Sampingan

PENGERTIAN DIRASAH MANHAJ SALAF DAN NAMA-NAMA SELAIN SALAF

Azizah az Zahra dan Indri Yulita

PENDAHULUAN

Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj dan salaf. Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj, yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah[1].

Seperti yang tertera dalam firman Allah SWT : “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Al-Maa-idah, QS 5: 48)

Sedang menurut istilah, manhaj ialah kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi setiap pembelajaran ilmiyyah, seperti kaidah-kaidah bahasa Arab, ushul ‘aqidah, ushul fiqih, dan ushul tafsir dimana dengan ilmu-ilmu ini pembelajaran dalam Islam beserta pokok-pokoknya menjadi teratur dan benar. Manhaj artinya jalan atau metode. Dan manhaj yang benar adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman para Shahabat.

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan hafizhahullah menjelaskan perbedaan antara ‘aqidah dan manhaj, beliau berkata, “Manhaj lebih umum daripada ‘aqidah. Manhaj diterapkan dalam ‘aqidah, suluk, akhlak, muamalah, dan dalam semua kehidupan seorang Muslim. Setiap langkah yang dilakukan seorang Muslim dikatakan manhaj. Adapun yang dimaksud dengan ‘aqidah adalah pokok iman, makna dua kalimat syahadat, dan konsekuensinya. Inilah ‘aqidah.

PENGERTIAN SALAF

Salaf berasal dari kata salafa-yaslufu-salafan, artinya adalah: telah lalu. Kata Salaf juga bermakna: seseorang yang telah mendahului (terdahulu) dalam ilmu, iman, keutamaan, dan kebaikan. Masuk juga dalam pengertian secara bahasa, yaitu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anaknya, Fathimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha: “Sesungguhnya sebaik-baik Salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.” [2]

Adapun menurut istilah, Salaf adalah sifat yang khusus dimutlakkan kepada para Shahabat. Ketika disebutkan Salaf, maka yang dimaksud pertama kali adalah para Shahabat. Adapun selain mereka, ikut serta dalam makna Salaf ini, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka. Artinya, bila mereka mengikuti para Shahabat maka disebut Salafiyyin, yaitu orang-orang yang mengikuti Salafush Shalih. Allah SWT berfirman ; “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah, QS 9: 100) Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan generasi pertama umat ini adalah para Shahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Mereka adalah orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka dijamin masuk Surga. Dan orang-orang setelah mereka, yang mengikuti mereka dengan baik dalam ‘aqidah, manhaj, dan lainnya, maka mereka pun akan mendapatkan ridha Allah dan akan masuk Surga. Yang dimaksud dengan Salaf pertama kali adalah Shahabat karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan: “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in.”[3]

Ketika Salaf disebutkan maka hal itu tidak digunakan untuk menunjukkan kurun waktu yang terdahulu saja, tetapi digunakan untuk menunjukkan kepada para Shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Istilah Salaf bukanlah istilah baru. Istilah tersebut sudah digunakan sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salaf tidaklah menunjuk kepada satu golongan tetapi menunjuk kepada orang-orang yang berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman yang benar. Karena umat ini sudah berpecah belah dan yang selamat pemahamannya hanya satu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ألا ان من قبلكم من اهل الكتا ب افترقوا عل سنتين وسبعين ملة ,وا ن هذه الملة ستفترق عل ثلا ث وسبعين :ثنتان وسبعو ن في النا ر ووا حدة في الجنة وهي الجما عة

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya umat Islam akan berpecah belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.”[4] Dalam riwayat lain disebutkan: “Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para Shahabatku berjalan di atasnya.”[5]

DALIL YANG MENUNJUKKAN KEWAJIBAN MENGIKUTI MEREKA Terdapat banyak dalil yang dikemukakan oleh al Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam bukunya Mulia dengan Manhaj Salaf, namun dalam tulisan yang singkat ini kami hanya mengambil beberapa dalil yang mewakili dan dapat digunakan sebagai hujjah. Dalil-dalil dari Al Quranul Karim dan As Sunnah yang menunjukkan bahwa Manhaj Salaf adalah hujjah yang wajib diikuti oleh kaum muslimin: * Firman Allah Ta’ala, yang artinya,”Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu menyuruh) berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…” (Ali ‘Imran : 10 ) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya Naqdul Mantiq menjelaskan: kaum muslimin telah sepakat bahwa umat ini adalah sebaik-baik umat dan paling sempurna, dan umat yang paling sempurna dan utama adalah generasi yang terdahulu yaitu generasi para Sahabat. * Firman Allah Jalla Jalaaluhu, yang artinya, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan-jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang Telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia kedalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisaa: 115 ) Imam Ibnu Abi Jamrah rahimahullah mengatakan, ”Para ulama telah berkata mengenai makna dalam firman Allah, ”Dan mengikuti jalan yang bukan jalan-jalan orang yang beriman” yang dimaksud adalah (jalan) para Sahabat generasi pertama. *

Diriwayatkan dari Sahabat al- ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,”Suatu hari Rasulullah shalallah ‘alaihi wasallam pernah shalat bersama kami kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?’ Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,‘Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh orang yang hidup diantara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.”[6]

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diatas terdapat perintah untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin sepeninggal beliau. Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk. Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafy atau As Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.”[7]

Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali). Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya. Sedang kan Allah telah berfirman kepada kita: “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’: 59) Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj ssalaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena:

1) Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus.

2) Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam.

3) Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya.

4) Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

5) Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

6) Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

NAMA-NAMA SELAIN SALAF

Generasi awal salafus shalih yaitu para sahabat ra pada masa mereka tidaklah memiliki nama, gelar serta nisbat yang membedahkan mereka dengan firqah sesat yang ada pada zaman mereka. Hal itu karna mereka adalah orang-orang yang mengamalkan ajaran Islam secara utuh. Namun ketika muncul firqah sesat maka untuk membedahkan dengan orang–orang dari kalangan firqah sesat tersebut maka dibuatlah nama-nama dan gelar yang syar’i untuk orang pengikut manhaj yang benar dan bebas dari penyimpangan-penyimpangan. Gelar dan nama tersebut bersumber dari hadits-hadits Rasulullah SAW yang sahih, atsar para sahabat, penjelasan para ulama ahlul hadits, diantaranya sebagai berikut:

1. Al-Jama’ah ألا ان من قبلكم من اهل الكتا ب افترقوا عل سنتين وسبعين ملة ,وا ن هذه الملة ستفترق عل ثلا ث وسبعين :ثنتان وسبعو ن في النا ر ووا حدة في الجنة وهي الجما عة “ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahlul kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan. Sesunguhnya umat islam akan berpecah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di dalam neraka dan hanya satu golongan di dalam surga,yaitu al-Jama’ah.”[8]

Pengertian al-Jama’ah diatas maksudnya adalah: jama’ah kaum muslimin yaitu para sahabat dan tabi’in yang mereka dengan baik serta tidak melakukan penyimpangan yang menimbulkan bid’ah, khurafat ataupun subhat sehingga hal inilah yang akan menunjukan pada jalan ke surga.

2. Jama’atul Muslimin Berdasarkan hadits Rasulullah Saw: تلزم جماعة المسلمين وامامهم : فا ن لم تكن لهم جماعة ولا امام؟ قال : فاعتزل تلك الفرق كلها , ولو ان تعض على اصل شجرة حتى يدر كك الموت وانت على ذلك “….Hendaklah engkau berpegang teguh (bersatu) kepad jama’atul muslimin.” Kemudian huzaifah bertanya:bagaimana kalau mereka sudah tidak mempunyai jama’ah dan pemimpin lagi ?beliau bersabda: jauhilah semua kelompok tersebut meskipun engkau harus mengigit akar pohon,sehingga engkau mati dalam keadaan seperti itu.’’[9]

3. Firqatun Najiyah (golongan yang selamat) Sabda Rasulullah Saw: كلهم في النا ر الا ملة وا حدة :ما ان عليه واصحا بي “semua golongan tersebut tempatnya di neraka kecuali satu(yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan diatasnya.”[10]

Maksud sahabatku berjalan diatasnyas manhaj salaf mereka adalah orang-orang yang berjalan diatas manhaj salaf dalam mengikuti al kitab (Al-quran) dan as sunnah, mendakwahkan keduanya.[11] dan mengamalkan apa yang telah di ajarkwan oleh Rasulullah. Golongan yang senantiasa mengikuti dan mengamalkan apa yang telah diajarkan Nabi Saw maka hal inilah yang akan menyelamatkan mereka dari Neraka. Dan al firqatun najiyah selamat dari peselisihan dan perpecahan sebagamana firman Allah Swt: Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” Perpecahan termasuk jalan kaum yang dimurkai oleh Allah dan merupakan kesesatan, sedangkan golongan yang selamat firqah najiyah tidak meniru dan mengikuti jalan mereka. Akan tetapi mereka hanya meminta kepada Allah agar dapat petunjuk kepada jalan orang-orang yang mendapatkan nikmat sebagaimana dalam surat Al fatihah ayat 6: “Tunjukilah[12] kami jalan yang lurus” Karena itulah para manhaj menafsiri jalan yang lurus dan penganutnya dengan para sahabat.denan begitu jelaslah manhaj salat adalah jalan firqatu najiyah.

4. Ath Thaifah Al Manshurah (Golongan yang mendapat pertolongan Allah SWT) Sabda Rasulullah SAW: لا تزال من أمتي امة قائمة بأمر الله يضر هم من خذلهم و لا من خالفهم حتى يأتيهم أمر الله و هم على ذالك “Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang selalu dalam kebenaran menegakkan perintah Allah SWT, tidak akan mencelakai mereka orang yang melecehkan mereka dan orang yang menyelisihi mereka sampai datang perintah Allah SWT dan mereka tetap di atas yang demikian itu”[13]

5. As Salaafiyyuun Ahli sunnah disebut juga dengan As Salaafiyyuun karena selalu komitmen terhadap manhaj salaf yaitu manhaj para nabi, sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hidayah. Jadi sebutan As Salaafiyyuun untuk ahli sunnah sangat tepat sebagai manifestasi, tuntutan kondisi dan penegakkan nilai-nilai murni ajaran Salaf bukan perkara bid’ah, karena ahli sunnah identik dan tidak bisa terpisahkan dengan istilah Salaf sebab Sahabat adalah figur Salaf dan ahli sunnah. Lafadhz Salafush Sholih bisa menjadi sebutan bagi siapa saja, bagi yang meniti jalan Sahabat meskipun itu generasi yang hidup pada zaman sekarang.

6. Ahlul Hadits

7. Ahlul Atsar

8. Ahlus Sunnah wal Jama’ah 9. Al Ghurobaa’

DAFTAR PUSTAKA

Al Quran dan Terjemahnya

Jawas, Yazid bin Abdul Qadir, Mulia Dengan Manhaj Salaf, Bogor: Pustaka At Taqwa, 2009 Cet. III

Al Hilali, Abu Usamah Salim bin ‘Ied, Bashooiru dzawisy Syarofi bi Syarhi Marwiyaati Manhaj As Salaf, Terj. Muh. Syuaib al Faiz, Jakarta Timur: Pustaka As Sunnah, 2006, Cet. II

_______________________

Footnote:

[1] Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957

[2] HR. Muslim no. 2450

[3] HR. Bukhari no. 2652, Muslim no. 2533 (212), dari Shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

[4] Shahih. HR. Abu Dawud (no.4597), Ahmad (IV/102), al-Hakim (I/128), ad-Darimi (II/241), al-Aajurri dalam as-Asyari’ah, al-Lalikai dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/113 no. 150). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi dari Mu’awiyah bin Sufyan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa hadits ini shahih masyhur. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 203-204)

[5] Hasan. HR. At-Tirmidzi (no. 2641) dan al-Hakim (I/129) dari Shahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahii al-Jaami’ish Shaghiir (no. 5343). Lihat Dar-ul Irtiyaab ‘an Hadiits maa Ana ‘alaihi wa Ash-haabi oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Darur Rayah, th. 1410 H

[6] HR Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no.4607), at-Tirmidzi (no.2676), ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205), al Hakim (I/95)

[7] Syiar A’lamin Nubala 6/21

[8] HR.Abu Dawud,no.4597

[9] HR.Bukhari no.3606,7084

[10] HR.Tirmidzi dan Al Hakim dari sahabat Abdullah bin amr’ra,dar-ul irtiyaab’an hadits maa anab’alaihi wa ash-habii, no. 2641 dan Al-Hakim(1/129) oleh syakih salim bin ied’ al- Hilali,Cet. Darur rayah,th. 1410

[11] Fatwa al lajna ad daa imah lil buhutus al imiiyah wal iftaa’.11/ 242-243, fatwa no.1361

[12] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

[13] Shohih: HR. Bukhori no. 3641 dan Muslim no. 1037 dari Mu’awiyah ra

PENGERTIAN DIRA…

Iklan

SEJARAH DA’WAH DI INDONESIA

Standar

Resume oleh: Azizah az Zahra

Maaf dalam resume ini tidak dicantumkan footnote 🙂

 

DA’WAH ISLAM DI INDONESIA

Da’wah di Indonesia sangat pesat dan cepat tersiarnya di Indonesia, di antara sebab-sebabnya yaitu:

  1. Ajaran Islam itu berbicara dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga mudah difahami dan diyakini.
  2. Banyaknya para pedagang Islam yang juga menyebarkan ajaran Islam itu sendiri
  3. Gerak da’wah yang berkelanjutan dari para ulama
  4. Adanya da’wah melalui perkawinan

Membahas tentang masuknya Islam di Indonesia, maka akan ada ditemui teori-teori masuknya Islam ke Nusantara, di antara teori itu adalah:

a.  Teori Makkah ( Abad ke 7)

Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M. Teori ini diungkapkan oleh Prof. Dr. Hamka pada Seminar Masuknya Agama Islam ke Indonesia di Medan (1963). Hamka mendasarkan teorinya pada fakta yang berasal dari Berita Cina Dinasti TangBerita ini mengungkapkan bahwa pada sekitar 618-907 M telah ada pemukiman pedagang Arab Islam di pantai Barat Sumatra. Dari berita ini, Hamka menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M dan berasal langsung dari Arab. Sedangkan berdirinya kerajaan Samudra Pasai pada 1275 M atau abad ke-13 M merupakan perkembangan agama Islam.

b. Teori Gujarat (India) ( abad ke 13)

Teori ini diungkapkan oleh Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje. Menurutnya Islam masuk melaui gujarat. Islam masuk melalui ajaran tasawuf yang berkembang di Gujarat. Daerah pertama yang dimasuki adalah kerajaan Samudra Pasai pada sekitar abad ke-13.

c.  Teori Persia

Islam tiba di Indonesia melalui para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke Nusantara sekitar abad ke 13 M.

Pendapat yang paling kuat adalah Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriyah atau ke abad ke 7-8 M, tetapi baru dianut oleh  para pedagang  Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan. Barulah Islam masuk secara besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik pada abad ke 13 dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini terjadi akibat arus balik kehancuran baghdad ibukota Abbasiyah oleh Hulagu. Kehancuran baghdad menyebabkan pedagang muslim mengalihkan aktivitas pedagang kearah Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara.


Read the rest of this entry

Mother Monster Bikin Kacau Galau

Standar

Sebulan lalu, Rencana konser Lady Gaga sang Mother Monster yang akhirnya batal itu, sempat membuat tegangan urat dan banjir keringat warga Indonesia. Pro dan kontra seolah sudah jadi makanan sehari-hari di Indonesia sejak adanya rencana konser tersebut. Bagi para fansnya, artis setingkat dia hendaknya diperjuangkan kedatangannya karena akan menambah citra baik seni Indonesia dan lebih mengenalkan Indonesia di dunia Internasional.

Dari beberapa artikel surat kabar yang saya baca, para fans dari kalangan artis  menyanjung seni yang menjadi karakter Lady Gaga. Menurut mereka, seni itu bebas berekspresi. Yang ditampilkan sang idola adalah hasil dari kematangan dan kemantapan ekspresinya sehingga sah-sah saja apapun yang menjadi atributnya ketika konser. Yaya, saya tahu, orang yang berkata demikian adalah para penuntut dan pemuja kebebasan. Mereka itu selalu mencari argumen-argumen syaithony yang berlandaskan seni dan HAM untuk kepentingan perut semata.

Pribadi Lady Gaga sangatlah membuat saya keheranan terhadap orang-orang yang antusias untuk menghadirkan Mother Monster di panggung Indonesia. Dalam lagunya yang berjudul “Born This Way”, jelas-jelas secara nyata telah mempromosikan sex bebas baik dengan yang sejenis maupun lawan jenis. Coba kita lihat cuplikan lirik lagu karangannya yang juga dinyanyikannya:

“No matter gay, straight, or bi, Lesbian, transgendered life,

                                                       
Read the rest of this entry

MOTIVASI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Standar

Oleh: Aziza Az Zahra dan Indri Yulita

PENGERTIAN MOTIVASI

Motif adalah sebab-sebab yang menjadi dorongan, tindakan seseorang, dasar pikiran atau pendapat, sesuatu yang menjadi pokok.[1]

Motivasi itu sendiri merupakan istilah lebih umum digunakan  untuk mengantikan terma “motif-motif” yang dalam bahasa inggris yang disebut motive yang  berasal dari kata motion, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Karna itu terma motif erat hubungan dengan gerak yang dilakukan manusia atau disebut perbuatan atau juga tingkah laku. Motif dalam psikologi berarti rangsangan dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya tingkah laku. Dan motivasi lebih sendirinya lebih berarti rangsangan atau dorongan  atau pembangkit tenaga bagi tingkah laku. Dan motivasi lebih sendirinya lebih berarti menunjuk kepada seluruh proses gerakan di atas, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu. Situasi tersebut serta tujuan akhir dan gerakan atau perbuatan yang menimbulkan terjadinya tingkah laku.[2]

Read the rest of this entry

PSIKOLOGI dan SOSIOLOGI DA’WAH

Standar

Resume Oleh: Azizah az Zahra

 

PENGERTIAN PSIKOLOGI DAN SOSIOLOGI DA’WAH

Kemunculan sosiologi dan psikologi dalam sebuah disiplin ilmu yaitu sekitar abad ke-19. Istilah sosiologi pertama kalai dicetuskan oleh August Comte tahun 1842.

Psikologi berarti ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat-sifat manusia. Psikologi juga mencangkup pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. Sosiologi berarti ilmu yang mempelajari  masyarakat, perilaku masyarakat dan social. Da’wah berarti mengajak, menyeru, mempengaruhi, memperbaiki. Mengajak disini berarti mengajak manusia untuk berbuat baik sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Psikologi dan sosiologi da’wah ini terdiri dari tiga term yang arti masing-masing telah disebutkan. Jika digabungkan, menjadi ilmu yang mengkaji tentang upaya pemecahan masalah-masalah dakwah dengan pendekatan psikologis dan sosiologis (kejiwaan seseorang dan kemasyarakatan).
Read the rest of this entry

FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN DA’WAH RASULULLAH SAW

Standar

Azizah az Zahra

 I.       PENDAHULUAN

Rasulullah SAW menjalani kehidupan dalam kancah peperangan yang seakan tidak ada hujungnya selama lebih dari dua puluh tahun. Selama itu pula beliau tidak pernah lalai terhadap suatu urusan tertentu, karena sibuk mengurusi urusan yang lain, hingga akhirnya da’wah Islam berhasil secara gemilang, merambah kawasan yang amat luas, sulit diterima nalar manusia. Seluruh jazirah Arab tunduk kepada da’wah Islam, debu-debu Jahiliyyah tidak lagi tampak di udara dan akal yang tadinya menyimpang kini menjadi lurus, sehingga berhala ditinggalkan bahkan dihancurkan. Udara Arab dipenuhi suara-suara tauhid, adzan untuk shalat terdengan memecah angkasa dan sela-sela gurun yang telah dihidupkan iman. Para pengajar Al-Quran pergi kea rah utara dan selatan, membacakan ayat-ayat di dalam kitab Allah dan menegakkan hukum-hukum-Nya.[1]
Read the rest of this entry