SEJARAH DA’WAH DI INDONESIA

Standar

Resume oleh: Azizah az Zahra

Maaf dalam resume ini tidak dicantumkan footnote🙂

 

DA’WAH ISLAM DI INDONESIA

Da’wah di Indonesia sangat pesat dan cepat tersiarnya di Indonesia, di antara sebab-sebabnya yaitu:

  1. Ajaran Islam itu berbicara dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga mudah difahami dan diyakini.
  2. Banyaknya para pedagang Islam yang juga menyebarkan ajaran Islam itu sendiri
  3. Gerak da’wah yang berkelanjutan dari para ulama
  4. Adanya da’wah melalui perkawinan

Membahas tentang masuknya Islam di Indonesia, maka akan ada ditemui teori-teori masuknya Islam ke Nusantara, di antara teori itu adalah:

a.  Teori Makkah ( Abad ke 7)

Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M. Teori ini diungkapkan oleh Prof. Dr. Hamka pada Seminar Masuknya Agama Islam ke Indonesia di Medan (1963). Hamka mendasarkan teorinya pada fakta yang berasal dari Berita Cina Dinasti TangBerita ini mengungkapkan bahwa pada sekitar 618-907 M telah ada pemukiman pedagang Arab Islam di pantai Barat Sumatra. Dari berita ini, Hamka menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M dan berasal langsung dari Arab. Sedangkan berdirinya kerajaan Samudra Pasai pada 1275 M atau abad ke-13 M merupakan perkembangan agama Islam.

b. Teori Gujarat (India) ( abad ke 13)

Teori ini diungkapkan oleh Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje. Menurutnya Islam masuk melaui gujarat. Islam masuk melalui ajaran tasawuf yang berkembang di Gujarat. Daerah pertama yang dimasuki adalah kerajaan Samudra Pasai pada sekitar abad ke-13.

c.  Teori Persia

Islam tiba di Indonesia melalui para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke Nusantara sekitar abad ke 13 M.

Pendapat yang paling kuat adalah Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriyah atau ke abad ke 7-8 M, tetapi baru dianut oleh  para pedagang  Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan. Barulah Islam masuk secara besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik pada abad ke 13 dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini terjadi akibat arus balik kehancuran baghdad ibukota Abbasiyah oleh Hulagu. Kehancuran baghdad menyebabkan pedagang muslim mengalihkan aktivitas pedagang kearah Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara.



MUNCULNYA KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA

Kejayaan kerajaan Islam di Nusantara ini berkisar abad ke 13 sampai abad ke 16. Latar belakang munculnya kerajaan-kerajaan di dorong oleh maraknya lalu lintas perdagangan laut dengan perdagangan-perdagangan Islam dari Arab, India, Persis, Tiongkoak. Di antara kerajaan-kerajaan di Nusantara:

A. KESULTANAN PERLAK
Perlak adalah kerajaan islam tertua di Indonesia dan masa pemerintahannya cukup panjang. Berdiri pada tahun 840 berakhir pada tahun 1292. Raja yang perama adalah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225 – 249 H / 840 – 964 M). Sultan bernama asli Saiyid Abdul Aziz pada tanggal 1 Muhharam 225 H dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Perlak. Setelah pengangkatan ini, Bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah.
Kerajaan ini mengalami masa jaya pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263 M) atau sultan perlak yang ke 17. Setelah itu digantikan oleh Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdul Aziz Syah Johan ( 662-692H/ 12631292) atau sultan ke 18 dan sekaligus menjadi sultan yang terakhir, beliau wafat pada tahun 1292.
Kerajaan Perlak mengalami kemajuan pesat terutama dalam bidang pendidikan Islam dan perluasan dakwah Islamiah. Kerajaan ini sendiri juga sudah memiliki mata uang sendiri yaitu emas (dinar) dan perak serta dari tembaga atau kuningan.
Masa kemunduran kerajaan ini dikarenakan adanya perebutan kekuasaan perlak antara raja yang berkuasa dengan kelurga Sayid Abdul Azis. Selain itu juga, terdapat ketidak stabilan pemerintahan sehingga banyak pedagang yang mengalihkan kegiatannya ke tempat lain yakni ke Pasai.
B.      KESULTANAN SAMUDRA PASAI
Dengan kemunduran yang terjadi di Perlak, tampilah seorang penguasa local yang bernama Marah silu dari samudra yang berhasil mempersatukan daerah Samudra dan pasai. Kedua daerah tersebut dijadikan satu kerajaan dengan nama samudra pasai. Marah silu yang telah menganut agama Islam kemudian kemudian menggunakan gelar Sultan Malik al-Shalih sekaligus menjadi raja yang pertama. Samudra Pasai memiliki letak geografis yang strategis, sehingga berkembang menjadi kerajaan maritim yang mengusai pelabuhan-pelabuhan penting dipesisir pantai barat Sumatra serta berkembang sebagai Bandar transit.
Pada tahun 1297, Sultan Malik Al-Shalih meninggal pemerintahannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama Sultan Muhammad, yang lebih dikenal Sultan Malik Al-tahir. Pemerintahannya berlangsung hingga tahun 1326 M. Penggantinya adalah Sultan Ahmad, yang juga menggunakan nama Sultan Malik al-Tahir II. Pada pemerintahan Sultan Ahmad ini pelabuhan di Samudra Pasai, berkembang menjadi Bandar Transito.
Pengganti Sultan Ahmad adalah Sultan Zain al-Abidin atau bergelar Sultan Malik al-Tahir III. Masa pemerintahan Sultan Zain al-Abidin ini tidak banyak di ketahui. Ia diperkirakan memerintah hingga tahun 1405 M.
Kerajaan Hindhu Majapahit di Jawa pernah menyerang Samudra Pasai terjadi pada tahun 1361 M. Serangan tersebut dilancarkan oleh Majapahit karena khawatir dengan kemajuan yang dimiliki oleh Samudra Pasai. Namun demikian serangan tersebut tetap tidak menghambat gerakan Dawah agama Islam.
Samudra pasai merupakan pusat perniagaan penting dikawasan itu, dikunjungi oleh para Sadagar dari berbagai Negri, seperti Cina, india, Siam, Arab dan Persia. Komoditas utama adalah lada, samudra pasai mengeluarkan mata uang yang disebut dinar. Samudra pasai juga merupakan pusat perkembangan agama islam.
Pada awal abad XXV kesultanan ini mulai mengalami kemunduran terjadi karena kalah saing dengan kesultanan Malaka. Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi beberapa pertikaian di Pasai yang mengakibatkan perang saudara. Sulalatus Salatin menceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal tahun 1521 yang sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, dan tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.
C.       KESULTANAN MALAKA
Kerajaan ini didirikan oleh Parameswara, dia memeluk agama Islam dan mengganti nama Sultan Iskandar Syah. Secara geografis berada dijalur pelayaran dan perdagangan internasional, yaitu selat malaka (Semenanjung Malaya).
Kerajaan Malaka merupakan pusat perdagangan yang maju pada abad ke  15. Kerajaan ini memiliki masa kemundurannya karena tidak mampu mempertahankan wilayah Malaka dari serangan kapal portugis di pelabuhan Malaka pada tahun 1509M.
D.      KESULTANAN ACEH
Kesultanan Aceh berdiri menjelang keruntuhan dari Samudra Pasai yang pada tahun 1360 ditaklukan oleh Majapahit hingga kemundurannya di abad ke 14.
Didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528) dinobatkan menjadi sultan pada Ahad, 1 Jumadil awal 931 H/ 8 september 1507  terletak di utara pulau Sumatra dengan Ibu kota Kutaraja (Banda Aceh).
Pada masa Sultan Iskandar Thani ( 1636-1641), Aceh mengalami kemunduran, kemudian digantikan oleh permaisurinya (1641-1675). Kesultanan Aceh ini, pemerintahan sipilnya dibawah kaum bangsawan (teuku) dan Pemerintahan atas dasar agama islam  dibawah kaum ulama (tengku/teungku).
Pada masa pemerintahan Iskandar muda ( 1607-1636), Aceh mencapai zaman keemasan, yaitu dapat menguasai Johor, Pahang, kedah, perak disemenanjung Melayu dan Indragiri, Pulau Bintan dan Nias. Dan membuat undang-undang tata pemerintahan yang disebut adat mahkota alam.
Sejarah mencatat Aceh makin hari makin lemah akibat pertikaian antar golongan teuku dengan teungku, serta antara golongan syiah dan sunnal al jama’ah. Kemudian Belanda berhasil menguasai Aceh pada tahun 1904.
B.      Kerjaan Islam di Jawa

A.      KESULTANAN DEMAK ( 1500-1550)

Kerajaan ini memilikki wilayah yang luas dan membentang di pesisir utara jawa, bekas kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak merupakan Kerajaan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh para pendakwah Islam yang bergabung dalam  Wali Songo. Sebelum Demak berdiri sudah banyak keluarga istana majapahit yang masuk Islam. Pendirinya ialah Raden Fatah (1478-1518 M) berdasarkan Musyawarah Wali Songo sebagai Sultan Demak yang pertama, salah seorang murid dari Walisongo yang mendirikan Demak merupakan keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi), yaitu raja Majapahit.  Raja Majapahit dari perkawinannya dengan Putri Campa yang beragama Islam. Raden Fatah didukung oleh para wali yang sangat dihormati, karena bakat kepemimpinannya dan legitimasi yang sangat kuat sebagai salah satu keturunan Majapahit.

Demak berkembang sebagai pusat penyebaran agama Islam di Jawa dan sebagai pusat perdagangan. Kerajaan ini mengalami hambatan dari portugis dalam mengembangkan pemerintahannya. Masa kemundurannya terjadi karena perebutan kekuasaan terjadi antara anak dari pangeran Trenggono dengan adi pangeran Trenggono.

B.      KESULTANAN BANTEN ( 1524-1813)
Raja yang pertama adalah Sultan Hasanudin (1522-1570), pengaruh banten sampai ke Lampung, artinya Banten yang menguasai jalur perdagangan di Selat Sunda. Kerajaan Banten berkembang disebabkan beberapa faktor, yaitu:
·         Menjadi pusat perdagangan
·         Jatuhnya Malaka  ketangan Portugis (1511) sehingga para pedagang muslim berpindah jalur pelayaran melalui selat sunda
·         Banten merupakan penghasil beras dan lada
Kemudian diganti oleh putranya yaitu Pangeran Yusuf (1570-1580) pada masa pemerintahannya, Banten berhasil merebut Pajajaran dan Pakuan. Setelah itu diganti oleh Maulana Muhammad bergelar Kanjeng Ratu Banten, dalam menjalankan roda pemerintahannya di bantu oleh Mangkubumi. Dalam tahun 1959, dia memimpin ekspedisi  menyerang Palembang, dalam pertempuran itu maulana Muhammad gugur. Dan digantikan oleh putranya Abu ‘Imufakhir yang baru berusia lima bulan. Dalam menjalankan roda pemerintahannya di bantu oleh Jayanegara. Kemudian diganti oleh Abu Ma’ali Ahmad Rahmatullah. diganti oleh Sultan Agung Tirtayasa (1651-1692).

WALISONGO

Para wali, terutama Wali Songo sangatlah berjasa dalam Islamisasi di Jawa ini sehingga kerajaan pertama di Jawa yang pertama berdiri di Demak itu atas jasa mereka.

Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arabberarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut kata sana berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat. Pendapat lain yang mengatakan bahwa Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah).

Di antara nama-nama Walisongo, biografi singkat dan perjalanan dakwahnya adalah sebagai berikut:

A.                Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Ia diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik. Pada tahun 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, GresikJawa Timur.

B.                 Sunan Ampel, (Campa Aceh, 1401-Tuban, Jawa Timur, 1481)

Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat. Ia adalah putra Maulana Malik Ibrahim dari istrinya yang bernama Dewi Candra wulan. Ia merupakan penerus cita-cita Sunan Gresik. Dan ia juga terkenal sebagai perencana pertama kerajaan Islam di Jawa. Salah satu aktivitas dakwahnya adalah mendirikan pesantren di Ampel Denta dekat Surabaya. Sunan Ampel adalah pembina pertama dalam rangka mengkaderisasi tenaga da’i ke seluruh wilayah Nusantara. Di antara murid-muridya adalah: Sunan Giri, Raden Fatah, Raden Makhdum Ibrahim, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Maulana Ishak, dll. Raden Fatah, murid Sunan Ampel, ia bina untuk peran politik umat Islam di Nusantara karena ia juga merupakan sultan pertama kesultanan Islam di Bintoro Demak.

Sunan Ampel mendirikan Masjid Agung Demak tahun 1479. Pada awal islamisasi Pulau Jawa, Sunan Ampel ingin agar masyarakat menganut keyakinan yang murni.

C.                 Sunan Bonang (Ampel Denta, Surabaya, 1465-Tuban, 1525)

Sunan Bonang adalah putra dari Sunan Ampel. Ia terkenal dengan sebutan Raden Maulana Makhdum Ibrahim (Makhdum adalah gelat untuk ulama besar dan dihormati di India). Sunan Bonang terkenal sebagai pencipta geding pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam di pesisir utara Jawa Timur. Sunan Bonang menikah dengan Dewi Hiroh dan memiliki anak yang bernama Dewi Rukhil yang dinikahkan dengan Sunan Kudus. Ia belajar Islam di Pasai, Aceh, dan kembali ke Tuban, Jawa Timur untuk mendirikan pondok pesantren. Setelah Sunan Ampel wafat, pesantren yang didirikannya tidak ada pimpinan resmi, maka ia pun prakarsaimusyawarah untuk mencari siapa penggantinya.

Sunan Bonang menyebarkan Islam menyesuaikan dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang sangat menggemari wayang serta music gamelan. Setiap bait lagu diselingi dengan syahadatain. Gamelan yang mengiringinya adalah sekaten. Dakwah di Jawa Timur, terutama Tuban, berbasis pesantren. Dalam dakwahnya ia mengganti nama dewa-dewa dengan nama malaikat dalam Islam dengan maksud agar penganut Hindu-Budha mudah diajak masuk Islam. Ia mengajarkan ilmu kepada Raden Fatah putra raja Majapahit Prabu Brawijaya V, sultan pertama Demak. Sunan Bonang memeliki sebuah karya yang disebut Suluk Sunan Bonang, Primbon Sunan Bonang, yang tersimpan di Universitas Leidhen, Belanda.

D.                Sunan Giri (Blambangan, tengah abad ke-15, Giri, awal abad 16)

Ia terkenal dengan nama Raden Paku atau Sultan Abdul Fakih. Ia adalah putra Maulana Ishak. Ia juga merupakan saudara Sunan Gunung Jati. Raden Fatah juga saudaranya karena istri-istri mereka bersaudara.  Di masa kecilnya, Sunan Giri diangkat anak oleh Nyai Gede Malaka. Sunan Giri belajar di pondok pesantren Ampel Denta, teman Sunan Bonang.

Aktivitas dakwah Sunan Giri di daerah Giri dan sekitarnya, yang santrinya mayoritas berekonomi lemah. Ia mengkader para Da’I untuk dikirim ke luar pulau jawa, di antaranya Madura, Bawean, Kangean, Ternate, Tidore, dan lain-lain. Jiwanya adalah jiwa demokratis. Ia mendidik anak-anak kecil dengan permainan-permainan yang bersifat keagamaan, di antaranya Jelungan, jamuran, Gendi Ferit, Jor, Gula Ganti, Cublak-Cublak Suweng, Ilir-Ilir. Ia berpengaruh terhadap jalan roda kesultanan Demak.

E.                 Sunan Drajat (Ampel Denta, Surabaya, sekitar tahun 1470-Sedayu, Gresik pertengahan abad 16)

Nama aslinya Raden Kasim atau Syarifudin, makamnya di Sedayu Sumatera Selatan. Beliau adalah putra Sunan Ampel dari istri kedua yang bernama Dewi Candra Wati. Sunan Drajat merupakan peserta musyawarah dalam rangka memutuskan untuk mengadakan pendekatan cultural pada masyarakat Jawa dalam menyiarkan ajaran Islam. Perhatiannya sangat serius pada masalah-masalah social. Tema dakwahnya yaitu, gotong royong, tolong-menolong, menyantuni anak yatim dan fakir miskin ( semua itu merupakan proyek social agama Islam).

F.                  Sunan Kalijaga (akhir abad 14, pertengahan abad 15)

Sunan Kalijaga memilki jiwa yang besar, pandangan jauh, tajam pikiran, intelek, dan Ia merupakan suku Jawa asli. Nama aslinya adalah Raden Muhammad Syahid atau dikenal dengan Syaikh Malaya. Kali Jaga merupakan kata dalam lidah jawa, yang di ambil dari bahasa arab “ qadhi zaka” artinya pelaksana dan membersihkan.

Daerah operasi dakwahnya tidak terbatas. Ia adalah penasihat kesultanan Demak. Ia diberi hadiah sebidang tanah di sebelah tenggara Demak sebagai desa perdika (bebas pajak) untuk keturunan ahli waris dan keturunannya. Dalam dakwah kulturalnya Ia mengarang aneka wayang purwa atau kulit yang bercorak Islami

G.                Sunan Kudus (abad 15-Kudus, 1550)

Nama aslinya Ja’far Shadik, masa kecilnya dikenal dengan Raden Undung, Ia juga dikenal dengan nama Raden Amir Haji. Ia adalah putra Raden Usman Haji.

Dakwahnya di wilayah Kudus mencakup fiqh, ushul fiqh, tauhid, tafsir, dan logika. Ia dijuluki wali Al’Ilmi karena banyak ilmunya. Ia adalah wali yang belajar di Baitul Maqdis, Palestina. Ia mendirikan masjid di Daerah Loran tahun 1549 yang dinamakan Al-Manar.

H.                Sunan Muria (abad ke-15, abad ke-16)

Sunan Muria menyebarkan Islam di pedesaan pulau Jawa. Ia adalah putra Sunan Kalijaga. Nama aslinya adalah Raden Umar Sa’id, dikenal juga dengan Raden Prawoto.

Ia beroperasi dakwah di desa-desa terpencil. Ia memberikan kursus bagi kaum pedagang, nelayan, dan rakyat biasa.

I.                   Sunan Gunung Djati (Mekah 1448- Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat 1570)

Menurut Purwaka Caruban Nagari, sebagaimana dikutip dalam buku Ensiklopedi Islam, Sunan Gunung Jati sebagai seorang walisongo mendapat penghormatan dari raja-raja lain di Jawa. Ia adalah cucu raja Pajajaran.

TEORI KETURUNAN CINA

Sejarawan Slamet Muljana mengundang kontroversi dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa (1968), dengan menyatakan bahwa Walisongo adalah keturunan Tionghoa Indonesia Pendapat tersebut mengundang reaksi keras masyarakat yang berpendapat bahwa Walisongo adalah keturunan Arab-Indonesia. Pemerintah Orde Baru sempat melarang terbitnya buku tersebut.

KEJAYAAN DAN KERUNTUHAN KERAJAAN MAJAPAHIT

Majapahit adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Timur, Indonesia, yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya menjadi kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas di Nusantara pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan HinduBuddha terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.

Kejayaan Majapahit

Hayam Wuruk, juga disebut Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak wilayah. Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik ( Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina.

Meskipun penguasa Majapahit memperluas kekuasaannya pada berbagai pulau dan kadang-kadang menyerang kerajaan tetangga, perhatian utama Majapahit nampaknya adalah mendapatkan porsi terbesar dan mengendalikan perdagangan di kepulauan Nusantara. Pada saat inilah pedagang muslim dan penyebar agama Islam mulai memasuki kawasan ini.

Jatuhnya Majapahit

Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Majapahit memasuki masa kemunduran akibat konflik perebutan takhta. Pewaris Hayam Wuruk adalah putri mahkota Kusumawardhani, yang menikahi sepupunya sendiri, pangeran Wikramawardhana. Hayam Wuruk juga memiliki seorang putra dari selirnya Wirabhumi yang juga menuntut haknya atas takhta.[5] Perang saudara yang disebut Perang Paregreg diperkirakan terjadi pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Perang ini akhirnya dimenangi Wikramawardhana, semetara Wirabhumi ditangkap dan kemudian dipancung. Tampaknya perang saudara ini melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya di seberang.

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki Nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat Nusantara. Di bagian barat kemaharajaan yang mulai runtuh ini, Majapahit tak kuasa lagi membendung kebangkitan Kesultanan Malaka yang pada pertengahan abad ke-15 mulai menguasai Selat Malaka dan melebarkan kekuasaannya ke Sumatera. Sementara itu beberapa jajahan dan daerah taklukan Majapahit di daerah lainnya di Nusantara, satu per satu mulai melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.

MASA KOLONIALISASI ASING TERHADAP BANGSA INDONESIA

Jatuhnya wilayah Indonesia ke pemerintah Belanda disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain pada masa itu sifat-sifat kedaerahan lebih kuat sehingga mudah diadu domba. Letak geografis Indonesia yang berpulau-pulau dan dilatarbelakangi keadaan masyarakat yang miskin dan kurang wawasan pendidikan sehingga dapat mengakibatkan sulitnya berkomunikasi.

Bangsa Belanda pertama kali mengetahui letak Indonesia berdasarkan informasi dari Jay Huygen Van Linschoten, lalu Belanda pun melakukan ekspedisinya yang pertama. Belanda tiba di Indonesia pada tahun 1596 dengan mendarat di Banten dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Namun, karena kekerasan dan kurang menghormati rakyat maka mereka diusir dari Banten. Kemudian pada tahun 1598, pedagang Belanda datang kembali ke Indonesia di bawah pimpinan Van Nede dengan delapan kapal dipimpin Van Neck, Van Heemskerck datang di Banten dan diterima Sultan Banten Abdul Mufakir dengan baik. Sejak saat itulah terjalin hubungan perdagangan dengan pihak Belanda. Dan kemudian terbentuklah VOC.

Atas prakarsa dari 2 orang tokoh Belanda yaitu Pangeran Maurits dan Johan van Olden Barnevelt pada tahun 1602 kongsi-kongsi dagang Belanda dipersatukan menjadi sebuah kongsi dagang besar yang diberinama VOC (Verenigde Oost Indesche Compagnie) atau ‘Persekutuan Maskapai Perdagangan Hindia Timur’, pengurus pusat VOC terdiri dari 17 orang. VOC membuka kantor pertamanya di Banten yang dikepalai oleh Francois Witter .

Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala.

            VOC yang terbentuk tahun 1602 ini mendapat kekuasaan dan tanggung jawab memajukan agama. VOC mendukung penyebaran agama Kristen Protestan dengan semboyan “siapa punya negara, dia punya agama”. Kemudian VOC menyuruh penganut agama Katholik untuk masuk agama Kristen Protestan. VOC turut membiayai pendirian sekolah-sekolah dan membiayai upaya menerjemahkan injil ke dalam bahasa setempat. Di balik itu para pendeta dijadikan alat VOC agar pendeta memuji-muji VOC dan tunduk dengan VOC. Hal tersebut ternyata sangat menurunkan citra para zending di mata rakyat, karena VOC tidak disukai rakyat.

Penyebaran agama Islam di kepulauan Nusantara dirintis oleh para pedangang Arab dan India dengan damai. Sedangkan agama Kristen mulai diperkenalkan oleh Portugis dengan kekerasan yang berlandaskan jiwa pemebrontakan dan permusuhan tradisional terhadap Islam.

            Snouck Hurgronje meruapakan sosok yang berada di balik layar dalam upaya jahat yang di lakukan Belanda serta antek-anteknya untuk melancarkan misinya. Christian Snouck Hurgronje adalah Orientalis terkemuka akhir abad 19 dan abad 20 (W 1936) yang menjadi penasihat khusus Kolonial Belanda urusan (Islam) di Hindia Belanda. Dia menyamar jadi orang Islam untuk kepentingan kolonial Belanda. Secara garis besar, tugas orientalis yaitu, mengabdi kepada penjajah untuk kepentingan missinya. Snouck Hurgronje ini bermaskud untuk menukar Islam dengan kebudayaan Eropa, sehingga upaya kepentingan politik dan agama (Kristen) menjadi mudah.

Dilandasi semangat Tauhid dan keyakinan ajaran agama, kaum muslimin bangkit secara pribadi maupun kelompok menentang prilaku penjajah tersebut. Melihat hal ini Belanda mengadapinya dengan senjata. Perlawanan bangsa Indonesia yang memperoleh kemerdekaan terus-menerus. Di seluruh pelosok tanah air bangsa Indonesia yang sebagian besar kaum muslimin berjuan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajah itu. Perjuangan dan peperangan terus berkecamuk tidak ada habis-habisnya sampai proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dalam kurun waktu 350 tahun rakyat Indonesia mengalami berbagai penderitaan akibat penjajahan, antara lain :

  1. Pelaksanaan rodi atau kerja paksa siang dan malam
  2. Tanah rakyat dirampas untuk kepentingan penjajah
  3. Pemberontakan kepada Belanda mendapat hukuman badan
  4. Banyak penduduk yang dijual ke luar negeri
  5. Anak-anak pribumi dilarang bersekolah
  6. 6.    Rakyat dipaksa membuat jalan dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1.000 km.

 

MASA PENJAJAHAN JEPANG

Pada bulan Februari 1942 setelah menyerang Sumatera Selatan, Jepang selanjutnya menyerang Jawa dan akhirnya memaksa Belanda menyerah pada Maret 1942. Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942 setelah mengalahkan Belanda pada perang Dunia ke-II. Untuk menarik dukungan rakyat Indonesia, Jepang membolehkan berdirinya sekolah-sekolah agama dan pesantren- pesantren yang terbebas dari pengawasan jepang.

Sekolah yang didirikan di zaman Belanda di buka lagi, juga sekolah-sekolah swasta seperti sekolah agama Islam (madrasah atau pesantren),Taman Siswa, Muhammaddiyah, sekolah Kristen dan sekolah Cina (yang harus diselenggarakan langsung oleh pemerintah Jepang )

Sejak itulah Jepang kemudian menerapkan beberapa kebijakan terkait pendidikan yang memiliki implikasi luas terutama bagi sistem pendidikan di era kemerdekaan. Hal-hal tersebut antara lain:

  1. Dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan menggantikan Bahasa Belanda
  2. Adanya integrasi sistem pendidikan dengan dihapuskannya sistem pendidikan berdasarkan kelas sosial di era penjajahan Belanda.

Sementara itu terhadap pendidikan Islam, Jepang mengambil beberapa kebijakan antara lain:

1. Mengubah Kantoor Voor Islamistische Zaken pada masa Belanda yang dipimpin kaum orientalis menjadi Sumubi yang dipimpin tokoh Islam sendiri, yakni K.H. Hasyim Asy’ari.

2. Pondok pesantren sering mendapat kunjungan dan bantuan pemerintah Jepang;

3. Mengizinkan pembentukan barisan Hizbullah yang mengajarkan latihan dasar seni kemiliteran bagi pemuda Islam di bawah pimpinan K.H. Zainal Arifin.

4. Mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta di bawah asuhan K.H. Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir dan Bung Hatta.

5. Diizinkannya ulama dan pemimpin nasionalis membentuk barisan Pembela Tanah Air (PETA) yang belakangan menjadi cikal-bakal TNI di zaman kemerdekaan

6. Diizinkannya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) terus beroperasi, sekalipun kemudian dibubarkan dan diganti dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang menyertakan dua ormas besar Islam, Muhammadiyah dan NU. Lepas dari tujuan semula Jepang memfasilitasi berbagai aktivitas kaum muslimin ketika itu, nyatanya hal ini membantu perkembangan Islam dan keadaan umatnya setelah tercapainya kemerdekaan.

Kepercayaan jepang ini dimanfaatkan juga oleh umat islam untuk bagkit memberontak melawan jepang sendiri. Pada tanggal 8 juli 1945 berdirilah Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Kalau ditinjau dari segi pendidikan zaman Jepang umat Islam mempunya kesempatan yang banyak untuk memajukan pendidikan islam, sehingga tanpa disadari oleh jepang sendiri bahwa umat islam sudah cukup mempunyai potensi untuk maju dalam bidang pendidikan ataupun perlawanan kepada penjajah.

Disini beberapa tujauan pendidikan islam ketika zaman penjajahan antara lain:

a. Azaz tujuan muhamadiyah: mewujudkan masyarakat islam yang sebenarnya dan azaz perjuangan dakwah islamiyyah dan amar ma’ruf nahi Munkar

b. INS(Indonesische Nadelanshe School) dipelopori oleh Muhammad syafi’i (1899-1969) bertuan memdidik anak untuk berpikir rasional, mendidik anak agar bekerja sungguh-sungguh, membentuk manusia yang berwatak dan menanam persatuan.

c. Tujuan Nahdlatul Ulama’, sebelum menjadi partai politik memgang teguh mahzab empat, disamping mejadi kemaslahatan umat islam itu sendiri.

Namun, zaman Jepang sebenarnya memperlihatkan gambaran buruk mengenai pendidikan bila dibandingkan masa- masa akhir pemerintahan Hindia-Belanda, yang mana dimasa ini jumlah sekolah menurun, jumlah guru menurun, dan angka buta huruf tinggi sekali.

Menyerahnya Jepang  pada bulan Agustus 1945 menandai akhir Perang Dunia IIAngkatan Laut Kekaisaran Jepang secara efektif sudah tidak ada sejak Agustus 1945, sementara invasi Sekutu ke Jepang hanya tinggal waktu.

Walaupun keinginan untuk melawan hingga titik penghabisan dinyatakan secara terbuka, pemimpin Jepang dari Dewan Penasihat Militer Jepang secara pribadi memohon Uni Soviet untuk berperan sebagai mediator dalam perjanjian damai dengan syarat-syarat yang menguntungkan Jepang. Sementara itu, Uni Soviet juga bersiap-siap untuk menyerang Jepang dalam usaha memenuhi janji kepada Amerika Serikat dan Inggris di Konferensi Yalta.

            Pada 6 Agustus dan 9 Agustus, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Pada 9 Agustus, Uni Soviet melancarkan penyerbuan mendadak ke koloni Jepang di Manchuria (Manchukuo) yang melanggar fakta Netralitas Soviet–Jepang.

               Kaisar Hirohito campur tangan setelah terjadi dua peristiwa mengejutkan tersebut, dan memerintahkan Dewan Penasihat Militer untuk menerima syarat-syarat yang ditawarkan Sekutu dalam Deklarasi Potsdam. Setelah berlangsung perundingan di balik layar selama beberapa hari, dan kudeta yang gagal, Kaisar Hirohito menyampaikan pidato radio di hadapan rakyat pada 15 Agustus 1945.

Dalam pidato radio yang disebut Gyokuon-hōsō (Siaran Suara Kaisar), Hirohito membacakan Perintah Kekaisaran tentang kapitulasi, sekaligus mengumumkan kepada rakyat bahwa Jepang telah menyerah.

Perkembangan Islam pada masa Jepang ini sangat berarti, karena kebijaksanaan yang diberlakukan bangsa Jepang sedikit berbeda dengan Belanda, walau intinya tetap sama yaitu dalam mengeruk kekayaan Indonesia alias imperialisme. Dengan demikian Islam dapat lebih berperan dalam kehidupan kenegaraan walaupun tak sedikit pula tekanan dari pihak Jepang. Perkembangan Islam ini dapat dilihat dari keterlibatan umat Islam di dalam organisasi politik dan militer baik bentukan anak negeri maupun bentukan Jepang.

Sekolah-sekolah (pendidikan) pada zaman militer Jepang megalami kemunduran. Namun masalah yang paling penting adalah pada sekolah (penjajahan jepang 1942-1945) adalah nasionalis, bahasa pengantar serta pembentukan kader-kader untuk tugas berat dimasa mendatang. Adapun tujuan pendidikan islam yang pertama adalah menanamkan rasa keislaman yang benar guna kepentingan dunia dan Akhirat, dan yang kedua membelah bangsa dan tanah air untuk memdapatkan kemerdekaan bangsa itu sendiri ataupun kemerdekaan secara manusiawi.

 

AL-IRSYAD

Perhimpunan Al-Irsyad merupakan organisasi yang konsen dakwahnya dalam bidang pendidikan Islam. Diantara pendiri perhimpunan Al-Irsyad terdapat salah seorang ulama Makkah berkebangsaan Sudan yang menjadi tokoh sentral dalam pendirian perhimpunan tersebut yaitu syaikh Ahmad Surkati. Dalam kajian sejarah pembaharuan dan pemurnian Islam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa ia dikenal sebagai salah satu tokoh pencetusnya.

Ahmad surkati datang ke Indonesia pada Rabiul awal 1329 H bertepatan dengan maret 1911.  Kedatangan Ahmad Surkati ke Indonesia berkat hubungan korespondensi ulama Al-Azhar yang merekomendasikan namanya ke Jami’at Al-Khair, yaitu perhimpunan pertama masyarakat Arab di indonesia. Ahmad Surkati ditugasi memimpin berbagai madrasah, salah satunya yang terletak di Pekojan, Jakarta. Dengan manajemen yang baik dalam waktu setahun singkat (setahun) ahmad Surkati berhasil mengembangkan dan memajukan Jami’at Al-Khair, hingga banyak murid yang datang dari luar Jakarta .

Awalnya, Jami’at Al-khair mendatangkan Ahmad Surkati untuk memenuhi kebutuhan guru sekolah Jami’at Al-Khair bukan semata-mata untuk lembaga yang bersifat agama, melainkan juga mengajarkan ilmu-ilmu umum, seperti ilmu hitung, sejarah, dan ilmu pengetahuan umum lainnya. Ahmad Surkati hanya bertahan 3 tahun di Jami’at Al-Khair karena ada perbedaan faham yang cukup prinsipil dengan pemimpin Jami’at Al-Khair yang umumnya keturunan Arab sayyid.

Sekalipun Jami’at Khair tergolong organisasi yang memiliki cara dan fasilitas moderen, namun pandangan keagamaannya, khususnya yang menyangkut persamaan derajat, belum terserap baik. Ini nampak setelah para pemuka Jami’at Khair dengan kerasnya menentang fatwa Syekh Ahmad tentang kafaah (persamaan derajat). Karena tak disukai lagi, Syekh Ahmad memutuskan mundur dari Jami’at Khair, pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Dan di hari itu juga Syekh Ahmad bersama beberapa sahabatnya mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, serta organisasi untuk menaunginya: Jam’iyat al-Islah wal-Irsyad al-Arabiyah (kemudian berganti nama menjadi Jam’iyat al-Islah wal-Irsyad al-Islamiyyah).

Al-Irsyad di masa-masa awal kelahirannya dikenal sebagai kelompok pembaharu Islam di Nusantara, bersama Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis). Tiga tokoh utama organisasi ini: Ahmad Surkati, Ahmad Dahlan, dan Ahmad Hassan (A. Hassan), sering disebut sebagai “Trio Pembaharu Islam Indonesia.” Mereka bertiga juga berkawan akrab. Malah menurut A. Hassan, sebetulnya dirinya dan Ahmad Dahlan adalah murid Syekh Ahmad Surkati, meski tak terikat jadwal pelajaran resmi.

Al-Irsyad, sebagaimana semua perhimpunan atau organisasi yang lahir dan hidup di zaman kolonial, tentu terikat oleh amat oleh ordonansi pemerintah kolonial Belanda. Karena itu bertolak dari dasar ini, baik Jami’at Khoir, Budi Utomo, Al-Irsyad dan perhimpunan lainnya sebenarnya memiliki wawasan lebih luas dari apa yang tertulis di dalam konstitusi yang ada pada masing-masing perhimpunan. Dalam porsi masing-masing, baik Jami’at Khair, Budi Utomo, dan Al-Irsyad dalam konstitusinya terselubung perjuangan membentung westernisasi yang sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda.

PERSATUAN ISLAM

PERSIS didirikan oleh H. Zamzam pada tanggal 17 september 1923 di Bandung. Berdirinya PERSIS diawali dengan dibentuknya kelompok tadarusan di kota Bandung yang dipimpin oleh Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus. Kegiatan kelompok tadarusan ini di antaranya adalah menelaah, mengkaji, dan menguji ajaran Islam yang tengah berkembang di masyarakat.

Namun, seiring berjalannya waktu, kelompok tadarusan ini menyadari bahwa kondisi masyarakat semakin terbelakang akibat dari penjajahan para kolonialis. Mereka khawatir,  keterbelakangan masyarakat ini dapat menyebabkan tertutupnya pintu ijtihad, taklid buta, jumud, dan berbagai praktik bid’ah di tengah masyarakat. Kemudian mereka mencoba melakukan gerakan tajdid  (pembaruan)  dan pemurnian ajaran Islam dari paham-paham yang dinilai menyesatkan, yaitu melalui sebuah oraganisasi yang mereka beri nama PERSIS (Persatuan Islam).

Di antara tokoh-tokoh PERSIS adalah sebagai berikut:

(a). Ahmad Hassan

Hassan bin Ahmad yang lebih dikenal dengan A. Hassan, Ibunya Hajjah Muznah (Seorang keturunan madras kelahiran Surabaya. Ayahnya Ahmad (Sinna Wappu Maricar) mempunyai asal-usul keturunan dari Mesir yang menetap lama di India. Ahmad hassan lahir di Singapura pada 1887, berasal dari kelurga campuran indonesia dan india. Atas dorongan dari dua sahabatnya bibi wentee dan muallimin ia pindah ke Bandung pada tahun 1924 untuk mendirikan perusahaan tekstil. Namun perusahaan itu yang didirikan gagal sehingga ditutup. Selama di bandung ia tinggal dirumah H. Muhammad Yunus salah seorang pendiri PERSIS, selama disana ia sering mengikuti pengajian, akhirnya pada tahun 1926 iapun bergabung dalam PERSIS.

A. Hasan terkenal dengan debat-debat keilmuannya. Debat-debat Ahmad Hassan diantaranya sebagai berikut:

·         Perdebatan dengan NU tentang Taqlid, Tahlil, Qunutan, Niat

·         Perdebatan dengan Nasionalisme

·         Perdebatan dengan beberapa Atheis

·         Perdebatan dengan orang Kristen

·         Perdebatan dengan Buya Hamka

·         Perdebatan soal jabat tangan dll

(b). Mohammad Natsir

Beliau dilahirkan di Kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatera Barat, pada tanggal 17 Juli 1908. Namun, sekitar tahun 1927 Mohammad Natsir hijrah ke Bandung untuk melanjutkan studinya di AMS A-2 (Setingkat SMA).

Selama tinggal di Bandung inilah Mohammad Natsir berusaha memperdalam ilmu Islam, dengan mengikuti pengajian-pengajian PERSIS yang disampaikan oleh Ahmad Hasan. Selain itu, Beliau juga mengikuti kelas khusus yang diadakan oleh Ahmad Hasan untuk membina pemuda PERSIS yang sedang sekolah di sekolah pemerintah Belanda. Bahkan, dengan inisiatif Mohammad Natsir, kemudian PERSIS mendirikan berbagai lembaga pendidikan Islam serta pesantren PERSIS pertama di Bandung. Selain itu, Mohammad Natsir juga terlibat langsung dalam proses kaderisasi di bawah bimbingan Ahmad Hassan. Dan di bawah kepemimpinannya, PERSIS menjadi organisasi yang bukan hanya berupa kelompok diskusi semata, melainkan menjadi sebuah organisasi Islam modern yang potensial.

MUHAMMADIYYAH

Pada permulaan abad XX umat Islam Indonesia menyaksikan munculnya gerakan pembaharuan pemahaman dan pemikiran Islam yang pada esensinya dapat dipandang sebagai salah-satu mata rantai dari serangkaian gerakan pembaharuan Islam yang telah dimulai sejak dari Ibnu Taimiyah di Siria, diteruskan Muhammad Ibnu Abdul Wahab di Saudi Arabia dan kemudian Jamaluddin al Afghani bersama muridnya Muhammad Abduh di Mesir. Munculnya gerakan pembaharuan pemahaman agama itu merupakan sebuah fenomena yang menandai proses Islamisasi yang terus berlangsung. Dengan proses Islamisasi yang terus berlangsung -meminjam konsep Nakamura- dimaksudkan suatu proses dimana sejumlah besar orang Islam memandang keadaan agama yang ada, termasuk diri mereka sendiri belum memuaskan. Karenanya sebagai langkah perbaikan diusahakan untuk memahami kembali Islam, dan selanjutnya berbuat sesuai dengan apa yang mereka anggap sebagai standar Islam yang benar.

Peningkatan agama seperti itu tidak hanya merupakan pikiran-pikiran abstrak tetapi diungkapkan secara nyata dan dalam bentuk organisasi-organisasi yang bekerja secara terprogram. Salah satu organisasi itu di Indonesia adalah Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H bertepatan dengan 18 Nopember 1912 M. Namun, baru mendapat pengesahan secara hukum administratif dari pemerintah Hindia-Belanda pada tanggal 22 Agustus 1914 M. Padahal Ahmad Dahlan sudah mengajukan permohonan pengesahan sejak 20 Desember 1912.

Latar belakag Berdirinya Muhammadiyah

Muhammadiyah, secara etimologis nama Muhammadiyah berasal dari kata “Muhammad”, yaitu nama Rasulullah SAW, dan diberi tambahan ya’ nisbah dan ta’ marbutah yang berarti pengikut Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan secara terminologi berarti gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan tajdid, bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah.

      Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh kalangan Muhammadiyah yang menjadi faktor didirikannya organisasi ini oleh KH Ahmad Dahlan, antara lain:

  1. Ia melihat bahwa umat Islam tidak memegang teguh Al-Qur’an danSunnah dalam beramal sehingga takhayul dan syirik merajalela, akhlak masyarakat runtuh. Akibatnya amalan-amalan mereka merupakan campuran antara yang benar dan yang salah.
  2. Lembaga-lembaga pendidikan agama pada waktu itu tidak efisien. Pesantren, yang menjadi lembaga pendidikan kalangan bawah, pada masa itu dinilai tidak sesuai lagi dengan kebutuhan masyarakat.
  3. Kemiskinan menimpa rakyat Indonesia, terutama umat Islam, yang sebagian besar adalah petani dan buruh.
  4. Aktivitas misi Katolik dan Protestan sudah giat beroperasi sejak awal abad ke-19 dan bahkan sekolah-sekolah tersebut mendapat subsidi dari pemerintah Hindia Belanda.
  5. Kebanyakan umat Islam hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaqlid buta, serta berfikir secara dogmatis.

Melihat keadaan umat Islam yang demikian, dan didorong oleh pemahamannya yang mendalam terhadap surah Ali Imran ayat 104. KH A. Dahlan mendirikan Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharu dan mengajak umat Islam untuk kembali menjalankan syariat sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Dalam buku Tajdid Muhammadiyah, pendirian pendirian Muhammadiyah konon juga diinspirasi oleh keberadaan penjajah. Ahmad Dahlan melihat penjajah sebagai kekuatan jahat bisa berkuasa, mengalahkan kekuatan Islam. Menurutnya, itu karena penjajah terorganisasi dengan baik. Ia pun berkesimpulan “kebaikan yang tak terorganisasi akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir”

KH. Ahmad Dahlan Tokoh Muhammadiyah dan Usaha Tajdidnya

KH. Ahmad Dahlan (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yaitu Siti Aminah.

Pada tahun 1980, saat berusia 20 tahun, Muhammad Darwis menunaikan ibadah haji. Kepergiannya itu telah membuka matanya bahwa, bila ingin mendalami ilmu agama, di Tanah Sucilah tempatnya. Pada tahun 1903 Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Kali ini ia juga memanfaatkan kesempatan untuk bermukim sekitar 1,5 tahun di Mekah. Keberadaannya di Mekah yang relative singkat itutelah menyadarkan Dahlan tentang hakikat perjuangan. Ia menyadari bahwa untuk membangkitkan semangat Islam diperlukan pembaruan atau pemurnian tauhid dan kekuatan ekonomi.

Dengan dukungan penuh kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Saud, ia melancarkan gerakan Wahabiyah. Intinya: membersihkan paham dan pengamalan Islam dari penyakit TBC. Mereka, antara lain, menentang keras pengkultusan Nabi Muhammad SAW, pengeramatan kuburan serta gelar wali terhadap ulama.

Dalam kiprahnya, Dahlan lebih dekat dengan Muhammad Abduh, yang melancarkan pembaruan lewat da’wah dan pendidikan. Pada tahun 1909 ia mendirikan Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Diniyah di Yogyakarta yang dibangun dan dikelola pribumi dengan sistem klasikal. Selain itu ia mendirikan rumah sakit, Hizbul Wathon, dan panti asuhan.

KH. A Dahlan sangat terpesona pada keindahan susunan ayat pada al-Qur’an juz 30. Bila ia menyuruh santrinya mengulang surat Al-Ma’un, untuk meresapkan sekaligus mengamalkan perintah pada surat itu yang menjelaskan sifat buruk manusia. Untuk mengamalkan surat itu, ia memerintahkan santrinya untuk membawa fakir-miskin itu ke Masjid. Lalu ia membagikan sabun dan sandang pangan kepada kaum fakir. Sejak saat itu, Muhammadiyah aktif menyantuni fakir miskin dan yatim piatu dengan membentuk bagian Penolong Kesengsaraan Umum.

Tidak hanya itu Ahmad Dahlan pun meluruskan arah kiblat, dan ia juga berdasarkan pengetahuan ilmu hisab yang dimilikinya, ia mendasarkan mulai puasa dan berlebaran pada perhitungan hisab atau rukyat.

PERSATUAN UMAT ISLAM

Persatuan Ummat Islam (PUI) lahir pada tahun 1952. Organisasi ini semula merupakan dua organisasi yang melakukan fusi (bergabung) menjadi satu pada tahun 1371 H/ 1952 M. Kedua organisasi tersebut adalah perikatan Umat Islam, yang didirikan oleh KH. Abdul Halim pada tahun 1942 (sebagai kelanjutan dari Perserikatan Ulama yang didirikan pada tahun 1917) di Majalengka, dan Persatuan Umat Islam Indonesia, yang didirikan oleh KH. Ahmad Sanusi pada tahun 1942 (sebagai kelanjutan dari al-Ittihaadiat al-Islamiyah/AII yang didirikan pada tahun 1931). Dan penggabungan ini dilakukan karena adanya kesamaan tujuan.

KH. Abdul Halim dan KH. Ahmad Sanusi menjalin persahabatan ketika mereka belajar di Makkah. Setelah kembali ke Indonesia intensitas pertemuan mereka semakin banyak, mereka sering membincangkan tentang persatuan seluruh ummat Islam Indonesia. Ini adalah cita-cita mulia mulia yang tereliasasi dengan adanya fusi dua organisasi tersebut dan melahirkan organisasi baru yakni persatuan Umat Islam.

Namun sebelum fusi itu dilakuakn Ahmad Sanusi di panggil kesisi Tuhan-Nya, dan beliau mewasiatkan kepada keluarga dan para pengurus PUII untuk tetap melakukan proses fusi dengan organisasi perikatan umat Islam.

Biografi tokoh PUI:

(a). KH. Abdul Halim

Beliau adalah ulama besar dan tokoh pembaharuan di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan dan kemasyarakatan, yang memiliki corak khas di masanya. Nama aslinya adalah Otong Syatori. Kemudian setelah beliau menunaikan ibadah haji barulah ia mengganti namanya menjadi Abdul Halim.

Beliau mendapatkan pendidikan agama sejak kecil.  Pada usia 10 tahun  di situlah ia sudah mulai belajar membaca al Qur’an, kemudian menjadi santri pada beberapa orang Kyai di berbagai daerah yaitu Jawa Barat dan Jawa Tengah sampai mencapai usia 22 tahun. Kyai yang pertama kali didatangi oleh beliau ialah KH. Anwar di Pondok Pesantren Ranji Wetan, Majalengka, kemudian berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Ia menjalani setiap pesantren antara 1 sampai dengan 3 tahun.

Di sela-sela kehidupan di pesantren, Abdul Halim menyempatkan dirinya untuk berdagang, seperti berjualan batik, minyak wangi, dan kitab-kitab pelajaran agama. Pengalaman berdagangnya ini mempengaruhi langkah-langkahnya kelak dalam upaya memperbaharui sistem ekonomi masyarakat pribumi.

Pada usia 22 tahun Abdul Halim berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan mendalami ilmu agama. Ia bermukim di sana selama 3 tahun. Dengan berbekal semangat  juangnya  serta mempunyai tekat yang kuat, sekembalinya beliau dari Mekah, mulailah beliau melakukan perbaikan untuk mengangkat derajat masyarakat, sesuai dengan hasil pengamatan dan konsultasinya dengan beberapa tokoh di Jawa Usaha perbaikan ini ditempuhnya melalui jalur pendidikan (at-tarbiyah) dan penataan ekonomi (al-iqtisadiyah).

Kerangka-Kerangka pemikiran dan da’wah K.H. Abdul Halim dapat dirumuskan menjadi :

Konsep al-Salam

Pendapat K.H. Abdul Halim pada dasarnya al-salam tersebut adalah upaya untuk membina keselamatan hidupnya di dunia, dengan keselamatannya tersebut dapat mempeloreh kesejahteraan hidupnya di akhirat. Usahanya yaitu berupa perbaikan tersebut dilakukan  dengan berbagai aspek-aspek tertentu didalam kehidupan manusia dan menyelaraskannya dengan berbagai tuntunan agama.

Langkah perbaikannya adalah “al-Ishlah al-Tsamaniyyah” yaitu (delapan macam perbaikan) yang dirumuskan menjadi:  

  • Perbaikan Aqidah (Ishlah al- ‘Aqidat)
  • Perbaikan Ibadah (Ishlah al- ‘Ibadat)
  • Perbaikan Keluarga (Ishlah al- ‘Ailat)
  • Perbaikan Adat-Istiadat (Ishlah al- ‘Adat)
  • Perbaikan pendidikan (Ishlah al- Tarbiyyah)
  • Perbaikan Perekonomian (Ishlah al- ‘Iqtishad)
  • Perbaikan Sosial (Ishlah al- ‘Ijtima)
  • Perbaikan Umat (Ishlah al- ‘Ummat)

Konsep Santi Asromo

Masih berkelanjutan dari pemikiran K.H. Abdul Halim tentang perbaikan pendidikan (Ishlah al-Tarbiyyat), seperti yang termuat didalam rumusan konsep al-Salam. Konsep ini diduga merupakan suatu bagian dari pemahamannya yang mengenai usaha didalam perbaikan pendidikan Islam, menurutnya itu sesuai untuk diterapkan di masyarakat pada waktu itu.

Dan Konsep Santri Lucu (santri yang terampil)

Santri lucu menurut K.H Abdul Halim adalah santri yang memiliki keterampilan dan pengetahuan, serta dapat bekerja dalam berbagai lapangan kehidupan secara mandiri dan mampu membantu orang lain yang memerlukan. Secara sederhana mampu memegang pena dan mempu memegang cangkul.

II.                NAHDHATUL ULAMA

Nahdatul ‘Ulama (Kebangkitan Ulama) salah satu Organisasi sosial keagamaan di Indonesia, didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926 M di Surabaya atas prakasa KH. Hasyim Asy’Ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah. Tujuan didirikannya adalah untuk memperjuangkan berlakunya ajaran Islam yang berhaluan ahlusunah waljamaah dan menganut Mazhab empat. Tokoh-tokoh NU di antaranya:

(1). KH. Hasyim Asy’ari

            KH. Hasyim Asy’ari lahir di Jombang, Jawa Timur, 14 Februari 1871. Latar belakang dari keluarga santri dan hidup di pesantren sejak lahir, memberikan sentuhan sendiri bagi Hasyim. Ia pun, sebagaimana keluarga pesantren umumnya, dididik dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Orang yang pertama mendidik dan memberikan bimbingan ilmu-ilmu agama adalah ayahnya, Kyai Asy’ari.

            Beliau mendirikan pesantren di daerah sekitar Cukir, pesantren Tebu Ireng, pada tanggal 6 Februari 1906. Pesantren itu berkembang menjadi pesantren yang terkenal di nusantara, dan menjadi tempat menggodok kader-kader ulama untuk wilayah Jawa dan sekitarnya.

            Keberhasilan KH. Hasyim Asy’ari membangun pesantren Tebuireng bukan saja diukur berdasarkan banyaknya jumlah santri yang menimba ilmu disana, tetapi juga dari tingkat keberhasilan para santrinya yang kemudian menjadi kiai dan pemimpin umat. Beberapa nama Santri binaan Hasjim yang kemudian menjadi kiai besar diantaanya adalah Wahab Hasbullah, peserta pendiri NU, Manaf Abdul Karim, pendiri pesantren Lirboyo.

            Tidak banyak para ulama dari kalangan tradisional yang menulis buku. Akan tetapi tidak demikian dengan KH. HasyimAsy’ari. Tidak kurang dari sepuluh kitab yang disusunnya, diantaranya Ziyadat Ta’aliqat, Attanbihat Alwajibat Liman yashna’ Al-Maulid Al-Munkarat, Arrisalat Al-Jami’at, Arrisalat At-Tauhidiyah dll.

Disamping bergerak dalam dunia pendidikan, KH. Hasyim As’ari menjadi perintis dan pendiri organisasi kemasyarakatan NU. Dia juga bersikap konfrontatif terhadap penjajah belanda. Ia, misalnya, menolak menerima penghargaan dari pemerintah belanda. Bahkan saat revolusi fisik, ia menyerukan jihad melawan penjajah dan menolak bekerja sama dengan Belanda. Sementara pada masa penjajahan Jepang, ia sempat ditahan dan diasingkan ke Mojokerto. Jabatan yang pernah diterimanya adalah menjadi Ketua Masyumi, ketika NU bergabung didalmnya. Ia wafat di Tebu Ireng, Jombang dalam usia 79 tahun, tepatanya tanggal 25 Juli 1947 H atau 7 Ramdhan 1366 H.

(2). Abdul Wahid Hasyim

            Lahir pada tanggal 1 Juni 1914 sebagai Putra kelima dari 10 Saudara dari pasangan KH. Hasyim Asy’Ari dan Nyai Nafiqoh binti kiai Ilyas. Sebagai anak seorang kiai Wahid belajar dari lingkungan keluarganya. Sejak usia 5 tahun, ia sudah belajar membaca Al-Qur’an yang dibimbing langsung oleh Ayahnya. Ia menempuh pendidikan madrasah dari lingkungan pesantren Tebu Ireng dan malam harinya mendapat pelajaran khusus dari Ayahnya. Kondisi ini dilakoninya sampai usia 12 tahun. Ketika usianya lepasa 12 tahun ia pergi keberbagai pesantren. Hanya sekitar 3 tahun ia menimba diluar Tebu Ireng lalu kembali kerumahnya dan dibimbing oleh Ayahnya lagi, di usia 15 tahun Wahid mempelajari bahasa-bahasa dunia, selain Arab, ia juga mempelajari bahasa Belanda dan Inggris. Pada usia 18 tahun Wahid menunaikan Haji dan dipergunakannya untuk memperdalam dan memperlancar bahasa Arab. Pulang dari Makkah, ia mengadakan pembaruan dalam sistem Pendidikan di Pesantren. Antara lain dengan memasukan pelajaran dengan ilmu-ilmu umum didalam kurikulum pondok pesantren. Awalnya ia mendapatkan kecaman yang cukup keras dari kalangan kiai, tapi,  lama kelamaan kritikan itu pupus seirng keberhasilan pondok dan minat yang luar biasa dari orang tua santri untuk memasukkan anak-anak mereka ke Tebu Ireng.

Wahid Hasyim pernah menjabat menjadi Menteri Agama, usahanya selama menjabat antara lain: [1] Mendirikan Jam’iyah al-Qurra’ wa al-Huffazh (Organisasi Qari dan Penghafal al-Qur’an) di Jakarta; [2] Menetapkan tugas kewajiban Kementerian Agama melalui Peraturan Pemerintah no. 8 tahun 1950; [3] Merumuskan dasar-dasar peraturan Perjalanan Haji Indonesia; dan [4] Menyetujui berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dalam kementerian agama.

III.             TOKOH-TOKOH

 

  1. 1.    BUYA HAMKA

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, yakni singkatan namanya), lahir di Sungai Batang, Maninjau Sumatra Barat pada tanggal 16 Febuari 1908 M/ 13 Muharram 1326 H. Beliau adalah anak dari Haji Abdul karim Amrullah yang biasa di pangil dengan Haji Rasul dan Ibunya Shafiyah Tanjung.

Sejak kecil Hamka mendapatkan ilmu Dien dari ayahnya, dan pada usia 6 tahun ia dibawah ayahnya ke Padang Panjang, Umur 7 tahun ia masuk sekolah desa dan malamnya ia belajar mengaji Al Qur’an kepada ayahnya. Dan kedua orang tuanya bercerai ketika berumur 12 tahun. Sebenarnya pendidikan Hamka secara formal  tidak tinggi hanya sampai  kelas 3 sekolah dasar. Sekolah dien ia jalani di Padang Panjang di Parabek, dan selainya ia belajar sendiri. Sekolah yang ditempuh ketika itu berorientasi pada pengajian kitab-kitab klasik, nahwu, sorof, mantiq, bayan, fiqih dan lainya.

Tahun 1916 sampai 1923 ia belajar di sekolah diniyah di Padang Panjang dan Sumatra Thawalib di Parabek. Kesukaan Hamka dibidang bahasa membuatnya cepat sekali menguasai bahasa arab. Gurunya Yakni Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engko Mudo Abdul Hamid dan Zainudin Labay. Pada umur 16 tahun ia meninggalkan kampungnya untuk menimbah ilmu ke Yogyakarta. Ia berlajar dari Haji Omar Said Tjokrominoto, Ki Bagus Hadikusumo, K.H Fakhrudin, RM Soerjopranoto, dan Hamka ikut aktivis-aktivis muda untuk kursus tentang pergerakan. Setelah 2 tahun di Jawa akhirnya Hamka menunaikan ibadah haji, kesempatan ini dimanfaatkan untuk memperluas pergaulan dan berkerja oleh Hamka, selama 6 bulan Hamka berkerja di percetakan di Makkah.

Setelah kepulangnya dari Makkah pada tahun 1927. Pada tahun 1928 ia mengikiuti mukhtamar Muhammadiyah di Solo ‘sebagai peserta’ dari sinilah Hamka mulai banyak berkiprah di organisasi Muhamadiyah. Kiprah da’wah dan keaktifanya di Muhammadiyah telah menghantarkanya keberbagai daerah, termasuk ke Medan ( tahun 1936). Di Medan inilah peran hamka sebagai Intelektual ulama dan ulama intelektual mulai dibentuk. Sebagaimana yang dituturkan oleh salah seorang putranya yang bermana Ridho Hamka, ia mengatakan “Bagi Buya, Medan adalah sebuah kota yang penuh kenang-kenangan. Dari kota ini ia mulai melangkahkan kakinya menjadi seorang pengarang yang melahirkan sejumlah novel dan buku-buku agama, tasawuf, dan lain-lain. Disini pula ia memperoleh sukses sebagai wartawan dengan Pedoman Masyarakat, hingga bekas-bekas luka yang membuat ia meninggalkan kota ini menjaadi salah satu pupuk yang menumbuhkan pribadinya dibelakang hari.

Dalam memperjuangkan agama Islam, kiprah da’wah Buya Hamka  sangat luas. Hamka adalah tokoh yang istiqamah dalam dien, ia selalu  memperjuangkan aspirasi ummat. Untuk mewujudkan itu semua, beliau bersama tokoh-tokoh Masyumi lainnya (para pejuang Islam) selalu gigih dalam mengajukan konsep-konsep Islam, secara ilmiah dan argumentatif. Tetapi, juga konsisten dalam memegang teguh aturan main secara konstitusional. Ketika perjuangan melalui jalur partai politik terganjal, Buya Hamka dan para tokoh Masyumi memilih hijrah dengan menempuh jalur dakwah di masyarakat, masjid, pesantren, dan perguruan tinggi.

Kiprah Dakwahnya di Masjid Agung Al Azhar

Pada tahun 1960 ketika Rektor Universitas Al Azhar, Syaikh Mahmmud Syaltut berkunjung ke Jakarta, ia memberi nama masjid dengan nama “Masjid Al Azhar” sebelumnya namanya yakni Masjid Agung Kebayoran Baru. Kiprah dakwah Hamka di Masjid Al-Azhar sangat monumental karena dari mimbar ini melancarkan kritik-kritik kepada pemerintahan yang menganut demokrasi terpimpin dan lahir juga majalah Panji Masyarakat. Karena dianggap berbahaya akhirnaya pada tahun 1964 Sokarno memenjarakan Hamka.

Dan hal ini juga termasuk tantangan dakwah Hamka yakni ketika dipenjarakan badania. Di dalam penjara inilah, beliau melahirkan Tafsir Al Azhar 30 juz, yang menjadi bacaan umat muslimin sekarang. Zaman pemerintahan Sukarno dan ketika komunis merajalela, selain ditangkap,  buku-buku Buya Hamka juga  ada yang dibakar. Hamka kemudian dibebaskan setelah Soekarno runtuh dan orde baru lahir (tahun 1967).

Kiprah Dakwahnya di Pendidikan Umat

Sosok Hamka adalah multiperan. Selain sebagai ulama dan pujangga, ia juga seorang pemikir. Diantara buah pemikirannya adalah gagasan untuk pendidikan. Bagi Hamka, pendidikan adalah sarana untuk mendidik watak pribadi-pribadi.

Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa, sebagaimana pun kehebatan sistem pendidikan modern, tak bisa dilepas begitu saja tampa diimbangi dengan pendidikan agama. Buya Hamka sendiri merupakan salah dari pemikir pendidikan yang mendorong pendidikan agama masuk dalam kurikulum sekolah.

Lebih berkembang dari itu, Buya Hamka menyarankan agar ada asrama-asrama yang menampung anak-anak sekolah. Dalam asrama tersebut, anak-anak tidak hanya mendapatkan pemondokan dan logistik, tapi juga penuh dengan muatan rohani dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Kiprah Dakwahnya di MUI

Majelis Ulama Indonesia (MUI) didirikan pada 27 Juli 1975, dan Buya Hamka terpilih menjadi ketua Umum yang pertama. Jabatan ini dipegangnya sampai ia mengundurkan diri pada 18 mei 1981.

Pada tanggal 7 Maret 1981, MUI mengeluarkan fatwa tentang Natal. Yakni orang muslim haram menghadiri perayaan natal yang diselenggarakan kaum Kristiani. Fatwa ini lahir disebabkan banyaknya umat Islam yang secara sukarela, terpaksa atau demi kerukunan, akhirnya mengikuti perayaan natal.

Tentu saja, fatwa MUI memunculkan kontroversi. Bagi kalangan Islam mayoritas setuju dengan fatwa tersebut. Dan sebaliknya bagi kalangan Kristiani memandang bahwa fatwa tersebut tidak mendukung upaya-upaya kerukunan antar umat beragama. Sedangkan pemerintah, ‘dalam hal ini diwakili’ oleh Mentri Agama Alamsyah Ratuperwiranegara juga merasa keberatan. Alasannya bahwa fatwa tersebut akan merenggangkan hubungan antar umat beragama yang selama ini sedang dirajut oleh berbagai pihak.

Bahkan Alamsyah mengancam akan mengundurkan diri dari Mentri Agama jika fatwa tersebut tidak dicabut. Tapi MUI dibawah pimpinan Hamka tetap bersiteguh dan tetap mempertahankanya. Maka Hamka memilih mundur dari MUI dari pada mengikuti kemauan pemerintah yang tidak sesuai dengan hati nurani dan aqidahnya itu.

Mundurnya Hamka dari MUI ternyata mengundang simpati masyarakat muslimin pada umumnya. Bahka ia mendapat pujian dan selamat dari berbagai kalangan umat Islam. kepada seorang sahabatnya, ‘M Yunan Nasution’ Hamka bercerita, “Waktu saya diangkat dahulu tidak ada ucapan selamat, tapi setelah saya berhenti, saya menerima ratusan telegram dan surat-surat yang isinya mengucapkan selamat.”

Sembilan pekan seteglah mundur dari MUI, tepatnya pada hari jum’at 24 Juli 1981, Hamka meninggal dunia.

  1. 2.             MOHAMMAD NATSIR DAN KIPRAH DA’WAHNYA

Mohammad Natsir dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1908 di Alahan Panjang, Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat, anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya bernama Idris Sutan Saripado, ibunya bernama Khadijah.

Pendidikan Mohammad Natsir, pada awalnya ia belajar pada Sekolah Rakyat di Maninjau yang memakai bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Ia kemudian tinggal bersama pamannya di Padang untuk melanjutkan sekolahnya di HIS (Hollandsch Inlandschs School) Adabiyah, suatu sekolah swasta yang dikelola oleh Haji Ahmad dengan sistem pendidikan mengacu pada sekolah Belanda yang dilengkapi dengan ajaran Islam di Solok.

Di Solok ia tidak hanya belajar di lembaga pendidikan formal, tapi pada sore hari ia mendalami pengetahuan agama di Madrasah Diniyah dan pada malam harinya ia belajar mengaji Al-Qur’an dan sekaligus mempelajari bahasa Arab di Surau. Tiga tahun lamanya Natsir belajar di HIS daerah Solok tersebut kemudian ia pindah ke HIS Padang.

Ketika menamatkan pendidikan di HIS Padang, Mohammad Natsir berhasil meraih prestasi yang istimewa sehingga ia diberi kesempatan unutk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dengan mendapatkan beasiswa dari pemerintah Belanda. Di sekolah tersebut Mohmmad Natsir belajar bersama-sama dalam satu kelas dengan murid-murid keturunan Belanda.

Kemudian Mohammad Natsir ikut aktif dalam berorganisasi. seperti salah satunya Perserikatan Pemuda Islam. Sebagai seorang yang pernah hidup dalam suasana tradisi religious dan memahami pengetahuan agama yang memadai, ia menilai bahwa pola pendidikan yang diterapkan penjajah Belanda tidak sesuai dengan harapannya sebagai pribadi Muslim. Setiap minggu mereka diwajibkan mendengarkan ceramah agama yang disampaikan oleh pendeta di gereja. Bahkan suatu ketika pendeta Christoffels pernah menyampaikan tentang Islam dan dipublikasikan dalam surat kabar harian.

Berbekal pengetahua agama yang diperoleh ketika masih belajar di kampung halaman, dilengkapi dengan bimbingan seorang ulama radikal yang dikenal sangat luas pengetahuannya bernama A.Hassan,  Natsir mencoba memberikan reaksi terhadap yang disampaikan pendeta itu melalui media yang sama.

M. Natsir memang sosok pemimpin yang pantang menyerah pada penguasa, sungguhpun masyumi telah dibubarkan oleh kekuasaan soekarno, ia masih berusaha dan berharap di era Orde Baru masyumi bisa bangkit dan dapat berkiprah kembali dalam dunia politik. Namun nyatanya keinginan itu sulit terwujud. M. Natsir akhirnya mencari jalan lain dan strategi baru. Jelaslah parpol tidak bisa. Akan tetapi perjuangan Islam tidak boleh “berhenti”. Kemudian M. Natsir memutuskan untuk terjun ke dunia da’wah. Bersama dengan tokoh masyumi, mereka mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (Dewan Da’wah). Lewat wadah ini hubungan M. Natsir dengan dunia Islam Internasional makin meluas.

Pertumbuhan dan perkembangan Dewan Da’wah tidaklah dapat dilepaskan dari peran M. Natsir di dalamnya. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan Dewan Da’wah diantaranya:

Pembangunan Masjid

M. Natsir mengatakan bahwa masjid merupakan salah satu pilar kepemimpinan umat. Dengan demikian, masjid dipandang sebagai lembaga pembinaan pribadi dan jiwa masyarakat.

Pengiriman Da’i

Dakwah yang dilaksanakan oleh M. Natsir, selain melalui hal-hal tersebut, juga melalui pengiriman da’i ke daerah-daerah pedesan, pedalaman, dan transmigrasi, untuk  membentengi umat dari berbagai pengaruh terhadap pendangkalan aqidah, pemurtadan dan sebagainya.

Penerbitan

M. Natsir tampaknya belum begitu puas atas da’wah bil hal, seperti tersebut. Ia merancang da’wah bil al- Kitabah, yaitu melalui tulisan-tulisan yang di organisasi oleh Dewan Da’wah. Mulai dari brosur atau lambaran-lembaran, majalah ataupun buku-buku yang ditulisnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s