemana bangsa ini? Coba deh pikir, kalau saja setiap fakir miskin di Indonesia ini diberikan minimal harga termurah tiket itu saja, insya Allah bisa membantu mereka untuk modal hidupnya. Dan insya Allah demo berkurang dan perekonomian membaik.

Terakhir, julukan Lady Gaga adalah Mother Monster. Apa iya monster itu ada yang baik? Tidak. Semua monster pasti merusak. Bagi para fans yang bangga dipanggil ‘Little Monters’, apa mereka tidak sadar bahwa secara langsung atau tak langsung mereka telah menghidupkan dan memberi kekuatan sang Mother? Yang kekuatan itu tidak lain untuk kelangsungan misi merubah pola pikir, budaya dan gaya bangsa. Sudahlah, di Indonesia sudah banyak monster tikus, jangan ditambah-tambah lagi sama Mother Monster. Yang dari dalam saja sudah banyak pengacau kenyamanan dan membuat “galau”, mau ditambah lagi dengan memasukkan orang luar. Tepatlah saya katakan, bahwa persoalan Mother Monster itu hanya menambah Indonesia semakin “kacau-galau”. Ckckck..

***

Bintu Ahmad Al-Bakasiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s